Giring Ganesha ‘Pasang Badan’: AI Boleh Canggih, tapi Tak Akan Punya ‘Rasa’ Eross Candra atau ‘Kegelisahan’ Baskara!

Di tengah ‘kegemparan’ kita soal invasi Artificial Intelligence (AI) ke industri musik (yang baru saja kita bahas!), sebuah perspektif menyejukkan datang dari seorang musisi yang kini juga dikenal sebagai pegiat teknologi, Giring Ganesha.

Menjawab kecemasan para seniman, mantan vokalis Nidji ini ‘pasang badan’ dengan sebuah pernyataan yang sangat menohok. Giring dengan tegas menyebut bahwa secanggih apa pun AI, teknologi itu tidak akan pernah bisa menggantikan karya-karya yang lahir dari ‘nyawa’ manusia. Dan untuk membuktikannya, ia langsung menyebut dua nama sakral di skena musik kita: Eross Candra dan Baskara Putra (Hindia).

Ini bukan sekadar opini, Sob. Ini adalah sebuah analisis mendalam tentang di mana letak ‘benteng’ pertahanan terakhir para seniman: Kemanusiaan itu sendiri.

Pernyataan Giring sangat spesifik. Kenapa AI tidak akan bisa menggantikan seorang Eross Candra?

Jawabannya sederhana: AI tidak punya ‘rasa’.

AI mungkin bisa menganalisis ribuan lagu hits dan menciptakan progresi kord yang paling catchy secara matematis. Tapi, AI tidak akan pernah bisa menciptakan ‘sihir’ dari melodi-melodi sederhana seorang Eros.

  • AI tidak pernah merasakan genuine friendship yang melahirkan “Sebuah Kisah Klasik”.
  • AI tidak pernah merasakan patah hati tulus yang melahirkan “Dan…”.
  • AI tidak pernah merasakan optimisme tulus yang melahirkan “Pasti Bisa”.

Karya Eross Candra (Sheila On 7) adalah bukti bahwa keajaiban musik seringkali terletak pada kesederhanaan yang lahir dari pengalaman hidup dan kepekaan rasa yang otentik. Dan itu, kata Giring, adalah sesuatu yang tidak bisa diprogram.

Lalu, mengapa AI tidak bisa menggantikan seorang Baskara Putra (Hindia)?

Jawabannya: AI tidak punya ‘konteks’ dan ‘kegelisahan’.

Kekuatan terbesar Baskara adalah pada lirik-liriknya. Tulisannya adalah ‘potret sosial’ yang super detail dari apa yang dirasakan oleh Generasi Nusantara hari ini.

  • AI tidak pernah merasakan cemasnya menjadi fresh graduate yang mencari “Mata Pencaharian”.
  • AI tidak pernah merasakan tekanan mental yang butuh ‘healing’ “Secukupnya”.
  • AI tidak pernah duduk di akhir tahun sambil melakukan “Evaluasi” terhadap hidupnya yang ‘gitu-gitu aja’.

Lirik-lirik Baskara adalah jurnalisme personal. Ia menulis apa yang ia rasakan, ia alami, dan ia amati di lingkarannya. AI bisa meniru gaya bahasa Baskara, tapi ia tidak akan pernah bisa memiliki alasan untuk menulis lagu-lagu itu.

Sobat Beranjak, pernyataan Giring Ganesha ini adalah ‘vitamin’ terbaik bagi kita semua, para kreator, di tengah gempuran AI.

Ini adalah sebuah pengingat bahwa di masa depan, pertarungan kita bukanlah siapa yang paling teknis atau paling sempurna (karena AI akan jago di situ). Pertarungan kita adalah siapa yang paling ‘manusia’. Siapa yang paling jujur, paling rentan, paling peka, dan paling otentik dalam menuangkan pengalaman hidupnya menjadi sebuah karya.

AI boleh canggih dalam meniru, tapi ia selamanya tidak akan bisa berkarya dari pengalaman patah hati, gagal wawancara kerja, atau sekadar bahagia karena minum kopi di pagi hari.

Mari kita Beranjak untuk berhenti cemas! Gunakan AI sebagai ‘asisten’ atau ‘alat bantu’ yang mempermudah kerja teknismu, tapi pastikan ‘nyawa’, ‘rasa’, dan ‘kegelisahan’ otentik dalam karyamu tetap 100% milikmu, sang manusia.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait