
Ada-ada saja ulah nekat yang membahayakan hajat hidup orang banyak. Kali ini, sebuah aksi pencurian yang bukan hanya konyol tapi juga ‘cari mati’ terjadi di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Seorang pria ditangkap aparat setelah kepergok mencuri 17 batang besi siku dari sebuah tower SUTET (Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi) milik PLN.
Ini bukan sekadar kasus pencurian besi kiloan biasa. Ini adalah sebuah tindakan sabotase terhadap Objek Vital Nasional (Obvitnas). Pelaku yang nekat memanjat dan membongkar kerangka tower listrik bertegangan puluhan ribu volt itu, mungkin tidak sadar bahwa perbuatannya tidak hanya mempertaruhkan nyawanya sendiri, tetapi juga berpotensi memicu bencana blackout (pemadaman total) yang bisa melumpuhkan sebagian wilayah Sumatera.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang hidupnya sangat bergantung pada listrik, perbuatan ini adalah musuh bersama yang sangat meresahkan. Mari kita bedah betapa berbahayanya aksi nekat ini.
Aksi nekat pelaku ini akhirnya terhenti berkat kesigapan petugas patroli. Kejadian bermula saat tim gabungan (biasanya dari PLN dan aparat) melakukan patroli rutin untuk mengecek keamanan jalur transmisi SUTET di wilayah Lahat. Jalur ini memang rawan, mengingat lokasinya yang seringkali sepi dan jauh dari pemukiman.
Saat melintas di salah satu titik, petugas patroli menaruh curiga melihat ada aktivitas mencurigakan di kaki salah satu tower SUTET. Benar saja, saat didekati, mereka mendapati pelaku sedang beraksi.
Pelaku sempat berusaha melarikan diri, namun petugas yang lebih sigap berhasil membekuknya. Di lokasi kejadian, ditemukan barang bukti yang mencengangkan: 17 batang besi siku (besi angle bar) yang merupakan kerangka vital penyusun tower, lengkap dengan kunci-kunci pas yang digunakan pelaku untuk membongkarnya. Pelaku pun langsung digelandang ke Mapolres Lahat untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sobat Beranjak, inilah poin yang harus kita pahami bersama. Besi siku pada tower SUTET bukanlah sekadar “pemanis”. Itu adalah tulang kerangka yang menopang seluruh struktur tower agar bisa berdiri kokoh.
Apa yang terjadi jika 17 batang besi itu hilang?
- Struktur Rapuh: Tower menjadi tidak stabil. Sedikit saja ada guncangan, entah itu angin kencang atau getaran, tower tersebut bisa langsung roboh.
- Efek Domino Blackout: Jika satu tower SUTET roboh, seluruh jaringan transmisi di jalur itu akan terputus. Ini akan memicu efek domino pemadaman yang tidak hanya melumpuhkan Lahat, tetapi bisa jadi seluruh Sumatera Selatan atau bahkan sebagian besar Pulau Sumatera.
- Kerugian Triliunan: Coba bayangkan jika listrik padam berhari-hari. Pabrik berhenti, kantor lumpuh, sinyal internet mati, rumah sakit terancam. Kerugian ekonominya bisa mencapai triliunan rupiah!
Belum lagi risiko bagi si pencuri itu sendiri. Memanjat atau bahkan berada terlalu dekat dengan tower SUTET berisiko tinggi tersengat listrik (flashover) atau tersetrum arus induksi yang mematikan. Aksi ini benar-benar ‘menggadaikan nyawa untuk besi kiloan’.
Sudah bisa ditebak, motif pelaku kemungkinan besar adalah ekonomi. Besi-besi curian itu rencananya akan dijual sebagai besi tua (besi kiloan) yang harganya mungkin tidak seberapa.
Di sinilah letak ironinya. Pelaku rela mempertaruhkan nyawa dan masa depan jutaan orang, hanya untuk mendapatkan uang yang mungkin tak lebih dari beberapa ratus ribu rupiah. Ini menunjukkan perlunya edukasi keras kepada masyarakat bahwa SUTET, gardu induk, dan fasilitas listrik lainnya adalah aset vital yang harus dijaga bersama.
Salut setinggi-tingginya untuk para petugas patroli PLN dan aparat yang telah sigap mengamankan aset negara ini. Proses hukum terhadap pelaku harus berjalan dengan tegas untuk memberikan efek jera, bahwa mengutak-atik Obvitnas bukanlah tindak pidana ringan.
Mari kita Beranjak untuk menjadi mata dan telinga di lingkungan kita. Jika melihat ada aktivitas mencurigakan di sekitar fasilitas publik vital, jangan ragu untuk segera melapor ke pihak berwajib. Karena menjaga fasilitas itu sama dengan menjaga masa depan kita bersama.









