
Istana Merdeka, Jakarta, menjadi saksi sebuah pertemuan penting pada Senin (17/11/2025). Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Ameer Khurram Rathore. Di permukaan, ini adalah kunjungan kehormatan (courtesy call) biasa. Namun, jika kita “Beranjak” melihat lebih dalam, pertemuan ini adalah sinyal dimulainya perumusan visi baru untuk dua negara besar yang telah bersahabat erat selama 75 tahun—sebuah perayaan Diamond Jubilee yang langka dan bermakna.
Bagi Generasi Nusantara, 75 tahun mungkin terdengar seperti sejarah yang sangat lampau. Namun dalam diplomasi, angka tersebut adalah fondasi yang kokoh. Indonesia dan Pakistan adalah dua negara yang unik: sama-sama negara demokrasi dengan populasi mayoritas Muslim terbesar di dunia (Indonesia pertama, Pakistan kedua), dan keduanya adalah pemain kunci di kawasannya masing-masing.
Pertemuan antara Presiden Prabowo dan Dubes Rathore ini bukan sekadar basa-basi diplomatik. Ini adalah momentum untuk menjawab pertanyaan fundamental: Setelah 75 tahun berteman, apa langkah konkret selanjutnya?
Presiden Prabowo, dengan latar belakang strategisnya, menyambut hangat keinginan Pakistan untuk “mengisi” persahabatan ini dengan substansi yang lebih kuat. Ini bukan lagi hanya tentang mengenang sejarah, tapi tentang membangun masa depan. Mari kita bedah, apa saja “masa depan” yang ada di meja perundingan itu?
Ini adalah poin yang paling menarik, terutama dengan latar belakang Presiden Prabowo sebagai Menteri Pertahanan. Dubes Rathore secara spesifik menyebut penguatan kerja sama pertahanan. Apa artinya ini bagi Generasi Z dan Milenial?
Ini bukan soal aliansi militer untuk berperang. Dalam dunia modern, kerja sama pertahanan berarti membangun “saling percaya” (trust building). Ini bisa berarti:
- Pendidikan & Latihan Bersama: Perwira Indonesia belajar di akademi militer Pakistan, dan sebaliknya. Ini adalah cara bertukar taktik dan membangun jaringan perwira muda yang akan memimpin di masa depan.
- Industri Strategis: Indonesia, melalui Pindad dan PTDI, sedang gencar membangun kemandirian alutsista. Pakistan juga memiliki industri pertahanan yang kuat (misalnya, produksi jet tempur). Terbuka peluang untuk saling transfer teknologi, produksi bersama, atau jual-beli alutsista.
- Intelijen Kontra-Terorisme: Kedua negara memiliki tantangan yang sama dalam isu terorisme dan radikalisme. Berbagi intelijen dan strategi penanganan adalah sebuah keniscayaan untuk menjaga keamanan dalam negeri.
Bagi Presiden Prabowo, memperkuat poros ini adalah langkah logis untuk menunjukkan kepemimpinan Indonesia di kancah global.
Ini adalah inti dari peluang masa depan. Jika digabungkan, populasi Indonesia (270 juta+) dan Pakistan (240 juta+) mencapai lebih dari 510 juta jiwa. Ini adalah pasar raksasa yang potensinya belum tergarap maksimal.
Dubes Rathore menyebut Pakistan memiliki kebijakan “Look East”. Sederhananya, Pakistan kini melihat ke Timur (Asia Tenggara) untuk pertumbuhan ekonomi, dan Indonesia adalah “gerbang” utama sekaligus mitra terbesar di ASEAN.
Peluang bagi Generasi Nusantara di sini sangat besar:
- Produk Kreatif & UMKM: Bayangkan produk fashion (batik, hijab), kopi, atau kerajinan tangan “Lokal Berdaya” dari Indonesia bisa menembus pasar 240 juta orang di Pakistan.
- Investasi: Pakistan juga mencari investasi untuk infrastruktur dan teknologinya. Di sisi lain, perusahaan digital dan startup (tekfin, edutech) Indonesia yang sudah matang bisa mulai melirik Pakistan sebagai pasar baru.
- Pariwisata: Ini adalah “kartu truf” yang belum dimainkan. Indonesia menawarkan surga tropis (Bali, Raja Ampat). Pakistan menawarkan “atap dunia”—wisata pendakian gunung K2 dan keindahan alam pegunungan utara yang memesona. Pertukaran turis bisa menjadi industri miliaran dolar baru.
Inilah fondasi yang sesungguhnya. Hubungan antar pemerintah bisa pasang surut, tapi hubungan antar warga akan abadi. Penguatan “people-to-people” adalah bahasa diplomasi untuk:
- Beasiswa & Pertukaran Pelajar: Mahasiswa Indonesia belajar di universitas-universitas top Pakistan (dan sebaliknya) akan menciptakan “duta besar” baru yang memahami kedua budaya secara mendalam.
- Koneksi Budaya & Religi: Sebagai negara mayoritas Muslim yang moderat, pertukaran ulama, seniman, dan pemikir akan memperkuat narasi Islam yang damai dan progresif di panggung dunia.
Di era dunia yang terpolarisasi, kunjungan ini mengirimkan sinyal “optimistis”. Indonesia, di bawah kepemimpinan Prabowo, menegaskan kembali politik luar negeri bebas aktifnya: berteman dengan semua orang, berkolaborasi untuk kepentingan nasional.
Pertemuan ini bukan sekadar jabat tangan seremonial. Ini adalah penegasan ulang komitmen di usia 75 tahun. Seperti dua sahabat lama yang bertemu kembali dan berkata, “Oke, kita sudah berteman lama. Sekarang, mari kita ‘Beranjak’ melakukan sesuatu yang lebih besar bersama-sama untuk 75 tahun ke depan.” Dan di era baru ini, Generasi Nusantara-lah yang akan menjadi motor penggeraknya.









