
Sebuah kabar yang sangat mengejutkan dan bisa jadi, mematahkan hati, datang dari panggung hiburan Tanah Air. Pasangan yang selama ini menjadi salah satu ikon relationship goals bagi Generasi Nusantara, Raisa Andriana dan Hamish Daud, dikabarkan sedang menempuh jalan perpisahan. Di tengah riuhnya spekulasi publik, tim kuasa hukum Raisa akhirnya angkat bicara pada Senin (17/11/2025). Pesan mereka jelas: konfirmasi proses, bantah tegas isu liar, dan memohon satu hal yang paling krusial saat ini—privasi.
Sobat Beranjak, mari kita hadapi bersama. Mendengar kabar ini tentu terasa “menyentak”. Bagi Generasi Z dan Milenial, Raisa dan Hamish bukan sekadar selebriti. Sejak pernikahan mereka yang dilabeli “Hari Patah Hati Nasional”, perjalanan mereka—lengkap dengan kehadiran putri mereka, Zalina—telah menjadi semacam panutan tentang keluarga muda modern.
Maka, wajar jika dalam hitungan jam sejak kabar ini merebak, linimasa media sosial langsung dibanjiri jutaan pertanyaan, spekulasi, dan tentu saja, keterkejutan.
Namun, di sinilah kita, sebagai audiens yang “Cerdas & Berwawasan”, harus “Beranjak” dari sekadar bergosip. Rubrik Showbiz Beranjak memandang ini dari sisi yang lebih “humanis” dan “profesional”.
Tim kuasa hukum Raisa (sebutkan nama firma hukum/pengacara jika ada di artikel) tidak hadir untuk menambah drama. Kehadiran mereka justru untuk meredam drama. Dalam pernyataan resminya, mereka mengonfirmasi bahwa kliennya, Raisa Andriana, memang telah mendaftarkan gugatan perceraian terhadap suaminya, Hamish Daud, di Pengadilan Agama Jakarta Selatan.
Ini adalah fakta hukum. Namun, fakta terpenting kedua yang mereka sampaikan adalah bantahan keras terhadap rumor yang paling cepat menyebar di situasi seperti ini.
“Kami menegaskan dan memastikan bahwa tidak ada sama sekali pihak ketiga dalam masalah rumah tangga klien kami,” ujar perwakilan kuasa hukum.
Pernyataan ini krusial. Ini adalah upaya sadar untuk memagari narasi, memotong laju spekulasi liar yang bisa sangat destruktif. Di era post-truth di mana rumor bisa lebih dipercaya daripada fakta, langkah ini adalah sebuah bentuk “profesionalisme” dalam mengelola krisis personal di mata publik.
Berita perceraian selebriti seringkali terdegradasi menjadi tontonan. Kita lupa bahwa di balik nama besar Raisa dan Hamish, ada dua manusia biasa yang sedang melalui salah satu fase paling sulit dalam kehidupan personal mereka. Ada pula seorang anak, Zalina, yang masa depannya harus menjadi prioritas utama.
Langkah mereka menempuh jalur hukum, alih-alih saling sindir di media sosial (seperti yang mungkin dilakukan beberapa figur publik lain), adalah sebuah pilihan yang “dewasa”. Ini menunjukkan itikad untuk menyelesaikan masalah di ruang yang seharusnya, yakni ruang mediasi dan hukum, bukan di panggung opini publik.
Inilah sisi “humanis” yang sering kita lupakan. Bahwa seindah apa pun citra publik yang terbangun, tantangan rumah tangga itu nyata dan bisa menimpa siapa saja, terlepas dari seberapa sempurna mereka terlihat di Instagram.
Pesan inti dari tim kuasa hukum Raisa sejatinya bukan hanya untuk media, tapi untuk kita semua, Generasi Nusantara yang aktif di dunia maya. “Kami mohon untuk tidak memperkeruh suasana dengan spekulasi-spekulasi. Tolong hargai privasi klien kami dan keluarganya.”
Ini adalah sebuah permohonan yang sangat wajar.
Bagi kita di Beranjak, ini adalah sebuah call to action. Ini adalah momentum untuk mempraktikkan nilai “Inklusif” dan “Merangkul” dalam arti yang berbeda: merangkul mereka dengan memberi ruang.
Daripada ikut menebak-nebak “alasannya apa?”, atau lebih buruk lagi, menyerbu kolom komentar mereka dengan tuduhan, kita bisa memilih untuk “Beranjak”. Kita bisa memilih untuk diam jika tidak ada hal baik untuk diucapkan. Kita bisa memilih untuk mendoakan yang terbaik bagi proses mereka—agar berjalan damai dan lancar.
Karena pada akhirnya, dukungan terbaik yang bisa kita berikan untuk idola kita saat mereka sedang rapuh bukanlah sorotan, melainkan pengertian. Mari kita kawal proses ini dengan empati, dan biarkan mereka menemukan jalan terbaiknya, jauh dari kebisingan penghakiman publik.









