
Siapa di sini yang ngerasa kalau sehari aja off dari Instagram atau Facebook, hidup jadi lebih tenang? Ternyata perasaan itu bukan cuma sugesti, lho. Sebuah dokumen hukum terbaru mengungkap fakta mengejutkan tentang raksasa media sosial, Meta, dan bos besarnya, Mark Zuckerberg.
Dunia teknologi lagi geger. Zuckerberg diduga sengaja menyembunyikan alias “menghilangkan” barang bukti penting dalam sebuah gugatan besar di Amerika Serikat. Bukti apa itu? Riset internal yang menunjukkan bahwa produk mereka sendiri (Facebook dan kawan-kawannya) berbahaya bagi kesehatan mental kita, terutama remaja.
Yuk, kita bedah skandal “Project Mercury” yang bikin Meta ketar-ketir ini!
Cerita bermula dari sebuah proyek riset tahun 2020 yang diberi kode “Project Mercury”. Dalam proyek ini, ilmuwan Meta bekerja sama dengan perusahaan survei Nielsen untuk melihat apa dampaknya kalau orang berhenti main Facebook.
Hasilnya? Cukup menampar. “Orang-orang yang berhenti menggunakan Facebook selama satu minggu melaporkan penurunan rasa depresi, kecemasan, kesepian, serta perbandingan sosial,” tulis dokumen internal tersebut.
Alih-alih menggunakan data ini untuk memperbaiki platform mereka, Meta malah diduga menghentikan proyek tersebut. Alasannya klise: metodologinya dianggap cacat atau terkontaminasi narasi negatif media. Padahal, staf internal mereka sendiri mengakui hasilnya valid.
Yang lebih bikin geram, dalam dokumen gugatan yang diajukan oleh firma hukum Motley Rice, terungkap sebuah pesan teks dari Mark Zuckerberg pada tahun 2021. Dalam pesan itu, Zuckerberg disebut menolak usulan penambahan dana untuk divisi keamanan anak.
Alasannya? Keamanan anak dianggap bukan prioritas utama karena Zuckerberg lagi sibuk-sibuknya fokus pada proyek ambisiusnya: Metaverse.
Bahkan, Meta dituduh sengaja merancang fitur keamanan untuk remaja agar tidak efektif dan jarang digunakan. Mereka juga dituduh memblokir pengujian fitur keamanan yang dikhawatirkan bisa menghambat pertumbuhan pengguna. Jadi, cuan di atas keselamatan?
Tentu saja, Meta nggak tinggal diam. Juru bicara Meta, Andy Stone, membantah keras tuduhan ini. Ia mengklaim bahwa perusahaan tidak pernah menyembunyikan bukti atau mengabaikan keselamatan remaja.
“Kami sangat tidak setuju dengan tuduhan ini, yang mengandalkan kutipan yang dipilih secara sepihak dan opini yang keliru,” ujar Stone. Menurutnya, Meta sudah melakukan banyak perubahan nyata selama satu dekade terakhir untuk melindungi pengguna muda.
Sobat Beranjak, kasus ini masih akan bergulir panjang di pengadilan Distrik California Utara mulai Januari nanti. Tapi, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil sekarang juga.
- Validasi Perasaanmu: Kalau kamu merasa medsos bikin kamu insecure atau cemas, itu valid. Bahkan riset internal mereka pun mengakuinya.
- Digital Detox: Nggak ada salahnya ambil jeda. Riset “Project Mercury” membuktikan, seminggu tanpa medsos bisa bikin mental lebih sehat.
- Kritis Terhadap Platform: Jangan telan mentah-mentah fitur atau klaim keamanan dari big tech. Kitalah yang harus pegang kendali atas konsumsi digital kita.
Skandal ini adalah pengingat keras bahwa di balik layar biru yang kita scroll tiap hari, ada bisnis raksasa yang mungkin tidak selalu menempatkan kesejahteraan kita sebagai prioritas nomor satu.









