AI ‘Mencipta’ Lagu, Musisi Auto ‘Pensiun’? Mengurai Ancaman vs. Peluang Era Baru Musik Digital

Bersiaplah. ‘Revolusi’ yang selama ini kita bicarakan di dunia teks (ChatGPT) dan gambar (Midjourney), kini telah resmi menginvasi ‘dapur rekaman’ dan panggung musik. Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar alat bantu; ia sudah bisa mencipta musik.

Dari membuat progresi kord yang kompleks, menulis lirik puitis, memproduksi aransemen utuh, hingga yang paling mengerikan: mengkloning (cloning) suara penyanyi idola kita dengan sempurna. Industri musik global (dan lokal) kini sedang ‘geger’, terbelah menjadi dua kubu ekstrem.

Kubu pertama berteriak ini adalah ‘ancaman’ eksistensial, sebuah ‘kiamat’ bagi kreativitas dan pekerjaan musisi. Kubu kedua justru melihatnya sebagai ‘alat bantu’ (asisten) kreatif paling revolusioner abad ini. Jadi, di mana kita sebagai Generasi Nusantara harus berdiri? Mari kita bedah.

Mari kita bicara sisi ‘ancaman’-nya dulu, karena ini yang paling nyata di depan mata.

  1. Mimpi Buruk Kloning Suara: Ketakutan terbesar adalah soal voice cloning. Kita sudah melihat kasus ‘AI Drake’ atau ‘AI Bruno Mars’ di luar sana. Bayangkan, suara khas Reza Rahadian bisa ‘dicuri’ untuk membacakan naskah iklan palsu, atau suara Tulus bisa ‘dipakai’ untuk menyanyikan lagu propaganda. Ini adalah mimpi buruk bagi hak cipta, royalti, dan identitas seorang seniman.
  2. ‘Tsunami’ Lagu Generik: Jika siapa pun kini bisa mengetik prompt “buatkan lagu pop ballad sedih seperti Yovie Widianto” dan AI bisa menghasilkannya dalam 30 detik, apa yang akan terjadi? Spotify dan platform digital lainnya akan ‘kebanjiran’ jutaan lagu generik.
  3. Devaluasi Karya Manusia: Ini adalah konsekuensi logisnya. Jika pasar sudah penuh sesak oleh musik buatan AI yang “cukup bagus” (good enough), apakah karya yang lahir dari keringat, patah hati, dan pengalaman hidup nyata seorang musisi masih akan dihargai?

Tapi, tunggu dulu. Di sisi lain, AI adalah ‘alat bantu’ yang gila-gilaan canggihnya.

  1. Demokratisasi Musik: Ini adalah peluang emas. Kamu punya ide melodi di kepala tapi tidak bisa main gitar atau piano? Kamu bisa ‘bersenandung’ ke AI dan ia akan mengubahnya menjadi aransemen musik utuh. AI memangkas ‘privilese’ bahwa hanya orang yang les musik puluhan tahun yang bisa berkarya.
  2. ‘Asisten’ Kreatif (Co-Pilot): Bagi musisi profesional, AI adalah co-pilot yang tak kenal lelah. Produser bisa memintanya mempercepat proses mixing dan mastering yang membosankan. Seorang songwriter yang sedang stuck bisa “bertukar pikiran” dengan AI untuk mencari 10 opsi progresi kord baru.
  3. Mempercepat Produksi: AI bisa mengerjakan tugas-tugas teknis dalam hitungan detik, membiarkan para musisi fokus pada hal yang paling penting: rasa dan kreativitas.

Sobat Beranjak, pada akhirnya, AI di industri musik adalah ‘pisau bermata dua’. Ini adalah alat. Sama seperti synthesizer, autotune, atau drum machine yang di era-nya dulu juga dianggap ‘haram’ dan ‘ancaman’ bagi musisi ‘asli’, namun kini menjadi standar industri.

Ancaman terbesarnya bukan pada teknologinya, melainkan pada regulasi hukum (terutama soal hak cipta suara) yang masih ‘tertinggal’ dan belum siap mengaturnya.

Satu hal yang pasti: AI mungkin bisa menciptakan melodi yang catchy secara matematis, ia bisa meniru lirik yang puitis. Tapi, ia tidak akan pernah bisa menciptakan lagu dari pengalaman otentik patah hati di kafe Senopati, dari rasa cemas anak kos di akhir bulan, atau dari ‘soul’ seorang manusia yang telah hidup.

Kemanusiaan dan ‘rasa’ itulah yang akan selalu menjadi ‘nilai jual’ termahal seorang musisi sejati.

Mari kita Beranjak untuk tidak takut pada teknologi ini, tapi menjadi generasi yang cerdas untuk mengendalikannya. Pastikan AI tetap menjadi alat, bukan menjadi tuan bagi kreativitas kita.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait