
Jujur deh, siapa yang belakangan ini jadi was-was kalau lewat jalanan Palembang? Belum hilang ingatan kita tentang tragedi pemalakan brutal yang menewaskan seorang sopir truk di Simpang Macan Lindungan, kini “teror” serupa menghantui titik lain. Kali ini, sorotan tertuju pada kawasan Simpang Tiga Bypass Soekarno-Hatta – Alang-Alang Lebar, yang kabarnya makin rawan dengan aksi pemalakan berkedok pengamen.
Fenomena ini bukan cuma bikin resah sopir truk, tapi juga kita semua yang sehari-hari melintas. Palembang yang harusnya jadi kota ramah dan aman, kok rasanya pelan-pelan jadi “Gotham City” ya? Yuk, kita bedah situasinya biar kita bisa lebih waspada!
Modus Lama: Pengamen Gadungan yang Maksa
Berdasarkan pantauan lapangan pada Selasa (25/11/2025), pemandangan di traffic light Bypass Soekarno-Hatta cukup bikin geleng-geleng kepala. Sekelompok orang—mulai dari pria dewasa, wanita, hingga mirisnya, anak-anak di bawah umur—tampak berkerumun mendatangi kendaraan yang sedang berhenti karena lampu merah.
Modusnya klasik tapi intimidatif. Mereka berpura-pura mengamen, tapi bukannya menghibur, mereka malah cuma tepuk tangan asal-asalan. Kalau nggak dikasih uang? Mereka mulai mengetuk kaca, menggedor pintu, atau menempelkan tubuh ke kendaraan.
Yang bikin ngeri, mereka beraksi secara berkelompok. “Tidak jarang, jika satu orang peminta diberi uang, teman-temannya langsung ikut menyerbu kendaraan tersebut,” tulis laporan Sumeks.co. Kebayang kan paniknya sopir truk atau pengendara mobil pribadi, apalagi kalau lewat di malam hari yang gelap?
Sobat Beranjak mungkin bertanya, “Polisinya ke mana?”
Sebenarnya, aparat kepolisian sudah sering melakukan patroli dan penertiban. Tapi, para pelaku ini sepertinya punya radar sendiri. Saat polisi datang, mereka bubar dan sembunyi. Begitu polisi pergi, mereka balik lagi ke jalanan. Istilahnya, main “kucing-kucingan”.
Ini menunjukkan bahwa masalah premanisme di Palembang bukan sekadar kriminalitas biasa, tapi sudah jadi masalah sosial yang mengakar. Mungkin ada faktor ekonomi, pengangguran, atau kurangnya efek jera yang membuat mereka nekat kembali lagi meski sudah sering dirazia.
Sobat Beranjak, masalah ini bukan cuma soal recehan yang diminta paksa. Ini soal rasa aman dan citra kota kita. Palembang adalah gerbang Sumatera Selatan. Kalau sopir logistik dari luar kota saja takut lewat sini, bagaimana ekonomi mau lancar? Bagaimana wisatawan mau nyaman datang ke Palembang kalau image-nya serem begini?
Sebagai Generasi Nusantara, kita nggak bisa tinggal diam.
- Tetap Waspada: Kunci pintu mobil dan tutup kaca rapat saat berhenti di lampu merah, terutama di titik-titik rawan seperti Macan Lindungan dan Bypass Soekarno-Hatta.
- Jangan Takut Lapor: Kalau melihat aksi pemalakan atau merasa terancam, segera hubungi layanan darurat kepolisian atau manfaatkan fitur Bantuan Polisi yang ada di aplikasi.
- Dorong Solusi Permanen: Kita butuh solusi jangka panjang dari pemerintah. Bukan cuma razia, tapi juga pembinaan sosial, penerangan jalan yang memadai, dan pengawasan CCTV 24 jam di titik rawan.
Semoga pihak berwenang bisa segera menemukan formula jitu untuk memberantas penyakit masyarakat ini sampai ke akarnya. Kita rindu Palembang yang aman, nyaman, dan zero premanisme!









