
Siapa di sini yang setuju kalau makanan enak itu penting, tapi makanan aman itu wajib? Apalagi kalau makanannya buat adik-adik kita di sekolah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang lagi hits ini memang jadi angin segar buat perbaikan gizi anak bangsa. Tapi, jangan sampai niat baik ini malah jadi petaka gara-gara urusan kebersihan dapur yang seadanya.
Nah, kabar baik datang dari Kalimantan Timur (Kaltim). Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kaltim baru saja mengeluarkan “ultimatum” positif buat para penyedia katering MBG. Mereka nggak main-main soal standar kebersihan!
Yuk, kita simak apa saja langkah tegas yang diambil biar makanan yang sampai ke perut siswa benar-benar aman dan bergizi.
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan bahwa seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau penyedia katering wajib mengantongi Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
“Tentu kita menurunkan tim untuk melakukan inspeksi guna memitigasi ke depan agar para siswa tak dirugikan,” ujar Jaya di Samarinda, Sabtu (22/11/2025).
Jadi, Sobat Beranjak, sertifikat ini bukan sekadar pajangan dinding ya. Ini adalah jaminan bahwa dapur tempat masak tersebut bebas dari bakteri jahat atau bahan kimia berbahaya. Kebijakan ini sudah tertuang resmi dalam Surat Edaran Dinkes, jadi nggak ada alasan buat penyedia katering buat ngeyel.
Gimana cara ngeceknya? Dinkes Kaltim mengerahkan tim gabungan yang isinya para ahli gizi dan petugas kesehatan lingkungan. Mereka bakal jadi “detektif” yang memeriksa setiap sudut dapur.
Apa saja yang diperiksa?
- Sanitasi Air: Air yang dipakai masak dan cuci piring harus bersih dan layak.
- Peralatan Masak: Panci, wajan, dan alat makan nggak boleh jorok atau karatan.
- Ventilasi: Sirkulasi udara di dapur harus bagus biar nggak lembap dan jadi sarang jamur.
- Rantai Pasok: Bahan baku kayak sayur dan daging dicek dari mana belinya sampai cara simpannya di kulkas.
“Upaya preventif ini sangat krusial mengingat risiko keracunan massal bisa terjadi kapan saja, jika prosedur keamanan pangan diabaikan,” tegas Jaya. Seram juga kan kalau sampai kejadian? Makanya pencegahan itu nomor satu!
Selain sidak dan inspeksi, Pemprov Kaltim juga peduli sama skill SDM-nya. Para juru masak atau penjamah makanan diberikan pelatihan intensif.
Sobat Beranjak mungkin mikir, “Ah, masak doang mah gampang.” Eits, tunggu dulu. Di sini mereka diajari teknik yang benar, mulai dari cara mencuci bahan pangan biar pestisidanya hilang, sampai teknik memasak yang nggak merusak kandungan gizi. Jadi, wortel yang dimakan adik-adik kita tetap kaya vitamin, bukan cuma ampas.
Meskipun program MBG ini secara teknis di bawah Badan Gizi Nasional (BGN), Dinkes Kaltim merasa punya tanggung jawab moral buat melindungi konsumen (dalam hal ini para siswa). Mereka juga sudah siapin sistem gerak cepat (rapid response) bareng Puskesmas dan Rumah Sakit kalau amit-amit ada kasus gangguan kesehatan.
Nah, kita sebagai masyarakat juga bisa ambil peran, lho! Jaya Mualimin mengajak publik untuk ikut mengawasi. Kalau Sobat Beranjak melihat ada menu makanan siswa yang mencurigakan (basi, bau, atau kotor), jangan ragu buat lapor ke fasilitas kesehatan terdekat.
Mari kita dukung terus upaya ini. Karena makanan yang sehat adalah fondasi buat Generasi Nusantara yang cerdas dan kuat!









