
Di dunia hiburan yang penuh dengan drama percintaan, patah hati seolah menjadi narasi yang tak terhindarkan. Kisah putus cinta yang penuh air mata seringkali menjadi konsumsi publik. Namun, apa jadinya jika ada seorang figur publik yang dengan tegas menyatakan bahwa ia tidak pernah—dan tidak akan pernah—mengalami patah hati? Jawabannya ada pada Chef Juna Rorimpandey.
Juri MasterChef Indonesia yang terkenal dengan citranya yang tegas, dingin, dan lugas ini kembali membuat heboh dengan pernyataannya yang tak kalah tajam dari pisau dapurnya. Dalam sebuah perbincangan santai di podcast Raditya Dika, Chef Juna tanpa tedeng aling-aling mengungkapkan pandangannya soal asmara. Ia mengaku tidak pernah sekalipun merasakan sakitnya patah hati, sebuah klaim yang langsung memicu berbagai reaksi di dunia maya.
Bagi Chef Juna, resep untuk menghindari patah hati ternyata sangat sederhana: gunakan logika. Menurutnya, terlalu larut dalam perasaan setelah sebuah hubungan berakhir adalah sebuah kebodohan, terutama bagi laki-laki. “Laki-laki patah hati, menurut gue, bego sih. Karena kalau gue lebih pakai logika,” ujarnya dengan gaya khasnya yang blak-blakan.
Filosofi ini ia jabarkan lebih lanjut dengan sebuah monolog yang menusuk namun sekaligus logis. “Hidup gue sebelum bertemu lo baik-baik saja. Gue makan, gue kerja, gue main motor. Terus ketika lo pergi, gue bakal sekarat gitu? Emang lo siapa?” lanjutnya.
Bagi Chef Juna, sebuah hubungan tidak seharusnya mendefinisikan eksistensi atau kebahagiaan seseorang secara total. Ia melihatnya sebagai sebuah kemitraan. Jika salah satu pihak pergi, bukan berarti dunianya harus ikut runtuh. Ia mencontohkan situasi di mana seorang pria ditinggalkan oleh kekasihnya yang materialistis. “Anggap aja pacaran sama cewek, ceweknya matre, kita kecintaan, ditinggal dia pindah lagi sama yang lebih kaya, lakinya patah hati? Bego,” tegasnya.
Prinsip hidup Chef Juna ternyata tidak hanya berlaku dalam urusan asmara, tetapi juga dalam menghadapi berbagai kerumitan hidup. Baginya, kunci ketenangan adalah dengan fokus pada hal-hal yang berada dalam kendali kita dan melepaskan sisanya.
“My life was fine before I met you, what makes you think I can’t breathe after without you?” kutipnya dalam Bahasa Inggris, yang bisa diartikan, “Hidupku baik-baik saja sebelum bertemu denganmu, apa yang membuatmu berpikir aku tidak bisa bernapas tanpamu?”
Kalimat ini merangkum seluruh pandangannya: kemandirian emosional adalah segalanya. “Hidup itu simpel, dengan segala kerumitan yang ada di luar, you only can control what you can control. Selebihnya, bodo amat,” pungkasnya.
Pernyataan Chef Juna ini tentu saja mengundang pro dan kontra. Sebagian warganet setuju dengan pendekatan logisnya yang dianggap sebagai bentuk self-love dan ketangguhan. Namun, tidak sedikit pula yang merasa bahwa cinta tidak bisa sepenuhnya diatur oleh logika, dan merasakan sakit setelah kehilangan adalah bagian yang sangat manusiawi dari sebuah perasaan yang tulus.
Terlepas dari perdebatan yang ada, pandangan Chef Juna ini menjadi sebuah perspektif baru yang menarik. Ia mengajak kita, Sobat Beranjak, untuk merenung kembali: sejauh mana kita harus menginvestasikan perasaan dalam sebuah hubungan, dan di mana kita harus menarik garis untuk melindungi diri kita sendiri? Sebuah “resep” dari sang chef yang mungkin tidak cocok untuk semua orang, tapi jelas memberikan bahan pemikiran yang pedas dan menggugah.









