
Sebuah seruan tegas dan penuh apresiasi datang dari tokoh Sumatera Selatan, Herman Deru (HD), menjelang peringatan Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT PGRI yang akan segera tiba. Bosan dengan perayaan yang mungkin terasa ‘biasa saja’ atau terpisah-pisah, HD meminta agar kedua momentum penting ini dirayakan secara serentak (bersamaan) dan dengan level yang jauh lebih meriah: wajib gebyar!
Ini bukan sekadar permintaan soal kemasan acara. Ini adalah sebuah pernyataan sikap. Sebuah ajakan untuk memberikan penghormatan tertinggi bagi para pahlawan tanpa tanda jasa yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa. Di tengah tantangan zaman yang semakin berat, HD ingin memastikan bahwa para guru di Sumsel merasa dihargai dan dihormati dengan cara yang paling pantas.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang merupakan produk langsung dari dedikasi para guru, seruan ini adalah pengingat penting tentang arti sebuah apresiasi.
Gagasan utama di balik seruan Herman Deru adalah efisiensi dan dampak. Selama ini, perayaan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) terkadang berjalan sendiri-sendiri, membuat gaungnya menjadi terpecah.
Dengan menyatukannya dalam satu rangkaian acara yang besar dan serentak di seluruh penjuru Sumsel, pesannya akan jauh lebih kuat. “Kalau acaranya serentak dan gebyar, seluruh mata akan tertuju ke sana. Ini adalah cara kita menunjukkan kepada publik, dan kepada para guru itu sendiri, betapa penting dan mulianya profesi mereka,” ungkap HD.
Ini adalah strategi untuk membangun solidaritas dan kebanggaan korps. Para guru akan merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga besar yang solid, yang pencapaian dan dedikasinya dirayakan secara besar-besaran oleh daerah.
Namun, Sobat Beranjak, kita harus jeli melihat bahwa ‘gebyar’ yang dimaksud tidak boleh berhenti di panggung dan kemeriahan semata. Herman Deru pun menyadari hal ini. Perayaan yang lebih meriah ini harus menjadi pintu gerbang untuk refleksi yang lebih dalam tentang isu yang paling fundamental: kesejahteraan guru.
Apa gunanya pesta meriah jika setelah itu nasib para guru honorer masih terkatung-katung? Apa artinya seremoni megah jika fasilitas mengajar di pelosok masih jauh dari kata layak?
Seruan untuk “gebyar” ini harus kita baca sebagai sebuah momentum. Momentum bagi para pengambil kebijakan—termasuk pemerintah daerah dan pusat—untuk kembali diingatkan bahwa apresiasi terbaik bagi seorang guru adalah jaminan masa depan mereka. Perayaan ini adalah ‘alarm’ untuk kembali fokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan, tentu saja, peningkatan kesejahteraan para pelakunya.
Bagi kita, Generasi Nusantara, seruan Herman Deru ini memiliki relevansi ganda. Pertama, ini adalah ajakan untuk tidak pernah melupakan jasa para guru kita. Ucapan terima kasih, sekecil apapun, akan sangat berarti bagi mereka.
Kedua, ini adalah panggilan untuk kita ikut mengawal. Mari kita dukung agar perayaan ini benar-benar ‘gebyar’ dalam arti yang luas. Gebyar penghormatannya, namun juga gebyar dalam aksi nyata untuk memperjuangkan nasib mereka.
Sudah saatnya profesi guru kembali ke tempatnya yang paling terhormat di masyarakat. Dan itu semua dimulai dari cara kita menghargai dan merayakan mereka. Salut untuk gagasan ini! Mari kita Beranjak untuk menjadikan para guru kita sebagai prioritas, tidak hanya di hari perayaan mereka, tetapi setiap hari.









