
Pernahkah kamu merasa pengeluaran bulanan tiba-tiba membengkak lebih besar daripada pemasukan, sampai-sampai harus merogoh tabungan darurat? Nah, bayangkan situasi itu terjadi pada skala yang jauh lebih besar: negara kita.
Kabar terbaru datang dari dunia ekonomi makro yang mungkin terdengar “berat”, tapi sebenarnya sangat berdampak pada masa depan karier dan dompet kita. Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) baru saja memberikan “sinyal kuning” bagi Indonesia terkait proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diprediksi bakal melebar pada 2025-2026.
Pesan utamanya jelas: Indonesia harus ekstra hati-hati mengelola fiskal (keuangan negara) agar tetap stabil di tengah guncangan ekonomi global. Yuk, kita bedah apa maksudnya dan kenapa ini relevan buat Generasi Nusantara!
Dalam laporan terbarunya usai Konsultasi Pasal IV 2025 di Jakarta, tim IMF yang dipimpin oleh Maria Gonzalez mengungkapkan data yang cukup menyita perhatian. Mereka memproyeksikan defisit fiskal Indonesia akan menyentuh angka 2,8% dari PDB (Produk Domestik Bruto) pada tahun 2025, dan naik tipis menjadi 2,9% pada 2026.
Kenapa angka ini jadi sorotan? Karena proyeksi IMF tersebut lebih tinggi dibandingkan target optimistis pemerintah kita sendiri, yang berasumsi defisit bisa ditekan di angka 2,7% pada APBN 2026.
Secara sederhana, defisit terjadi ketika belanja negara lebih besar daripada pendapatannya. Meski defisit itu wajar dalam pembangunan, jika angkanya terus melebar mendekati batas aman (3%), risiko ekonominya juga meningkat. “Proyeksi ini mencerminkan pertumbuhan dan penerimaan negara yang lebih konservatif dibandingkan asumsi dalam APBN,” jelas Maria Gonzalez.
IMF menyoroti dua faktor utama yang menjadi tantangan:
- Tekanan Penerimaan Negara: Pemasukan negara (seperti pajak dan bea cukai) mungkin tidak sederas yang diharapkan.
- Lingkungan Eksternal yang Menantang: Situasi ekonomi global yang tidak pasti, seperti ketegangan perdagangan dan fluktuasi pasar keuangan, bisa menghambat pertumbuhan kita.
Jadi, meskipun ekonomi Indonesia dinilai masih tangguh dengan proyeksi pertumbuhan stabil di angka 5,0% (2025) dan 5,1% (2026), kita tidak boleh terlena. Risiko global masih “condong ke sisi negatif”, yang artinya ancaman eksternal bisa datang sewaktu-waktu.
Mungkin kamu bertanya, “Terus apa hubungannya sama aku yang cuma karyawan atau mahasiswa?”
Hubungannya sangat erat, Sobat Beranjak! Jika pengelolaan fiskal tidak hati-hati dan defisit tidak terkendali, kepercayaan investor asing bisa menurun. Jika investor kabur, nilai tukar Rupiah bisa melemah.
Efek dominonya?
- Barang impor (gadget, komponen elektronik, bahkan bahan baku skincare) bisa jadi lebih mahal.
- Bunga kredit mungkin naik, membuat cicilan rumah atau modal usaha startup jadi lebih berat.
- Lapangan kerja baru bisa terhambat karena perusahaan menahan ekspansi.
Itulah mengapa IMF menyarankan agar pemerintah menjaga “ruang fiskal”. Tujuannya supaya jika ada krisis dadakan (seperti pandemi atau perang dagang), negara masih punya dana cadangan untuk melindungi rakyatnya.
Kabar baiknya, IMF menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) yang melonggarkan suku bunga dan menjaga likuiditas sudah tepat untuk mendorong kredit. Namun, untuk jangka panjang, IMF menyarankan Indonesia melakukan “reformasi struktural” yang lebih ambisius.
Apa saja “PR” kita menurut IMF?
- Penguatan Infrastruktur: Agar logistik lebih murah dan efisien.
- Pengurangan Hambatan Perdagangan: Mempermudah ekspor-impor.
- Perbaikan Tata Kelola: Mengurangi inefisiensi dan korupsi.
Maria Gonzalez menegaskan bahwa Indonesia punya peluang besar menjadi negara berpenghasilan tinggi (high-income country) pada 2045 alias saat Indonesia Emas nanti. Tapi syaratnya, kita harus disiplin mulai sekarang. “Menjaga risiko fiskal tetap terkendali memerlukan pengelolaan fiskal yang berkelanjutan,” tambahnya.









