Guru Zaman Now Harus Jago Ngonten! Puluhan Pendidik di Sumsel ‘Upgrade’ Skill Bikin Video Edukatif

Siapa bilang guru cuma bisa ceramah di depan kelas sambil pegang kapur? Di era di mana TikTok dan YouTube jadi “sahabat” sehari-hari siswa, cara mengajar pun wajib berevolusi. Kalau gurunya gaptek, bisa-bisa muridnya auto-ngantuk di kelas.

Nah, kabar keren datang dari dunia pendidikan Sumatera Selatan. Sebanyak 40 guru baru saja mengikuti Diklat (Pendidikan dan Pelatihan) khusus yang materinya relate banget sama anak muda: Pembuatan Konten Edukatif dan Peningkatan Kompetensi Guru.

Ini bukan sekadar pelatihan biasa, tapi langkah nyata biar guru-guru kita makin pro menghadapi tantangan Generasi Z dan Alpha. Yuk, kita intip keseruannya!

Tujuan utama dari diklat ini jelas: mengubah mindset dan metode mengajar. Di zaman serba digital, guru dituntut untuk bisa menjadi kreator konten. Materi pelajaran yang “berat” harus bisa dikemas menjadi video atau visual yang menarik, ringkas, dan gampang dicerna.

Bayangkan kalau rumus Fisika atau sejarah kerajaan dijelaskan lewat video animasi pendek atau storytelling yang seru. Pasti Sobat Beranjak bakal lebih cepat paham, kan? Inilah skill yang sedang diasah oleh bapak-ibu guru kita.

Selain belajar teknis bikin konten, para guru juga diperkenalkan dengan metode Integrasi Pendekatan Deep Learning.

Eits, ini bukan soal robot AI ya. Dalam konteks pendidikan, Deep Learning bertujuan untuk mengajak siswa:

  1. Berpikir Kritis: Nggak cuma hafal mati, tapi paham “kenapa” dan “bagaimana”.
  2. Pemecahan Masalah: Melatih siswa cari solusi, bukan cuma terima jadi.
  3. Pemahaman Mendalam: Belajar sampai ke akar-akarnya, bukan cuma kulit luarnya aja.

“Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam merancang proses pembelajaran yang mendorong pemikiran kritis,” ujar pihak penyelenggara. Jadi, output-nya bukan cuma nilai bagus di kertas, tapi skill hidup yang nyata.

Langkah ini patut kita apresiasi setinggi langit. Ketika guru mau belajar hal baru dan beradaptasi dengan teknologi, yang paling diuntungkan adalah kita, para siswa. Suasana kelas jadi lebih hidup, interaktif, dan jauh dari kata membosankan.

Semoga ilmu dari diklat ini segera dipraktikkan di sekolah-sekolah ya! Kita tunggu konten-konten edukatif keren dari bapak-ibu guru di beranda media sosial kita.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait