Alarm Merah Industri Padat Karya: Setelah Udang & Cengkih, Kini Giliran Sepatu RI Terdeteksi ‘Bermasalah’ di Pasar Global

Sebuah ‘lampu kuning’ baru saja menyala bagi salah satu sektor ekspor andalan Indonesia. Setelah produk udang dan cengkih kita yang terus-menerus menghadapi berbagai hambatan dagang di panggung dunia, kini giliran industri alas kaki (sepatu) yang menjadi sasaran. Produk-produk sepatu ‘Made in Indonesia’ yang membanggakan itu, kini terdeteksi “bermasalah” dan secara resmi masuk dalam radar investigasi di pasar internasional.

Kabar yang dirilis pagi ini (13/11) menyebutkan bahwa sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia telah memulai penyelidikan anti-dumping dan anti-subsidi terhadap produk alas kaki asal tanah air. Ini bukan sekadar isu dagang biasa. Ini adalah sebuah ancaman serius yang bisa berdampak langsung pada nasib ratusan ribu pekerja di dalam negeri.

Bagi kita, Generasi Nusantara, yang banyak di antaranya bekerja di sektor manufaktur atau bangga menggunakan produk-produk yang diekspor, ini adalah sebuah pertarungan yang wajib kita pahami. Ini adalah tentang masa depan industri padat karya dan reputasi dagang Indonesia di mata dunia.

Apa yang dialami industri sepatu ini seolah menjadi sebuah pola yang terus berulang. Mari kita ingat kembali:

  1. Produk Udang: Berulang kali dituduh menerima subsidi dari pemerintah sehingga bisa dijual dengan harga murah, memicu investigasi dan ancaman tarif tinggi di pasar Amerika Serikat dan Eropa.
  2. Produk Cengkih (Rokok Kretek): Menghadapi diskriminasi dan hambatan tarif yang tinggi di berbagai negara dengan alasan kesehatan, yang seringkali dianggap sebagai kedok proteksionisme.

Kini, industri alas kaki kita mengalami nasib serupa. Produk sepatu Indonesia, yang dikenal memiliki kualitas baik dengan harga kompetitif (banyak di antaranya adalah merek-merek global seperti Nike, Adidas, atau Converse yang diproduksi di sini), kini dituduh dijual dengan harga dumping (harga yang lebih murah dari harga produksi atau harga domestik). Tuduhan ini menyiratkan bahwa kesuksesan kita di pasar global bukan karena efisiensi, melainkan karena ‘main curang’.

Inilah bagian yang paling mengkhawatirkan. Industri alas kaki adalah salah satu sektor padat karya terbesar di Indonesia. Ratusan ribu pekerja, yang sebagian besar adalah perempuan, menggantungkan hidupnya di pabrik-pabrik sepatu yang tersebar di Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Jika penyelidikan ini membuktikan kita “bersalah” (atau kita kalah dalam lobi diplomasi dagang), maka negara pengimpor akan memberlakukan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) yang bisa mencapai puluhan hingga ratusan persen.

Apa hasilnya?

  • Harga sepatu buatan Indonesia akan menjadi sangat mahal dan tidak kompetitif di luar negeri.
  • Pesanan (order) ekspor akan anjlok atau bahkan berhenti total.
  • Pabrik-pabrik akan mengurangi produksi secara drastis.
  • Ujung-ujungnya, ‘hantu’ Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal akan menjadi kenyataan yang tak terhindarkan.

Tentu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri tidak akan tinggal diam. Ini adalah awal dari sebuah perang diplomasi dagang yang alot. Tim pengacara dagang internasional dan para diplomat kita kini harus bekerja keras di Jenewa (markas Organisasi Perdagangan Dunia, WTO) untuk membuktikan dua hal:

  1. Bahwa harga produk kita murah karena kita memang efisien dalam berproduksi.
  2. Bahwa tuduhan ini lebih kental dengan nuansa proteksionisme—upaya negara lain untuk melindungi industri sepatu lokal mereka yang kalah saing.

Sobat Beranjak, situasi ini adalah sebuah ironi. Di satu sisi, kita didorong untuk terus menggenjot ekspor dan memamerkan produk ‘Made in Indonesia’ ke seluruh dunia. Namun di sisi lain, setiap kali produk kita mulai mendominasi pasar, produk tersebut akan langsung menjadi sasaran tembak dengan berbagai tuduhan.

Ini adalah pertarungan yang berat. Kita tidak hanya harus jago dalam berproduksi, tetapi juga harus lihai dalam berdiplomasi. Mari kita Beranjak untuk terus mengawal kasus ini, memberikan dukungan penuh pada industri nasional kita, dan berharap para negosiator kita mampu memenangkan pertarungan krusial ini demi menyelamatkan jutaan lapangan kerja di tanah air.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait