
Di saat musim hujan mulai mencapai puncaknya dan ancaman banjir mengintai kota-kota kita, sebuah seruan penting datang dari salah satu tokoh utama Sumatera Selatan, Herman Deru (HD). Jauh dari sekadar seremonial, HD secara tegas mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengambil langkah nyata dalam ‘perang’ melawan salah satu musuh terbesar lingkungan kita: sampah plastik.
Seruan ini bukan tanpa alasan. Di tengah upaya Sumsel untuk terus maju, persoalan lingkungan, terutama sampah yang tidak terkelola dan berkurangnya lahan hijau, telah menjadi ‘duri dalam daging’. Peringatan ini adalah sebuah wake-up call bagi kita semua bahwa menjaga lingkungan bukanlah agenda musiman, melainkan sebuah perjuangan harian yang menentukan masa depan kita.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang akan mewarisi bumi ini, ajakan ini harus diterjemahkan menjadi sebuah gerakan. Ini bukan lagi soal menyalahkan pemerintah, tapi soal apa yang bisa kita lakukan, di sini dan saat ini.
Dalam berbagai kesempatan, Herman Deru menekankan bahwa ada tiga pilar utama yang tidak bisa ditawar lagi jika Sumsel ingin benar-benar maju dan berkelanjutan. Tiga pilar ini adalah:
- Lingkungan Bersih: Ini adalah fondasi paling dasarnya. Di musim hujan seperti sekarang, “bersih” memiliki arti yang sangat harfiah: bebas dari sampah yang menyumbat drainase. HD mengajak kita untuk menghidupkan kembali budaya gotong royong, membersihkan selokan di depan rumah kita, dan berhenti menjadikan sungai sebagai tempat sampah raksasa.
- Lingkungan Hijau: Di tengah masifnya pembangunan, ruang terbuka hijau seringkali menjadi korban pertama. HD mendorong adanya gerakan penanaman pohon kembali, tidak hanya di hutan, tetapi di pekarangan rumah kita sendiri. Satu pohon yang kita tanam hari ini adalah ‘AC alami’ dan ‘sumur resapan’ yang akan menyelamatkan kita di masa depan.
- Bebas Plastik: Inilah musuh utamanya. Plastik sekali pakai telah menjadi bencana. HD menyerukan adanya perubahan gaya hidup yang drastis. Ia mengajak kita semua untuk beralih ke solusi yang lebih ramah lingkungan, seperti membawa tas belanja sendiri, menggunakan botol minum isi ulang, dan mendukung bisnis-bisnis lokal yang menerapkan konsep zero waste.
Sobat Beranjak, apa yang membuat seruan kali ini terasa berbeda adalah penekanannya pada kolaborasi. Herman Deru sadar betul bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Perang melawan sampah plastik dan kerusakan lingkungan hanya bisa dimenangkan jika ada kesadaran kolektif.
- Bagi Individu: Kitalah yang memutuskan untuk menerima atau menolak kantong plastik di kasir. Kitalah yang memutuskan untuk memilah sampah di rumah. Perubahan kecil yang dilakukan oleh jutaan orang akan menghasilkan dampak raksasa.
- Bagi Komunitas: Generasi Nusantara dikenal dengan solidaritasnya. Inilah saatnya komunitas-komunitas clean-up, bank sampah, dan gerakan thrifting (baju bekas) untuk unjuk gigi dan memperluas jangkauannya.
- Bagi Pelaku Usaha: Ini adalah panggilan bagi para pemilik kafe, restoran, dan UMKM di Sumsel untuk berani berinovasi. Ganti sedotan dan styrofoam kalian dengan bahan yang ramah lingkungan. Percayalah, konsumen muda saat ini jauh lebih menghargai bisnis yang memiliki kesadaran lingkungan.
Seruan dari Herman Deru ini adalah sebuah momentum. Sebuah pengingat bahwa “Sumsel Maju” tidak hanya diukur dari megahnya jembatan atau tingginya gedung, tetapi juga dari jernihnya sungai dan bersihnya udara yang kita hirup.
Mari kita Beranjak untuk menjawab panggilan ini. Jadilah generasi yang tidak hanya pandai mengkritik, tetapi juga cepat bertindak. Dimulai dari satu botol minum yang kita bawa dari rumah hari ini.









