
Papua itu indah banget, setuju kan? Dari Raja Ampat sampai pegunungan Jayawijaya, pesonanya nggak ada obat. Tapi, di balik keindahan alamnya yang memukau, ada tantangan besar yang harus dihadapi saudara-saudara kita di sana: aksesibilitas.
Di Papua, pesawat bukan sekadar alat transportasi mewah, tapi “napas” kehidupan. Banyak daerah yang cuma bisa dijangkau lewat udara karena medan pegunungan yang ekstrem. Nah, kabar baiknya, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) baru saja mengumumkan langkah serius untuk bikin langit Papua makin aman dan nyaman buat penerbangan.
Yuk, kita simak apa saja gebrakan yang sedang dilakukan Kemenhub demi keselamatan “burung besi” di Tanah Papua!
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F. Laisa, menegaskan bahwa Papua punya karakteristik geografis yang nggak main-main. Cuaca yang cepat berubah dan landasan pacu di pegunungan yang menantang butuh penanganan khusus.
“Papua memiliki karakteristik geografis dan operasional yang unik. Karena itu, kualitas pengawasan di wilayah ini harus dijalankan dengan ketelitian dan disiplin yang tinggi,” ujar Lukman di Jakarta, Minggu (23/11/2025).
Untuk itu, Kemenhub baru saja menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Sentani, Papua. Tujuannya jelas: menyatukan visi semua pihak—dari Otoritas Bandara, maskapai, hingga navigasi—agar satu frekuensi dalam menjaga keselamatan penerbangan.
Apa saja sih yang bakal diperbaiki? Kemenhub fokus pada tiga pilar utama:
- Peningkatan Standar Operasional: Nggak ada lagi cerita “asal terbang”. Semua prosedur harus sesuai regulasi ketat.
- Fasilitas Navigasi: Alat bantu navigasi dan komunikasi bakal diperkuat biar pilot bisa terbang dengan lebih pede dan aman, meski cuaca lagi nggak bersahabat.
- Koordinasi Lintas Sektor: Sinergi antara bandara, pemda, dan aparat keamanan dipererat.
Ini poin yang paling menyentuh, Sobat Beranjak. Penerbangan perintis (pesawat kecil yang masuk ke pedalaman) adalah pahlawan tanpa tanda jasa di Papua. Mereka yang bawa sembako, obat-obatan, sampai jemput warga yang sakit.
Kemenhub memastikan subsidi untuk penerbangan perintis ini tepat sasaran. Penetapan rute baru untuk 2025-2026 sudah disesuaikan dengan kebutuhan riil masyarakat di daerah terisolir. Bahkan, subsidi angkutan BBM juga disiapkan biar pesawat bisa tetap terbang ke bandara-bandara kecil yang nggak punya depo bahan bakar.
“Program penerbangan perintis penumpang dan kargo memastikan masyarakat Papua tetap memiliki akses pangan, layanan kesehatan, dan ruang untuk beraktivitas ekonomi,” tambah Lukman.
Langkah Kemenhub ini adalah angin segar bagi pembangunan Indonesia Sentris. Dengan penerbangan yang lebih aman dan andal, ekonomi Papua bisa tumbuh lebih cepat. Pariwisata bisa bangkit, harga barang di pedalaman bisa lebih stabil, dan yang terpenting: saudara kita di Papua bisa bepergian dengan tenang tanpa rasa was-was.
Yuk, kita dukung terus upaya pemerataan pembangunan ini. Karena Papua adalah bagian tak terpisahkan dari mimpi besar Indonesia Emas.









