
Menjadi orang tua di era digital adalah sebuah tantangan unik. Kita dibanjiri oleh begitu banyak informasi, teori, dan metode parenting ideal yang terkadang justru menciptakan tekanan. Namun, aktris dan pebisnis Nikita Willy, yang sering dianggap sebagai salah satu panutan parenting modern, hadir dengan sebuah pengingat yang jujur dan membumi: pada akhirnya, setiap anak adalah individu yang unik, dan tidak ada satu formula pun yang cocok untuk semua.
Sobat Beranjak, dalam sebuah perbincangan hangat, Nikita membagikan pengalamannya membesarkan kedua putranya, Issa Xander dan Nael Idrissa. Ia mengaku, sebagai orang tua, ia berusaha menerapkan pola asuh yang konsisten dan sama untuk keduanya. Namun, realita di lapangan menunjukkan sebuah pelajaran berharga. Respons dan karakter kedua anaknya ternyata sangat berbeda, memaksanya untuk menjadi orang tua yang lebih fleksibel, adaptif, dan jeli.
Kisah Nikita ini lebih dari sekadar berita hiburan. Ini adalah sebuah cerminan dari apa yang dihadapi oleh banyak orang tua muda dari Generasi Z dan Milenial. Ini adalah sebuah “teman diskusi” yang menenangkan, mengatakan bahwa tidak apa-apa jika rencanamu tidak berjalan mulus, karena esensi dari parenting bukanlah tentang kesempurnaan, melainkan tentang koneksi dan pemahaman.
Issa dan Nael: Dua Pribadi, Dua Pendekatan
Nikita memberikan contoh konkret yang sangat relevan. Salah satunya adalah metode latihan tidur (sleep training) yang populer. Apa yang berhasil dengan gemilang pada Issa, sang kakak, ternyata tidak serta-merta bisa diterapkan pada Nael. Perbedaan respons ini menjadi pengingat pertama bagi Nikita bahwa ia tidak sedang membesarkan “fotokopian”, melainkan dua pribadi yang berbeda.
Perbedaan signifikan lainnya muncul saat memasuki fase Makanan Pendamping ASI (MPASI). Berbekal kesuksesan dengan Issa, yang sejak awal sudah nyaman dengan metode finger food (membiarkan anak makan sendiri dengan tangannya), Nikita mencoba pendekatan serupa untuk Nael. Namun, sang adik menunjukkan preferensi yang berbeda.
Di sinilah letak kearifan Nikita sebagai seorang ibu. Alih-alih memaksakan metode yang sama, ia memilih untuk beradaptasi. Untuk Nael, ia mencoba pendekatan kombinasi, memberikan bubur sambil tetap memperkenalkan finger food secara perlahan. Menariknya, seiring berjalannya waktu, Nael yang kini berusia 10 bulan mulai menunjukkan minat yang sama dengan kakaknya, lebih menyukai makanan yang bisa ia genggam sendiri. Ini menunjukkan bahwa setiap anak memiliki garis waktu perkembangannya sendiri.
Dalam kesempatan itu, Nikita juga membagikan informasi bahwa Nael sudah berhenti mengonsumsi ASI sejak berusia 6 bulan. Sebuah keputusan yang tentu didasari oleh berbagai pertimbangan matang antara ibu dan anak.
Pelajaran Berharga untuk Orang Tua Nusantara
Kisah parenting Nikita Willy ini sejalan dengan nilai Inspiratif dan Progresif yang diusung Beranjak. Inspiratif, karena ia menunjukkan potret orang tua yang tidak kaku, mau belajar dari anak, dan tidak takut mengakui bahwa teori tidak selalu sama dengan praktik. Progresif, karena ia mempromosikan pendekatan parenting yang berpusat pada anak (child-centered), menghargai keunikan dan individualitas mereka.
Apa yang bisa kita petik dari pengalaman Nikita?
- Lepaskan Ekspektasi Kesempurnaan: Menjadi orang tua bukanlah sebuah kompetisi. Tidak apa-apa jika metode yang berhasil pada anak temanmu tidak berhasil pada anakmu. Setiap keluarga adalah sebuah tim unik dengan dinamikanya sendiri.
- Observasi adalah Kunci: Alih-alih terpaku pada buku atau panduan online, luangkan waktu untuk benar-benar mengamati dan memahami anakmu. Apa yang mereka sukai? Apa yang membuat mereka nyaman? Respons mereka adalah panduan terbaik.
- Fleksibilitas itu Kekuatan: Menjadi orang tua yang fleksibel bukan berarti tidak konsisten. Ini berarti memiliki kemampuan untuk menyesuaikan strategi demi kebaikan anak, tanpa mengorbankan nilai-nilai inti yang ingin ditanamkan.
- Hargai Setiap Anak sebagai Individu: Jangan pernah membanding-bandingkan anak, bahkan saudara kandung sekalipun. Mereka memiliki jalan, kecepatan, dan preferensi masing-masing. Tugas kita adalah menjadi fasilitator terbaik bagi perjalanan unik mereka.
Pada akhirnya, Nikita Willy menunjukkan bahwa menjadi orang tua “zaman now” bukanlah tentang mengikuti semua tren terbaru, melainkan tentang membangun hubungan yang kuat dan penuh pengertian dengan buah hati. Sebuah pelajaran berharga yang mengingatkan kita semua untuk lebih banyak mendengar dan lebih sedikit berasumsi. Karena di dalam setiap anak, tersimpan sebuah semesta yang menunggu untuk kita jelajahi.









