
Setelah berbulan-bulan menjadi subjek spekulasi dan kebisingan di media sosial, Azizah Salsha akhirnya mengambil langkah “profesional” untuk mengklaim kembali narasinya sendiri. Dalam sebuah pernyataan tertulis yang diunggah di akun Instagram-nya, Senin (17/11/2025), Azizah untuk pertama kalinya berbicara secara terbuka dan mendalam tentang perpisahannya dengan Pratama Arhan. Di luar dugaan, di tengah pernyataan yang sarat akan kedewasaan itu, sang mantan suami, Pratama Arhan, justru hadir di kolom komentar, meninggalkan jejak digital yang memicu tanda tanya baru.
Bagi Generasi Nusantara, kisah pernikahan Azizah Salsha dan Pratama Arhan adalah sebuah roller coaster emosional. Pernikahan mereka yang terkesan mendadak pada Agustus 2023 di Tokyo, Jepang, langsung menjadi sorotan nasional. Mereka adalah ikon: bintang sepak bola timnas yang sedang naik daun dan seorang influencer muda yang karismatik. Publik seakan “menitipkan” ekspektasi dongeng pada mereka.
Maka, ketika kabar keretakan mulai tercium, dan akhirnya berujung pada gugatan cerai yang diajukan Arhan dan diputus verstek (tanpa kehadiran tergugat) pada akhir September 2025, publik pun terbelah. Spekulasi liar, tudingan, dan penghakiman sepihak merajai linimasa.
Hampir dua bulan pasca-putusan resmi, Azizah Salsha—yang selama ini memilih diam seribu bahasa—akhirnya angkat bicara. Dan pernyataannya, dari kacamata Beranjak, adalah sebuah studi kasus tentang bagaimana “Beranjak” dari krisis personal dengan cara yang beradab di era digital.
Pesan inti dari unggahan Azizah bukanlah untuk “membela diri” dalam artian defensif. Sebaliknya, ini adalah sebuah klarifikasi yang “Cerdas & Berwawasan”. Ia tidak melempar kesalahan atau menyulut api baru. Ia memadamkan api dengan fakta versi dirinya.
Poin pertama dan terpenting: Azizah mengungkap bahwa ia dan Arhan telah berpisah secara agama sejak akhir Juni 2025. Ini adalah sebuah fakta krusial. Ini berarti, apa yang terjadi di pengadilan pada bulan September hanyalah formalitas hukum dari sebuah keputusan yang telah lama disepakati bersama.
“Keputusan ini diambil dengan matang, dewasa, dan bukan hal yang mudah bagi kami masing-masing,” tulis Azizah. Ia menegaskan bahwa perpisahan ini adalah kesepakatan murni, tanpa paksaan atau tekanan dari pihak mana pun.
Inilah sisi “Humanis” yang paling menyentuh dari pernyataannya. Azizah secara tersirat mengakui bahwa kebisingan publik telah memengaruhinya. Namun, alih-alih larut, ia memilih untuk tumbuh.
Ia menulis bahwa tujuannya adalah untuk “menjalani hidup dengan damai dan terus bertumbuh menjadi versi terbaik dari diriku.”
Secara gamblang, ia juga menolak narasi “korban” atau “penjahat” yang sering disematkan netizen dalam sebuah perceraian. “Aku tidak meminta siapa pun untuk membela atau ‘membersihkan’ nama aku,” tegasnya.
Ini adalah sebuah sikap progresif. Di zaman di mana banyak figur publik memanfaatkan “drama” untuk simpati, Azizah justru memutus rantai drama itu. Ia meminta publik untuk berhenti “pasang badan” untuknya, karena ia hanya ingin melangkah maju. Ini adalah ekspresi kemandirian Generasi Z yang patut diapresiasi.
Di tengah ribuan komentar yang masuk—yang sebagian besar berisi dukungan dan rasa lega atas klarifikasi ini—satu komentar berhasil mencuri perhatian. Komentar itu datang dari akun terverifikasi milik Pratama Arhan.
Tidak ada kata-kata. Tidak ada klarifikasi tandingan. Tidak ada drama.
Seperti yang dilaporkan KapanLagi.com, Arhan hanya meninggalkan dua buah emotikon.
Sontak, reaksi “sederhana” ini menjadi pusat interpretasi baru. Apakah ini tanda persetujuan? Apakah ini bentuk dukungan diam-diam terhadap langkah Azizah untuk speak up? Atau ini sekadar tanda bahwa ia telah “melihat” pernyataan tersebut?
Apa pun maknanya, kemunculan Arhan di unggahan tersebut, alih-alih saling block atau abai, menunjukkan satu hal yang sejalan dengan pernyataan Azizah: bahwa perpisahan mereka, di balik layar, mungkin memang diselesaikan dengan cara yang jauh lebih “dewasa” dan “saling menghargai” daripada yang dibayangkan publik selama ini.
Kisah mereka adalah pelajaran bagi Generasi Nusantara. Bahwa di era media sosial, apa yang terlihat di permukaan (LDR, putusan verstek, diam) seringkali bukanlah cerita utuh. Dan pada akhirnya, setiap individu berhak untuk “Beranjak”—mengambil alih pena dan menulis akhir ceritanya sendiri, dengan damai dan bermartabat.









