
Ujian kepemimpinan itu bukan saat gunting pita peresmian, tapi saat rakyat lagi susah. Nah, drama politik yang lagi panas di Aceh Selatan ini contoh nyatanya. Di saat warganya lagi berjuang melawan bencana banjir bandang, pemimpinnya malah “menghilang”.
Presiden Prabowo Subianto yang dikenal tegas dan tanpa basa-basi, langsung ngasih reaksi yang bikin kuping panas. Dalam kunjungannya ke lokasi bencana di Aceh, beliau melontarkan sindiran super pedas buat Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, yang dikabarkan pergi Umrah di tengah kondisi darurat.
Apa kata Pak Presiden? Simpel tapi nusuk banget: “Lari saja enggak apa-apa.”
Yuk, kita bedah makna di balik kalimat sarkas ini!
Momen ini terjadi saat Presiden Prabowo melakukan peninjauan langsung ke posko pengungsian. Ketika mengetahui bahwa kepala daerah setempat tidak ada di tempat karena sedang Umrah, Prabowo merespons dengan nada sarkasme tingkat dewa.
“Lari saja enggak apa-apa,” ujar Prabowo singkat.
Kalimat ini bukan izin, Guys. Ini adalah sindiran keras. Artinya: “Silakan aja kabur dari tanggung jawab, rakyat dan sejarah yang akan menilai.”
Prabowo menekankan bahwa dalam situasi krisis, pemimpin harusnya jadi orang pertama yang hadir, bukan malah pergi dengan alasan apapun yang bisa ditunda. “Pemimpin itu harus ada di tengah rakyatnya saat susah,” tambah Prabowo.
Sobat Beranjak, banjir dan longsor di Aceh Selatan dan sekitarnya itu parah banget. Ribuan warga mengungsi, rumah hancur, dan akses terputus. Dalam kondisi chaos begini, kehadiran Bupati sangat krusial untuk:
- Komando: Mengambil keputusan cepat soal evakuasi dan logistik.
- Moral: Memberi semangat buat warga yang kehilangan harta benda.
Kepergian Bupati Mirwan MS untuk Umrah di waktu yang sangat tidak tepat ini jelas memicu kemarahan publik. Warga merasa ditinggalkan oleh “ayah” mereka sendiri saat rumah sedang kebakaran.
Nggak cuma Presiden yang geram, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian juga dikabarkan sudah memberikan teguran keras. Secara administrasi, kepala daerah nggak boleh sembarangan meninggalkan wilayahnya saat status tanggap darurat bencana, kecuali ada izin mendesak (dan Umrah biasanya dianggap bisa dijadwalkan ulang).
Kasus ini jadi cermin buat kita semua, terutama Generasi Nusantara yang bakal jadi pemilih cerdas.
- Red Flag: Pemimpin yang kabur saat masalah datang itu red flag banget.
- Tanggung Jawab: Jabatan itu bukan cuma soal fasilitas enak, tapi soal siap menderita bareng rakyat.
Semoga sindiran “maut” dari Pak Prabowo ini bikin sadar para pejabat lain. Jangan sampai ada lagi pemimpin yang “lari” saat rakyatnya butuh sandaran.
Pemimpin sejati itu hadir, bukan kabur!









