
Sobat Beranjak, ada sebuah momen yang begitu kontras namun sangat indah yang terjadi di hari bahagia komedian Boiyen. Di hari pernikahannya, sosok yang setiap hari kita kenal sebagai ‘mesin’ pembuat tawa, yang selalu tampil pecicilan dan hyper-active, akhirnya menunjukkan sisi paling rapuhnya: ia menangis sesenggukan saat prosesi akad nikah.
Tangisan itu bukan sekadar tangis haru biasa. Sahabat terdekatnya, Anwar BAB, yang hadir sebagai saksi, tak kuasa ikut menahan air mata. Dalam sebuah testimoni yang meremas hati, Anwar ‘membocorkan’ apa yang ada di balik tangisan Boiyen. Ini adalah tangis lega, tangis bahagia dari seorang perempuan tangguh yang selama ini menjadi “tulang punggung keluarga”.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang mungkin banyak di antaranya juga seorang ‘Generasi Sandwich’, kisah di balik pernikahan Boiyen ini adalah sebuah tamparan yang sangat relatable dan mengharukan.
Kita terbiasa melihat Boiyen tertawa lepas. Kita terbiasa melihatnya melucu tanpa beban. Tapi di hari ijab kabulnya, di momen paling sakral dalam hidupnya, semua ‘benteng’ itu runtuh. Air matanya pecah saat ia akhirnya sah menjadi seorang istri.
Itu adalah pemandangan yang sangat manusiawi. Itu adalah air mata seorang anak perempuan, seorang kakak, yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya berjuang untuk orang lain, dan kini, ia akhirnya menemukan kebahagiaannya sendiri. Ia menemukan ‘pelabuhan’ untuk bersandar.
Anwar BAB, yang persahabatannya dengan Boiyen sudah terjalin sangat dekat, menjadi orang yang paling tahu betapa beratnya perjuangan sang sahabat. Melihat Boiyen menangis, Anwar pun tak kuasa menahan emosinya.
“Aku tuh nggak pernah ngeliat dia nangis. Kita semua tahu dia itu hyper-nya gimana,” ungkap Anwar sambil menyeka air matanya. “Tapi hari ini, tangisan dia itu beda. Aku tahu banget perjuangan dia, man.”
Anwar kemudian mengungkapkan sebuah fakta yang mungkin tidak banyak diketahui publik. “Orang mungkin nggak tahu, dia (Boiyen) itu tulang punggung keluarga. Dia kerja banting tulang, pagi jadi malam, malam jadi pagi, itu semua buat bahagiain keluarga, buat nyekolahin adiknya, buat ibunya,” tutur Anwar dengan suara bergetar.
Kesaksian Anwar ini seolah membuka kotak pandora. Kita akhirnya sadar, di balik tawa cengengesan Boiyen di layar kaca, ada sebuah beban dan tanggung jawab luar biasa besar yang ia pikul di pundaknya.
Sobat Beranjak, kisah haru dari pernikahan Boiyen ini adalah sebuah pelajaran mahal.
Ini adalah pengingat bahwa komedian adalah manusia yang paling pandai menyembunyikan lukanya. Tawa mereka yang paling keras seringkali adalah tameng untuk menutupi perjuangan mereka yang paling berat.
Kisah Boiyen adalah kisah kita. Kisah para ‘tulang punggung’ di luar sana yang selalu tersenyum di kantor padahal di rumah sedang pusing memikirkan tagihan. Kisah para perempuan tangguh yang selalu terlihat ceria, padahal pundaknya penuh dengan beban.
Pernikahan Boiyen adalah sebuah perayaan cinta, sekaligus sebuah perayaan kemenangan atas perjuangan hidup. Selamat menempuh hidup baru, Boiyen! Kamu pantas mendapatkan semua kebahagiaan ini setelah semua perjuanganmu.
Mari kita Beranjak untuk tidak pernah lagi menilai orang hanya dari ‘casing’ luarnya. Karena kita tidak pernah tahu, beban seberat apa yang sedang mereka pikul di balik senyum dan tawa mereka.









