Saat Langit Muara Enim ‘Dirajut’ Kreativitas: Festival Layang-Layang Jadi Antitesis Candu Gadget, Merayakan Kembali Permainan Kolektif

Di tengah era di mana pandangan kita lebih sering tertuju ke bawah menatap layar smartphone, sebuah pemandangan kontras dan menyegarkan tersaji di langit Desa Wisata Tanjung Serian, Muara Enim. Ratusan layang-layang dengan beragam bentuk dan warna menari di angkasa, ditarik oleh benang-benang yang terhubung langsung dengan tawa dan sorak-sorai di darat. Ini adalah Festival Layang-Layang, sebuah perhelatan yang membuktikan bahwa warisan olahraga tradisional masih memiliki ‘magi’ yang kuat untuk menyatukan Generasi Nusantara.

Sobat Beranjak, mari kita jujur. Berapa jam dari 24 jam kita yang dihabiskan untuk scrolling tanpa henti? Kita hidup di zaman hiper-koneksi digital, namun seringkali merasa terputus dari koneksi manusiawi yang nyata. Ironis, bukan?

Inilah mengapa apa yang terjadi di Muara Enim pada hari Minggu (16/11/2025) kemarin terasa begitu relevan dan penting. Festival Layang-Layang yang digelar di Lapangan Bola Desa Tanjung Serian ini bukan sekadar acara seru-seruan pengisi akhir pekan. Ini adalah sebuah pernyataan budaya. Sebuah upaya sadar untuk “Beranjak” sejenak dari dunia maya dan kembali membumi—atau lebih tepatnya, “mengangkasa”.

Penjabat (Pj) Bupati Muara Enim, H. Ahmad Rizali, yang turut hadir dan membuka acara, menangkap esensi ini dengan cerdas. Dalam sambutannya, ia tidak hanya berbicara soal pelestarian, tapi juga soal keseimbangan.

“Di era digital ini, anak-anak kita, generasi muda kita, begitu akrab dengan game online dan gadget. Tidak ada yang salah dengan kemajuan, tapi kita punya tanggung jawab moral untuk memastikan warisan budaya dan olahraga tradisional kita tidak mati tergerus,” ujarnya.

Pesan ini sangat relate dengan Generasi Z dan Milenial. Kita adalah generasi yang paling merasakan disrupsi digital, sekaligus generasi yang paling vokal mencari “keseimbangan” dan “kesehatan mental”. Festival ini adalah jawaban. Ini adalah bentuk digital detox yang paling menyenangkan dan paling kolektif.

Sesuai dengan tagline Beranjak, “Ekspresi Generasi Nusantara”, festival ini adalah panggung ekspresi yang sesungguhnya. Langit Muara Enim hari itu adalah kanvas raksasa.

Ratusan peserta, yang datang tidak hanya dari Muara Enim tapi juga dari kabupaten tetangga, seakan berlomba memamerkan kreativitas terbaik mereka. Ada dua kategori utama yang dilombakan: Layang-Layang Hias (Kreasi) dan Layang-Layang Sendaren (bunyi-bunyian).

Di kategori Kreasi, kita bisa melihat bagaimana imajinasi lokal diterjemahkan. Ada layangan berbentuk naga raksasa yang gagah, perahu yang seolah berlayar di awan, hingga bentuk-bentuk abstrak penuh warna yang memukau mata. Ini adalah seni. Ini adalah bukti bahwa kreativitas tidak melulu soal software desain grafis; ia bisa terwujud dari kerangka bambu, kertas minyak, dan benang.

Sementara di kategori Sendaren, ini adalah soal ‘orkestra’ di angkasa. Layang-layang ini dilengkapi dengan ‘pita’ khusus yang akan mengeluarkan bunyi “ngiung-ngiung” yang khas saat diterpa angin. Semakin kencang angin, semakin merdu bunyinya. Ini adalah soundtrack nostalgia yang membawa kita kembali ke masa kecil yang riang.

Dari kacamata “Lokal Berdaya”, festival ini adalah sebuah studi kasus yang brilian. Acara ini tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari strategi besar untuk mempromosikan Desa Wisata Tanjung Serian.

Pj Bupati Ahmad Rizali menekankan bahwa kegiatan ini adalah pemicu (trigger) yang sangat positif. Saat ratusan orang berkumpul di satu titik, apa yang terjadi? Roda ekonomi lokal berputar. Warung-warung kecil, penjual minuman, pedagang UMKM lokal, hingga pengelola parkir, semuanya merasakan dampak ekonominya.

Ini adalah kolaborasi apik. Pemerintah daerah (Pemkab) hadir memberikan dukungan, sementara motor penggeraknya adalah komunitas lokal—kemungkinan besar Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna setempat. Mereka tidak hanya melestarikan permainan, mereka sedang membangun ekosistem pariwisata berbasis komunitas. Mereka menciptakan “alasan” bagi orang luar untuk datang, berkunjung, dan membelanjakan uangnya di desa mereka. Ini jauh lebih progresif dan berkelanjutan daripada sekadar “menunggu bantuan”.

Pada akhirnya, Festival Layang-Layang Muara Enim memberi kita sebuah pelajaran penting. Warisan budaya dan olahraga tradisional bukanlah barang antik yang harus disimpan di museum. Ia adalah sesuatu yang hidup, yang harus terus “dimainkan” dan dirayakan.

Di lapangan itu, kita tidak melihat orang-orang individualistis yang menatap layar masing-masing. Kita melihat ayah mengajari anaknya menarik benang, sekelompok remaja bekerja sama menerbangkan layangan naga raksasa, dan tawa kolektif saat sebuah layangan berhasil mengangkasa dengan sempurna.

Ini adalah soal koneksi. Koneksi dengan alam (membaca arah angin), koneksi dengan sesama (gotong royong), dan koneksi dengan diri sendiri (fokus dan kesabaran). Inilah nilai-nilai yang kita butuhkan untuk menavigasi dunia modern.

Festival ini adalah pengingat yang optimis. Bahwa di antara gempuran ribuan notifikasi, selalu ada pilihan untuk “Beranjak” sejenak, menengadahkan kepala, dan melihat ekspresi kreativitas kita menari-nari indah di langit yang sama.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait