
Sebuah drama luar angkasa yang menegangkan dan membuat seluruh dunia menahan napas baru saja berakhir dengan melegakan. Tiga astronot (Taikonot) China yang baru saja menyelesaikan misi mereka di stasiun luar angkasa Tiangong, akhirnya berhasil mendarat selamat di Bumi.
Namun, ini bukanlah pendaratan rutin. Terkuak sebuah fakta yang mengerikan: mereka ternyata ‘terjebak’ di orbit selama 9 hari setelah misi mereka resmi selesai. Mereka tidak bisa pulang ke Bumi sesuai jadwal. Penyebabnya? Sebuah kegagalan teknis pada kapsul Shenzhou yang seharusnya membawa mereka pulang.
Ini adalah sebuah insiden yang mempertaruhkan nyawa, sebuah balapan melawan waktu yang terjadi di kegelapan angkasa, 400 km di atas kepala kita. Ini adalah pengingat paling brutal bahwa penjelajahan antariksa adalah bisnis yang sangat berbahaya.
Misi ketiga taikonot ini di Stasiun Luar Angkasa Tiangong sebenarnya berjalan mulus. Masalah baru dimulai saat misi mereka berakhir. Mereka sudah mengucapkan selamat tinggal kepada kru pengganti, masuk ke dalam kapsul pulang Shenzhou mereka, dan melepaskan diri dari stasiun.
Sesuai jadwal, mereka seharusnya langsung melakukan de-orbit burn (penyalaan roket untuk pengereman) dan mendarat di Bumi dalam hitungan jam. Tapi, itu tidak terjadi.
Selama 9 hari, kapsul mereka hanya mengambang di orbit, “terjebak”. Bayangkan kengeriannya: berada di dalam sebuah ‘kaleng’ sempit, melihat planet Bumi yang begitu indah dan dekat di jendela, tetapi tidak bisa pulang.
Laporan dari Kompas, yang mengutip media pemerintah China, akhirnya mengungkap akibat dari penundaan ini. Terjadi sebuah kerusakan teknis yang serius pada kapsul Shenzhou.
Diduga kuat, terjadi kegagalan pada salah satu sistem navigasi atau thruster (pendorong) mini yang krusial. Tanpa sistem ini, kapsul tidak bisa memposisikan dirinya dengan akurat untuk melakukan manuver pengereman. Salah sedikit saja sudut masuknya, kapsul bisa ‘memantul’ kembali ke angkasa, atau yang lebih buruk, terbakar habis di atmosfer.
Selama 9 hari itulah, para insinyur di Badan Antariksa China (CNSA) di Beijing bekerja non-stop, berpacu dengan sisa pasokan oksigen dan daya baterai di kapsul. Mereka harus menulis ulang software, mencari sistem cadangan, dan memandu para taikonot untuk melakukan perbaikan manual.
Setelah 9 hari penuh ketidakpastian, sinyal “GO” untuk pendaratan akhirnya diberikan. Para insinyur di darat berhasil menemukan solusi darurat. Kapsul Shenzhou itu akhirnya menyalakan roket pendorongnya, menembus atmosfer dengan bola api yang menyala, dan mendarat dengan selamat di padang pasir Gobi.
Pemandangan saat tim penyelamat membuka palka dan mengeluarkan ketiga taikonot—yang terlihat pucat dan kelelahan namun hidup—disambut dengan tangis haru dan tepuk tangan di ruang kontrol misi.
Sobat Beranjak, drama 9 hari ini memberikan kita dua pelajaran besar yang kontradiktif:
- Antariksa Itu Kejam: Ini adalah pengingat bahwa tidak ada yang ‘rutin’ di luar angkasa. Satu sekrup kendor, satu sensor eror, bisa menjadi batas antara kesuksesan misi dan bencana fatal.
- Kehebatan Teknologi China: Di sisi lain, insiden ini justru menjadi pembuktian level kecanggihan program antariksa China. Mereka menghadapi masalah mematikan di orbit, dan mereka berhasil menyelesaikannya. Mereka membawa pulang kru mereka hidup-hidup. Ini adalah sebuah unjuk kemampuan (capability flex) yang luar biasa.
Selamat datang kembali di Bumi, para taikonot! Perjuangan kalian selama 9 hari di atas sana telah menjadi inspirasi dan pelajaran berharga bagi seluruh umat manusia.
Mari kita Beranjak untuk terus mengapresiasi para penjelajah pemberani ini, dan para insinyur jenius di balik layar yang memastikan mereka bisa pulang dengan selamat.









