“Save BKB” Menggema! Gedung 7 Lantai RS AK Gani Dianggap “Perusak” Wajah Sejarah Palembang, Kok Bisa Lolos?

Coba bayangkan kamu lagi asik nongkrong sore di pelataran Benteng Kuta Besak (BKB), menikmati angin Sungai Musi sambil vibing dengan suasana sejarah Palembang yang kental. Tapi tiba-tiba, pandangan estetik itu terganggu oleh sebuah gedung modern menjulang tinggi yang seolah “nggak nyambung” sama lingkungannya. Mood breaker banget, kan?

Kekhawatiran inilah yang sedang memicu gelombang protes keras dari para sejarawan, budayawan, dan pecinta cagar budaya di Palembang. Pemicunya adalah proyek pembangunan gedung baru Rumah Sakit (RS) dr. AK Gani setinggi 7 lantai yang berlokasi tepat di dalam kawasan inti sejarah BKB.

Kenapa proyek ini bikin geger dan dianggap ancaman serius? Yuk, kita bedah bareng-bareng!

Sejarawan Universitas Sriwijaya, Prof. Dr. Farida R. Wargadalem, nggak main-main dalam menyuarakan kritiknya. Menurutnya, pembangunan ini bukan cuma soal estetika, tapi soal komitmen.

Ia mengingatkan bahwa pada tahun 2022, sudah ada pertemuan antara sejarawan, budayawan, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Sumsel, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta perwakilan Kodam II Sriwijaya. Dalam pertemuan itu, ada kesepahaman untuk menjaga integritas kawasan BKB.

Namun, proyek gedung 7 lantai ini disebut muncul secara tiba-tiba tanpa dialog lanjutan. “Ini melanggar kesepakatan,” tegasnya. Pembangunan vertikal di zona inti cagar budaya dianggap mencederai nilai historis BKB sebagai simbol kejayaan Kesultanan Palembang.

Bukan cuma soal visual yang “kebanting”, Sobat Beranjak. Ada ancaman teknis yang lebih serius di balik pembangunan gedung jangkung ini.

Dedi Irwanto, sejarawan yang juga vokal dalam isu ini, menyoroti penggunaan pondasi besar seperti pasak bumi. Getaran dan beban dari konstruksi gedung 7 lantai dikhawatirkan bisa merusak struktur tanah kawasan BKB yang merupakan situs sejarah sensitif. Ingat, di bawah tanah BKB mungkin masih tersimpan jejak arkeologis yang belum terungkap!

“Harus ada antisipasi agar tidak merusak cagar budaya. Yang paling penting adalah meninjau kembali apakah pembangunan rumah sakit setinggi itu benar-benar diperlukan,” ujar Dedi.

Kita semua setuju kalau fasilitas kesehatan itu penting. Tapi, apakah harus mengorbankan identitas sejarah kota?

Para pemerhati budaya khawatir, jika pembiaran ini terus terjadi, BKB pelan-pelan akan “tenggelam” dan terdesak oleh bangunan-bangunan modern. Karakter aslinya akan hilang, dan anak cucu kita nanti mungkin cuma bisa lihat kemegahan BKB dari foto lama.

Sudah saatnya ada duduk bareng yang serius antara Pemerintah Pusat, Provinsi, Kota, dan TNI (sebagai pengelola aset RS) untuk mencari jalan tengah. Solusinya bisa macam-macam: pindahkan lokasi gedung baru, atau desain ulang agar tidak menjulang tinggi dan merusak skyline kawasan cagar budaya.

Sebagai anak muda Palembang, kita punya peran lho untuk menjaga warisan kota ini.

  1. Melek Sejarah: Pahami bahwa BKB bukan cuma tempat event atau pasar malam, tapi situs cagar budaya tingkat nasional yang harus dijaga.
  2. Kawal Pembangunan: Kritis terhadap tata kota itu perlu. Jangan sampai pembangunan modern malah menghapus jejak sejarah yang bikin Palembang unik.

Modern itu boleh, tapi jangan sampai kita jadi bangsa yang lupa akar sejarah. Yuk, dukung upaya pelestarian BKB biar tetap jadi kebanggaan Palembang!

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait