
Peluit panjang di Stadion Ullevaal, Oslo, pada Senin (17/11/2025) dini hari, bukan hanya penanda akhir sebuah pertandingan. Itu adalah penanda akhir dari sebuah penantian panjang yang menyakitkan. Selama 28 tahun, Norwegia, negara para Viking, hanya bisa menjadi penonton di turnamen sepak bola terakbar. Kini, penantian itu lunas terbayar. Dipimpin oleh duo superstar Erling Haaland dan Martin Odegaard, Generasi Emas Norwegia resmi “Beranjak” ke panggung Piala Dunia 2026, dan mereka melakukannya dengan cara paling dramatis: menyingkirkan sang raksasa, Italia.
Sobat Beranjak, dalam olahraga, tidak ada cerita yang lebih inspiratif daripada kisah “Daud melawan Goliath”, atau kisah tentang penantian panjang yang akhirnya berbuah manis. Dini hari tadi, kita menyaksikan kedua drama itu bersatu.
Bagi kita, Generasi Z dan Milenial, nama Norwegia di Piala Dunia mungkin terdengar asing. Terakhir kali mereka berpartisipasi adalah di Prancis 1998, saat sebagian besar dari kita mungkin belum lahir atau baru belajar berjalan. Sejak saat itu, mereka selalu gagal, selalu nyaris, dan selalu terpuruk dalam bayang-bayang tim medioker.
Sementara di sisi lain, ada Italia. Sang juara Eropa, pemilik empat bintang Piala Dunia, sang Azzurri yang agung. Namun, keagungan itu menyimpan luka yang dalam: mereka absen di dua Piala Dunia terakhir (2018 dan 2022). Laga play-off hidup-mati di Oslo ini adalah kesempatan mereka untuk mengembalikan harga diri bangsa.
Namun, sepak bola telah berubah. Panggung kini milik anak-anak muda.
Pertandingan itu sendiri adalah cerminan dari pergeseran kekuatan. Italia, dengan sisa-sisa DNA juara mereka, mungkin menguasai bola. Namun, Norwegia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki Italia: efisiensi yang mematikan dan dua talenta generasi yang bermain di level berbeda.
Sepanjang laga, Martin Odegaard (9/10), sang kapten dari Arsenal, adalah otaknya. Seperti seorang komposer jenius, ia mengatur tempo dari lini tengah. Setiap sentuhannya berkelas, setiap umpannya memiliki visi. Ia adalah “sang arsitek” yang dengan sabar mencari celah di pertahanan Catenaccio Italia yang terkenal kokoh.
Lalu, tentu saja, ada Erling Haaland (9/10).
Haaland adalah antitesis dari “sepak bola indah yang rumit”. Ia adalah kekuatan alam. Selama lebih dari 70 menit, ia mungkin ‘menghilang’, dijaga ketat oleh bek-bek Italia. Tapi, seorang predator sejati hanya butuh satu peluang.
Dan peluang itu datang di babak kedua. Menerima umpan matang (kemungkinan besar dari Odegaard atau pemain sayap), Haaland melakukan apa yang paling ia kuasai. Satu sentuhan kontrol, satu gerakan eksplosif membebaskan diri, dan sepersekian detik kemudian, sebuah tembakan kaki kiri menghujam jala gawang Gianluigi Donnarumma.
Stadion Ullevaal meledak. Itu bukan hanya gol. Itu adalah pernyataan. Bahwa era “nyaris” telah berakhir. Era pembuktian telah tiba. Kemenangan 1-0 (atau berapapun skornya) sudah cukup untuk mengirim mereka ke Amerika Utara 2026.
Bagi Generasi Nusantara yang kritis, kita juga harus melihat sisi lain dari cerita ini. Saat para pemain Norwegia menangis haru, para pemain Italia kembali tertunduk lesu. Ini adalah tragedi nasional ketiga mereka.
Gagal lolos ke Piala Dunia 2018 (disingkirkan Swedia). Gagal lolos ke 2022 (kalah memalukan dari Makedonia Utara) setelah menjuarai Euro. Dan kini, gagal lolos ke 2026 setelah dipecundangi oleh generasi baru Norwegia.
Sistem sepak bola Italia, yang pernah begitu digdaya, kini harus berkaca. Di mana letak kesalahannya? Apakah mereka terlalu lambat beregenerasi? Apakah kemenangan Euro 2020 (di 2021) hanyalah anomali sesaat? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab jika mereka tidak ingin “Beranjak” semakin jauh dari status elite dunia.
Kisah Norwegia adalah inspirasi. Ini adalah pelajaran tentang “Progresif” dan “Inklusif”, dua nilai inti Beranjak. Mereka tidak membangun tim ini dalam semalam.
Haaland dan Odegaard adalah puncak dari sebuah proyek pembinaan usia muda yang sabar dan terstruktur. Mereka percaya pada proses. Mereka adalah bukti bahwa sebuah negara dengan populasi hanya 5,5 juta jiwa—jauh lebih kecil dari Jakarta—mampu menghasilkan talenta kelas dunia jika memiliki visi yang jelas.
Bagi kita di Indonesia, ini adalah cermin yang optimis. Kita tidak kekurangan talenta; kita hanya perlu sistem yang tepat untuk memolesnya.
Malam ini, kita merayakan Norwegia. Kita merayakan anak-anak muda yang berani mengambil alih panggung dari para raksasa. Dan kita tidak sabar menunggu tarian Erling Haaland dan Martin Odegaard di panggung terbesar dunia. Mereka telah membuktikan: tidak ada mimpi yang terlalu besar jika sebuah generasi memutuskan untuk “Beranjak” bersama.









