Tangis Pilu Nenek Cibeunying yang Tak Berhenti Menangis, Kehilangan Segalanya dalam Sekejap

Di tengah hiruk pikuk berita bencana, angka-angka statistik, dan instruksi-instruksi dari pejabat tinggi, ada sebuah realita yang seringkali luput dari sorotan utama: duka kemanusiaan yang mentah. Di balik reruntuhan material longsor di Dusun Cibeunying, Cilacap, ada kisah-kisah pilu yang meremas hati. Salah satunya adalah kisah seorang nenek, seorang lansia, yang tangisnya tak berhenti sejak ia dievakuasi ke posko pengungsian.

Ini adalah potret paling jujur dari sebuah bencana. Ini bukan lagi tentang berapa rumah yang hancur atau berapa meter jalan yang terputus. Ini adalah tentang seorang manusia yang kehilangan seluruh dunianya—kenangan, harta benda, dan rasa amannya—hanya dalam hitungan detik.

Bagi kita, Generasi Nusantara, kisah ini adalah tamparan. Sebuah pengingat bahwa di balik setiap bencana, ada tangis pilu yang membutuhkan lebih dari sekadar bantuan logistik; mereka membutuhkan pelukan dan telinga kita.

Di sudut posko pengungsian yang ramai dan serba darurat, pandangan mata tertuju pada seorang nenek. Ia duduk, tatapannya kosong, dan air matanya terus mengalir tanpa henti. Petugas relawan yang mencoba menenangkannya pun dibuat tak berdaya oleh kedalaman duka yang ia rasakan.

Nenek tersebut adalah salah satu korban yang rumahnya luluh lantak, rata dengan tanah, tersapu material longsor yang datang tiba-tiba di tengah malam. Ia selamat. Nyawanya selamat. Namun, “rumah”-nya—tempat ia menghabiskan puluhan tahun hidupnya, membesarkan anak, dan menyimpan setiap kenangannya—kini telah hilang.

“Rumah saya habis, Nak… semuanya hilang. Saya tidak punya apa-apa lagi,” lirihnya di sela-sela tangisannya kepada seorang relawan.

Tangisan sang nenek adalah representasi dari ratusan pengungsi lainnya. Mereka mungkin selamat secara fisik, tetapi mereka ‘terluka’ secara batin. Mereka adalah korban yang mengalami syok dan trauma mendalam. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana tanah yang mereka pijak mengkhianati mereka, menelan semua yang telah mereka bangun seumur hidup.

Kisah pilu sang nenek hanyalah satu dari sekian banyak cerita di Dusun Cibeunying. Di posko pengungsian, duka itu terasa kolektif. Ada para ibu yang menangisi perlengkapan sekolah anak-anak mereka yang terkubur. Ada para bapak yang menatap kosong, memikirkan bagaimana cara memulai kembali hidup dari nol, tanpa sawah dan ternak yang selama ini menjadi sumber hidupnya.

Inilah wajah bencana yang sesungguhnya. Saat tim SAR fokus mencari yang hilang dan BNPB fokus pada logistik, ada kebutuhan mendesak yang tak kalah penting: pemulihan psikologis.

Sobat Beranjak, melihat tangis pilu sang nenek, kita diingatkan pada sebuah hal. Bantuan kita tidak boleh berhenti pada donasi mi instan, selimut, atau uang tunai. Itu semua penting, tapi itu tidak akan menghentikan air mata sang nenek.

  • Dukungan Psikososial Mendesak: Bencana ini adalah panggilan bagi para relawan trauma healing dan psikolog untuk ‘turun gunung’. Para korban, terutama anak-anak dan lansia seperti nenek ini, membutuhkan pendampingan psikologis segera.
  • Empati dalam Pemberitaan: Bagi kita yang melek digital, mari kita bantu dengan tidak menyebarkan foto-foto korban yang mengumbar kesedihan secara tidak etis. Mari kita sebarkan narasi yang membangun semangat, sekaligus menyuarakan kebutuhan mereka yang paling mendesak (seperti kebutuhan trauma healing).
  • Donasi yang Tepat Sasaran: Salurkan bantuanmu melalui lembaga-lembaga resmi yang kita tahu memiliki program pemulihan pasca-bencana yang komprehensif, tidak hanya fisik tapi juga mental.

Mari kita panjatkan doa terbaik untuk nenek di Cibeunying dan seluruh korban longsor Cilacap. Semoga air mata mereka segera berganti dengan harapan baru. Semoga kita semua, sebagai sesama anak bangsa, bisa menjadi bagian dari pemulihan luka mereka.

Mari kita Beranjak untuk menjadi generasi yang tidak hanya bersimpati, tetapi bergerak dengan empati yang nyata.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait