Bukan Minyak Lagi! Elon Musk dan Raksasa Tech Dunia Antre Demi “Harta Karun” Baru di Arab Saudi

Dulu, kalau bicara soal Arab Saudi, yang terbayang pasti padang pasir, unta, dan sumur minyak yang tak ada habisnya. Tapi, itu cerita lama. Sekarang, di bawah visi Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), negeri petrodolar ini sedang bertransformasi gila-gilaan menjadi pusat teknologi masa depan.

Buktinya? Baru-baru ini, deretan orang terkaya dunia, mulai dari Elon Musk (Tesla/xAI) hingga Jensen Huang (Nvidia), ramai-ramai mendekati sang Pangeran Arab. Mereka bukan mau beli minyak, tapi mengincar proyek raksasa yang bakal mengubah peta teknologi dunia: Pusat Data Artificial Intelligence (AI).

Yuk, kita bedah kenapa para miliarder teknologi ini rela “pedekate” sama Pangeran MBS dan apa dampaknya buat masa depan teknologi global!

Sobat Beranjak pasti tahu kalau AI itu rakus banget. Bukan rakus makanan, tapi rakus listrik dan ruang penyimpanan data (data center).

Di Amerika Serikat, ekspansi perusahaan AI mulai mentok karena mahalnya biaya energi dan terbatasnya lahan. Nah, di sinilah Arab Saudi masuk sebagai penyelamat. Mereka punya modal tak terbatas, lahan luas, dan sumber energi murah yang melimpah.

Inilah yang bikin Elon Musk kepincut. Dalam forum investasi AS-Saudi di Washington, Rabu (19/11/2025), Musk mengumumkan kerja sama strategis antara perusahaannya, xAI, dengan Humain, perusahaan AI milik Arab Saudi.

Nggak tanggung-tanggung, Musk berencana membangun pusat data berkapasitas 500 megawatt di Arab Saudi. Ini akan menjadi markas besar pertama xAI di luar Amerika Serikat.

“Ini adalah masa depan kecerdasan rekayasa melalui komputasi masif dan efisien yang dipadukan dengan model AI tercanggih,” ujar Musk penuh percaya diri.

Pusat data ini nantinya bakal ditenagai oleh chip super canggih dari Nvidia. Jadi, nggak heran kalau Jensen Huang (Bos Nvidia) juga ikutan hadir di sana. Bayangkan, chatbot Grok milik Musk bakal disebar ke seluruh penjuru Arab Saudi. Ini benar-benar lompatan teknologi yang masif!

Ternyata bukan cuma Musk yang “gercep”. Raksasa teknologi lain seperti Amazon Web Services (AWS) juga nggak mau ketinggalan kereta. Mereka mengumumkan rencana pembangunan pusat data 100 megawatt di Riyadh, dengan ambisi meningkatkannya hingga skala gigawatt.

AWS bahkan berencana menyediakan hingga 150.000 akselerator AI di ibu kota Arab Saudi tersebut. Ini sinyal kuat bahwa Riyadh sedang bersiap menjadi “Silicon Valley” baru di Timur Tengah.

Hubungan ini bukan cuma soal duit dan teknologi, tapi juga politik. Bagi Pangeran MBS, investasi jor-joran ini adalah cara ampuh untuk memulihkan citra Arab Saudi di mata dunia, khususnya di Amerika Serikat, setelah sempat tegang karena kasus Jamal Khashoggi.

Dalam pertemuan dengan Presiden Donald Trump di Oval Office, Pangeran MBS bahkan sesumbar akan meningkatkan investasi negaranya di AS hingga US$ 1 triliun! Angka yang fantastis ini tentu bikin Trump sumringah.

Pergerakan ini mengajarkan kita satu hal: Data dan AI adalah “minyak baru”. Negara yang menguasai infrastruktur AI akan memimpin dunia di masa depan.

Arab Saudi sadar minyak bumi suatu saat akan habis atau ditinggalkan, makanya mereka banting setir ke teknologi. Ini lesson learned banget buat Indonesia. Kita juga punya potensi energi terbarukan yang besar. Jangan sampai kita cuma jadi pasar pengguna AI, tapi harus berani jadi pemain seperti yang dilakukan Arab Saudi.

Gimana menurutmu, Sobat Beranjak? Siap nggak kita bersaing di era AI yang makin “mahal” ini?

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait