
Siapa di sini yang setuju kalau petani adalah pahlawan pangan bangsa? Mereka yang bekerja keras di bawah terik matahari demi memastikan piring kita selalu terisi nasi. Tapi sayangnya, jerih payah mereka seringkali terancam oleh ulah oknum tak bertanggung jawab yang hobi menyelundupkan pangan dari luar negeri.
Kabar baiknya, pemerintah nggak tinggal diam! Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman baru saja melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke Pelabuhan Sabang, Aceh, dan menemukan “harta karun” ilegal berupa 250 ton beras impor. Tanpa basa-basi, gudang tersebut langsung disegel!
Yuk, kita simak kronologi dan alasan kenapa langkah tegas ini penting banget buat masa depan petani lokal kita.
Berdasarkan laporan yang diterima, Mentan Amran langsung terbang ke Aceh untuk memverifikasi kabar masuknya beras impor tanpa izin. Benar saja, ditemukan ratusan ton beras asal luar negeri yang masuk secara ilegal.
Langkah cepat pun diambil. Mentan langsung berkoordinasi dengan Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, serta aparat kepolisian setempat. Hasilnya? Penyegelan langsung dilakukan di tempat.
“Begitu laporan masuk, saya langsung menelepon Gubernur Aceh… Tidak boleh ada toleransi untuk tindakan ilegal seperti ini. Kalau tidak ada izin impor, titik,” tegas Amran di Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Sobat Beranjak mungkin bertanya, “Sayang banget berasnya disegel, kan bisa dimakan?”
Eits, tunggu dulu. Masalahnya bukan soal berasnya bisa dimakan atau tidak, tapi soal dampaknya.
- Merusak Harga Petani: Saat beras impor ilegal membanjiri pasar dengan harga murah, harga gabah petani lokal bisa anjlok. Kasihan kan, sudah panen capek-capek tapi harganya jatuh?
- Stok Nasional Aman: Mentan menegaskan bahwa stok beras kita saat ini sangat aman. Produksi nasional mencapai 34,7 juta ton (tertinggi dalam beberapa tahun terakhir), dan stok Bulog ada di angka 3,8 juta ton. Bahkan, Aceh dan Sabang sendiri sedang surplus beras!
- Penegakan Hukum: Impor tanpa izin itu melanggar hukum dan mencederai kedaulatan pangan kita.
Langkah tegas ini bukan cuma aksi one man show. Mentan menggandeng Kapolda Aceh, Kabareskrim Polri, hingga Pangdam Iskandar Muda. Ini menunjukkan bahwa negara hadir dan kompak untuk memberantas mafia pangan yang merugikan rakyat kecil.
Mentan juga menemukan kejanggalan, di mana permohonan impor sebenarnya sudah ditolak dalam rapat koordinasi pusat, tapi izin dari negara asal (Thailand) malah sudah keluar duluan. Mencurigakan banget, kan?
Sobat Beranjak, sebagai generasi muda, kita punya peran penting lho. Salah satunya dengan bangga mengonsumsi produk lokal. Beras hasil petani kita nggak kalah kualitasnya kok sama beras impor.
Dengan membeli produk lokal, kita ikut menjaga senyum 160 juta petani Indonesia agar tetap semangat menanam. Mari kita dukung terus upaya pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan dan memberantas praktik-praktik curang yang merugikan bangsa.









