
Bencana banjir dan tanah longsor yang menerjang wilayah Sumatera (Aceh, Sumut, dan Sumbar) memang bikin hati kita teriris. Rumah hanyut, jalan putus, dan yang paling bikin sedih: 1.009 sekolah rusak berat. Bayangkan ribuan teman-teman kita di sana yang seragam, buku, dan kelasnya hilang ditelan lumpur.
Tapi, musibah nggak boleh jadi alasan buat pendidikan berhenti. Suara lantang datang dari Senayan, di mana Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, mendesak pemerintah untuk gercep (gerak cepat) menyelamatkan masa depan siswa terdampak.
Desakan utamanya jelas: Segera bangun sekolah darurat! Jangan biarkan anak-anak terlalu lama vakum belajar. Yuk, kita simak poin-poin penting dari usulan ini!
Abdul Fikri Faqih menegaskan bahwa pendidikan adalah prioritas yang nggak bisa ditawar, bahkan saat bencana. Kemendikdasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah) diminta untuk segera berkoordinasi dan mendirikan fasilitas belajar sementara.
“Ketika ada bencana alam seperti ini, kita harus selamatkan lebih dulu tempat-tempat belajar, karena pendidikan itu menyiapkan masa depan anak-anak kita,” tegas Fikri.
Sekolah darurat ini bisa berupa tenda-tenda pleton yang disulap jadi kelas, atau memanfaatkan bangunan fasilitas umum yang masih aman. Intinya, kegiatan belajar mengajar (KBM) harus tetap jalan, meskipun dengan fasilitas seadanya.
Sobat Beranjak, sekolah darurat itu fungsinya bukan cuma buat ngejar materi kurikulum, lho. Yang lebih penting adalah Trauma Healing.
Anak-anak yang baru saja kehilangan rumah atau bahkan orang terkasih pasti mengalami guncangan psikologis. DPR menyarankan agar Kemendikdasmen menggandeng Kementerian Sosial dan kampus-kampus (psikologi) untuk menghadirkan metode pembelajaran yang fun dan menyembuhkan.
“Perlu dilakukan upaya penyembuhan trauma… melalui pembelajaran yang menyenangkan di sekolah-sekolah darurat,” tambah Fikri. Jadi, sekolah jadi tempat aman (safe space) buat mereka kembali tersenyum.
Gimana kalau internet mati dan akses jalan putus? Fikri menyarankan agar pemerintah nggak cuma ngandelin PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) online. Realistis aja, sinyal pasti down.
Solusinya: Siapkan modul fisik. Buku-buku cetak dan alat tulis harus segera dikirim ke lokasi pengungsian. Pemerintah juga didorong untuk mengakses Dana Siap Pakai (DSP) dari BNPB karena anggaran rutin kementerian pasti nggak cukup buat cover kerusakan masif ini.
Usulan ini sangat masuk akal dan mendesak. Pendidikan adalah satu-satunya “tiket” masa depan bagi anak-anak korban bencana untuk bangkit dari keterpurukan.
Buat Sobat Beranjak yang punya rezeki lebih, donasi alat tulis atau buku bacaan bisa jadi cara konkret buat bantu mereka, lho. Yuk, pastikan hak pendidikan teman-teman kita di Sumatera tetap terjaga!
Pendidikan adalah harapan, mari kita jaga nyalanya!









