
Sobat Beranjak, di saat banyak perayaan hari jadi (HUT) yang identik dengan pesta, seremoni, dan kemeriahan, Kabupaten Muara Enim memilih sebuah jalan yang jauh lebih menyentuh dan bermakna. Dalam rangka merayakan HUT ke-79 mereka, Pemkab Muara Enim menggelar sebuah aksi bakti sosial yang luar biasa mulia: operasi bibir sumbing gratis untuk warganya.
Kabar ini sontak menjadi oase di tengah hiruk pikuk berita. Puluhan keluarga yang selama ini mungkin hidup dalam keterbatasan dan penantian, akhirnya bisa melihat harapan baru terukir di wajah anak-anak mereka. Warga yang menerima bantuan ini pun tak bisa menyembunyikan rasa haru mereka. Mereka “mengaku sangat terbantu.”
Ini adalah potret perayaan terbaik. Sebuah perayaan yang tidak berfokus pada ‘megah’-nya acara, melainkan pada ‘manfaat’-nya bagi sesama.
Bagi kita, Generasi Nusantara, mungkin ada yang menganggap bibir sumbing hanya sebagai masalah kosmetik. Padahal, realitanya jauh lebih kompleks dari itu. Bagi seorang anak yang terlahir dengan kondisi ini, ia harus berjuang ekstra keras sejak hari pertama.
Berjuang untuk bisa minum ASI dengan normal. Berjuang untuk bisa berbicara dengan jelas. Dan yang paling berat, berjuang melawan stigma, rasa malu, dan bullying di lingkungan sosial.
Masalahnya, operasi untuk memperbaiki kondisi ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bagi banyak keluarga di Muara Enim, biaya operasi itu adalah sebuah kemewahan yang tak terjangkau. Mereka tahu solusinya ada, tapi mereka tak mampu meraihnya.
Di sinilah Pemkab Muara Enim hadir sebagai ‘malaikat penolong’. Aksi operasi gratis yang mereka gelar (bekerja sama dengan tim medis profesional) ini bukan sekadar ‘program’. Ini adalah ‘kado’ yang mengubah hidup.
Suasana haru begitu terasa di lokasi bakti sosial. Para orang tua yang membawa anak-anak mereka untuk dioperasi tak henti-hentinya mengucap syukur.
“Kami ini tidak tahu lagi harus bagaimana. Mau operasi tidak ada uang. Bertahun-tahun kami menunggu,” ujar salah seorang ibu, menahan tangis harunya. “Dengan adanya program ini, rasanya seperti beban yang sangat berat terangkat dari pundak kami. Kami sangat-sangat terbantu.”
Pengakuan “terbantu” dari masyarakat ini adalah indikator kesuksesan yang jauh lebih berharga daripada tepuk tangan di acara seremonial. Ini adalah bukti nyata bahwa ‘negara hadir’ dan peduli pada masalah paling mendasar warganya.
Sobat Beranjak, apa yang dilakukan Pemkab Muara Enim ini adalah sebuah ‘tamparan’ inspiratif bagi kita semua.
Ini adalah pelajaran bahwa makna sejati dari sebuah ‘perayaan’ hari jadi adalah dengan berbagi kebahagiaan. Bukan tentang ‘berapa banyak’ uang yang dihabiskan untuk pesta, tapi tentang ‘berapa banyak’ nyawa yang bisa kita sentuh dan ubah menjadi lebih baik.
Kita tidak hanya merayakan usia sebuah kabupaten, tapi kita merayakan kemanusiaan.
Salut setinggi-langitnya untuk Pemkab Muara Enim dan seluruh tim medis yang terlibat! Kalian telah memberikan kado terindah, bukan hanya untuk para pasien, tetapi untuk kita semua yang masih percaya pada kekuatan kebaikan.
Mari kita Beranjak untuk terus mendukung dan menggaungkan setiap aksi yang ‘mengukir senyuman’ dan membawa harapan baru bagi sesama kita.









