Portugal Pesta 9 Gol Tanpa Ronaldo: Era Baru Telah Tiba, Dipimpin ‘Rating 10’ Joao Neves & Hat-trick Bruno Fernandes

Ada pemandangan yang janggal, namun terasa begitu melegakan di Stadion do Dragao, Senin (17/11/2025) dini hari. Portugal baru saja membantai Armenia 9-1 untuk memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. Sang superstar utama, Cristiano Ronaldo, tidak ada di lapangan—ia harus absen karena skorsing kartu merah. Dan ternyata, Selecao tidak hanya baik-baik saja; mereka tampil fenomenal. Panggung yang ditinggalkan sang raja, kini telah direbut oleh dua pangeran: Bruno Fernandes dan, sang bintang utama malam itu, Joao Neves.

Sobat Beranjak, selama hampir dua dekade, narasi tim nasional Portugal selalu identik dengan satu nama: Cristiano Ronaldo. Semua strategi, semua harapan, dan semua beban ada di pundaknya. Pertanyaannya pun selalu sama: “Apa jadinya Portugal tanpa Ronaldo?”

Dini hari tadi, kita semua mendapatkan jawabannya. Dan jawaban itu sangat menakutkan (bagi lawan-lawan mereka).

Tanpa jimat CR7, tim asuhan Roberto Martinez ini justru bermain lepas, cair, dan kolektif. Mereka “Beranjak” dari tim yang reaktif menjadi tim yang proaktif. Hasil 9-1 melawan Armenia adalah bukti statistik, tetapi apa yang terjadi di lapangan adalah bukti pergeseran generasi.

Mari kita bicara tentang bintang utamanya. Bukan Goncalo Ramos (yang juga mencetak gol), bukan pula Rafael Leao. Bintangnya adalah seorang ‘anak ajaib’ berusia 21 tahun dari Paris Saint-Germain: Joao Neves (10/10).

Goal.com memberinya nilai 10—nilai sempurna yang langka—dan itu sangat pantas. Neves tidak hanya mencetak hat-trick perdananya untuk timnas; ia melakukannya dengan cara yang spektakuler.

Gol pertamanya adalah tendangan keras terukur dari luar kotak penalti. Gol keduanya adalah sebuah mahakarya tendangan bebas yang melengkung indah, membentur mistar gawang sebelum masuk. Gol ketiganya adalah penyelesaian akhir yang tenang di tengah kemelut. Ini bukan sekadar 3 gol; ini adalah pernyataan unjuk kemampuan yang komplet: power, teknik, dan insting.

Bagi Generasi Z dan Milenial yang mengikuti sepak bola, Neves adalah prototipe gelandang modern yang kita dambakan. Ia dinamis, berani, dan memiliki visi bermain yang melampaui usianya. Malam itu, ia adalah mesin, sekaligus otak dari permainan Portugal.

Jika Neves adalah bintang baru yang meledak, Bruno Fernandes (9/10) adalah konduktor yang akhirnya mengambil alih orkestra. Selama ini, Bruno sering dianggap “tenggelam” atau harus “mengalah” saat bermain bersama Ronaldo. Kini, ia bebas.

Bruno juga mencetak hat-trick (dua di antaranya dari titik penalti), namun kontribusinya jauh melampaui itu. Ia adalah playmaker utama, memberikan umpan-umpan progresif, dan mengatur tempo dari lini tengah bersama Vitinha (8/10).

Apa yang kita lihat adalah Bruno Fernandes versi Manchester United (atau versi terbaiknya): seorang pemimpin yang vokal, kreatif, dan klinis. Ia membuktikan bahwa di era pasca-Ronaldo nanti, Portugal sudah memiliki kapten dan kreator utama yang siap memimpin.

Kemenangan ini adalah sebuah studi kasus yang sempurna tentang nilai “Progresif” yang diusung Beranjak. Ketidakhadiran Ronaldo—yang selama ini dianggap sebagai “masalah”—justru membuka pintu bagi talenta-talenta luar biasa lainnya untuk berekspresi.

Pelatih Roberto Martinez layak mendapat pujian. Ia tidak mencoba mencari “Ronaldo baru”. Ia membangun sistem yang memungkinkan pemain seperti Joao Neves, Bruno Fernandes, Goncalo Ramos, dan bahkan Francisco Conceicao (yang mencetak gol ke-9) untuk bersinar sebagai diri mereka sendiri.

Ini bukan berarti era Ronaldo telah habis. Ia dipastikan akan tetap menjadi bagian dari tim di Piala Dunia 2026, sebuah rekor turnamen keenam baginya. Namun, kemenangan 9-1 ini memberikan pesan yang sangat jelas: Portugal tidak lagi “Ronaldo-sentris”.

Mereka telah berevolusi. Mereka telah “Beranjak” menjadi tim yang lebih kolektif, lebih modern, dan mungkin, lebih berbahaya. Dan bagi kita, Generasi Nusantara, ini adalah tontonan yang sangat inspiratif. Sebuah pelajaran bahwa regenerasi, meskipun terkadang terasa sulit, adalah sebuah keniscayaan yang indah jika dipersiapkan dengan baik. Portugal telah siap menyongsong masa depan.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait