
Dalam dunia diplomasi yang seringkali terasa kaku, dingin, dan transaksional, ada sebuah hubungan antar-negara yang kini mekar di bawah kepemimpinan Indonesia yang baru, yang didasari oleh sesuatu yang jauh lebih dalam: persahabatan personal dan utang budi.
Presiden Prabowo Subianto secara terbuka kembali menegaskan status hubungan Indonesia dengan Kerajaan Yordania. Dalam sebuah pernyataan resmi, Prabowo menyebut bahwa bagi Indonesia (dan baginya secara pribadi), Yordania adalah “lebih dari sekadar mitra”.
Pernyataan ini bukanlah basa-basi diplomatik biasa. Ini adalah sebuah penegasan sikap yang akarnya tertanam jauh di dalam salah satu babak paling kelam dalam kehidupan pribadi sang Presiden. Bagi kita, Generasi Nusantara, ini adalah sebuah studi kasus langka tentang bagaimana ‘Diplomasi Hati’ bisa membentuk arah kebijakan luar negeri sebuah negara.
Untuk memahami mengapa Prabowo mengucapkan kalimat tersebut, kita harus kembali pada kisah yang baru-baru ini ia bagikan. Yaitu, kenangannya di masa-masa paling sulit pasca-1998, saat ia ‘dibuang’ dari panggung politik dan militer.
Di saat itulah, sahabat lamanya dari akademi militer, yang kini menjadi Raja Abdullah II, bersama almarhum ayahnya Raja Hussein, membuka pintu istana Yordania untuknya. Prabowo diterima bukan sebagai tamu, melainkan sebagai “saudara” di saat ia tidak lagi memiliki apa-apa.
Inilah konteks di balik frasa “lebih dari sekadar mitra”.
- Hubungan ini ditempa bukan di meja perundingan dagang, tetapi di medan latihan militer dan di dalam ‘pengasingan’ yang penuh ketidakpastian.
- Ini adalah hubungan yang didasari oleh loyalitas prajurit dan utang budi yang bersifat sangat personal.
Ketika Prabowo, kini sebagai Presiden Indonesia, mengatakan Yordania “lebih dari mitra”, ia sedang berbicara dalam dua kapasitas: sebagai Kepala Negara, dan sebagai seorang sahabat yang tidak pernah melupakan kebaikan yang ia terima di titik terendahnya.
Penegasan ini memiliki implikasi kebijakan yang sangat nyata. Kita bisa melihat bagaimana Indonesia dan Yordania kini bergerak begitu cepat dan seirama dalam berbagai isu, terutama dalam misi kemanusiaan di Gaza.
- Akses Tanpa Batas: Koordinasi pengiriman bantuan kemanusiaan Indonesia melalui Yordania berjalan begitu mulus. Ini terjadi karena adanya hotline pribadi antara Prabowo dan Raja Abdullah II. Birokrasi yang biasanya memakan waktu berminggu-minggu kini bisa dipangkas dalam hitungan jam.
- Kepercayaan Penuh: Ada level kepercayaan (trust) yang sangat tinggi di antara kedua pemimpin, yang otomatis menular ke aparat di bawahnya.
- Kesamaan Sikap Politik: Indonesia, di bawah Prabowo, kini memiliki mitra paling tepercaya di Timur Tengah untuk menyuarakan isu Palestina, dan mitra itu adalah Yordania.
Ini adalah bentuk “Diplomasi Hati”, di mana chemistry personal antara dua pemimpin menjadi ‘bensin’ yang mengakselerasi seluruh hubungan bilateral.
Sobat Beranjak, kisah ini adalah pelajaran yang sangat mahal harganya, jauh melampaui urusan politik.
Ini adalah pelajaran tentang pentingnya membangun dan menjaga relasi kemanusiaan. Di dunia yang serba digital dan transaksional ini, Prabowo dan Raja Abdullah II mengingatkan kita bahwa loyalitas, kesetiaan pada kawan lama, dan tindakan tulus di masa sulit adalah investasi yang tak ternilai harganya.
Hubungan Indonesia-Yordania hari ini adalah bukti hidup bahwa pertemanan yang tulus, bahkan yang dimulai puluhan tahun lalu di saat sama-saman belum menjadi ‘siapa-siapa’, bisa berbuah menjadi kemitraan strategis yang kokoh di masa depan.
Mari kita Beranjak untuk tidak pernah meremehkan kekuatan sebuah persahabatan sejati. Karena di dunia ini, mitra bisa dicari, tetapi saudara di masa sulit adalah harta karun yang tak terganti.









