
Di era globalisasi yang serba terkoneksi ini, kolaborasi adalah kunci. Kabar baik datang dari ranah diplomasi dan kesehatan publik kita. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) baru saja mengambil langkah strategis untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Tunisia. Pertemuan penting ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah sinyal kuat bahwa gerbang perdagangan dan pertukaran kualitas produk antara kedua negara akan semakin terbuka lebar.
Pada Selasa (18/11/2025), Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menerima kunjungan Duta Besar Tunisia untuk Indonesia, Mohamed Trabelsi, di Jakarta. Pertemuan ini berlangsung konstruktif dengan satu fokus utama: penguatan kerja sama di bidang pangan, kosmetik, dan farmasi.
Mengapa ini penting bagi kita, Generasi Nusantara? Seringkali, hambatan terbesar dalam perdagangan internasional bukanlah jarak, melainkan perbedaan regulasi. Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak sepakat untuk melakukan harmonisasi regulasi. Artinya, BPOM berkomitmen untuk mempermudah alur masuk produk-produk berkualitas dari Tunisia, selama memenuhi standar keamanan yang berlaku di Indonesia.
“Apapun produk dari Tunisia, khususnya makanan, jika rakyat Indonesia membutuhkannya, kami siap memberikan fasilitasi. Tidak ada masalah selama kualitasnya baik,” tegas Taruna Ikrar. Pernyataan ini menegaskan posisi Indonesia yang terbuka namun tetap prudent (berhati-hati) dalam menjaga keamanan konsumen.
Salah satu poin menarik dari pertemuan ini adalah inisiatif proaktif dari BPOM. Tidak hanya menunggu di pintu gerbang, BPOM menyatakan kesiapannya untuk mengirimkan tim ahli langsung ke Tunisia. Tujuannya? Melakukan evaluasi dan sertifikasi Good Manufacturing Practices (GMP) atau Cara Pembuatan Obat/Makanan yang Baik di fasilitas produksi di sana.
“Kami bisa datang ke fasilitas produksi Anda untuk memberikan sertifikasi GMP. Jika sudah memenuhi standar, kami bisa langsung menerbitkan sertifikat untuk impor ke Indonesia,” jelas Taruna.
Langkah “jemput bola” ini menunjukkan bahwa birokrasi kita semakin modern dan berorientasi pada solusi (solution-oriented). Bagi Sobat Beranjak yang menggeluti dunia bisnis atau startup, ini adalah contoh nyata bagaimana regulator bisa berperan sebagai enabler (pemungkin) bisnis, bukan sekadar pengawas.
Sobat Beranjak pasti sudah tidak asing dengan kurma dan minyak zaitun (olive oil), bukan? Dua komoditas ini kian populer, baik sebagai makanan sunah maupun bagian dari tren gaya hidup sehat (healthy lifestyle) yang digandrungi anak muda masa kini.
Dubes Tunisia, Mohamed Trabelsi, menyoroti bahwa pasar Indonesia sangat krusial bagi ekspor kedua komoditas unggulan negaranya tersebut. Mengingat Indonesia tidak memproduksi kurma dan minyak zaitun secara lokal, kerja sama ini menjadi simbiosis mutualisme. Kita mendapatkan pasokan produk berkualitas langsung dari sumbernya, sementara Tunisia mendapatkan akses pasar yang besar.
“Pasar Indonesia sangat penting bagi kami. Kami ingin meningkatkan ekspor kurma dan memperkenalkan lebih banyak minyak zaitun,” ungkap Trabelsi. Dengan adanya pengawasan langsung dari BPOM, Sobat Beranjak bisa lebih tenang mengonsumsi produk-produk impor ini karena jaminan keamanan dan mutunya sudah tervalidasi.
Lebih jauh dari sekadar pangan dan obat, pertemuan ini juga menyinggung progres Preferential Trade Agreement (PTA) antara Indonesia dan Tunisia yang kini sudah memasuki tahap akhir.
PTA adalah perjanjian perdagangan yang memberikan tarif preferensi (lebih rendah) untuk produk-produk tertentu antar negara anggota. Jika perjanjian ini rampung, ini akan menjadi “jalan tol” bagi arus barang kedua negara. Harapannya, neraca perdagangan yang saat ini masih dianggap rendah bisa terdongkrak naik secara signifikan.
Bagi Generasi Nusantara, ini adalah peluang. Konektivitas yang lebih baik dengan pasar Afrika Utara bisa membuka ide-ide bisnis baru. Siapa tahu, di masa depan giliran produk kosmetik lokal atau kuliner kreasi Sobat Beranjak yang akan melenggang mulus ke pasar Tunisia berkat rel yang dibangun hari ini.
Mari kita dukung terus langkah-langkah progresif ini. Karena kemajuan bangsa dimulai dari kolaborasi yang sehat, aman, dan saling menguntungkan.









