Laut China Selatan Memanas Lagi: Beijing “Semprot” Komitmen Baru Trump di AUKUS Soal Kapal Selam Nuklir

Suhu politik di kawasan Indo-Pasifik, yang merupakan “halaman belakang” rumah kita, kembali memanas. Kali ini, kritik tajam datang dari Beijing yang diarahkan langsung ke Washington. Pemerintahan Presiden Donald Trump, yang kembali menegaskan komitmennya pada pakta keamanan AUKUS (Australia, Inggris, AS), dituding China sedang bermain api dan memicu perlombaan senjata.

Kritik keras ini adalah babak baru dari persaingan dua raksasa global yang dampaknya sangat terasa di kawasan kita. Ini bukan lagi sekadar perang dagang, tetapi sudah menyentuh urusan pertahanan yang paling sensitif: teknologi nuklir.

Pemicu kemarahan China adalah penegasan kembali komitmen pemerintahan AS untuk melanjutkan rencana mentransfer teknologi kapal selam bertenaga nuklir kepada Australia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, dalam pernyataan resminya, mengecam langkah ini sebagai tindakan provokatif yang secara serius merusak stabilitas kawasan.

Secara cerdas dan berwawasan, kita perlu melihat ini lebih dari sekadar penjualan senjata biasa. Bagi China, AUKUS sejak awal adalah aliansi militer yang sengaja dibentuk oleh negara-negara Barat untuk mengepung dan membendung pengaruh mereka di Indo-Pasifik. Namun, poin kritik utama China kali ini jauh lebih fundamental: proliferasi nuklir.

China menuding AS, Inggris, dan Australia telah menerapkan standar ganda yang sangat berbahaya. Mari kita bedah alasannya. Australia adalah negara yang tidak memiliki senjata nuklir dan merupakan penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT). Menurut Beijing, memberikan teknologi kapal selam bertenaga nuklir (yang seringkali menggunakan bahan bakar uranium tingkat tinggi) kepada negara non-nuklir adalah sebuah pelanggaran terang-terangan terhadap semangat NPT.

“Di satu sisi, mereka (AS) selalu berteriak paling kencang tentang bahaya proliferasi nuklir ke negara lain, namun di sisi lain mereka sendiri yang dengan seenaknya mentransfer teknologi militer nuklir yang sangat sensitif kepada sekutunya,” begitu kira-kira esensi dari kritik keras Beijing.

Penegasan komitmen dari pemerintahan Trump ini menunjukkan bahwa strategi AS di Indo-Pasifik akan tetap konfrontatif terhadap China. Ini adalah kelanjutan dari kebijakan luar negeri AS yang melihat Beijing sebagai rival strategis utama.

Lalu, apa dampaknya bagi kita, Generasi Nusantara? Sangat besar. Indonesia, dengan posisinya yang strategis, berada tepat di episentrum “ring tinju” kedua gajah ini. Laut Natuna Utara, yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, adalah area yang sangat rawan eskalasi. Semakin banyak kapal selam bertenaga nuklir berkeliaran di perairan kita, semakin tinggi pula risiko terjadinya insiden dan ketegangan militer.

Ini adalah alarm keras bagi diplomasi kita. Seperti yang selalu kita pegang, Indonesia tidak boleh terseret dalam proksi kepentingan siapa pun. Kita harus tetap teguh pada politik luar negeri kita yang bebas aktif, menjadi penengah yang jujur, dan terus memperkuat sentralitas ASEAN sebagai zona damai, bebas, dan netral.

Mari kita Beranjak untuk lebih melek isu geopolitik. Apa yang terjadi di Washington dan Beijing bukan lagi sekadar berita jauh di TV. Itu adalah realita yang secara langsung memengaruhi keamanan dan stabilitas di kawasan kita. Masa depan kita bergantung pada seberapa cerdas kita menavigasi badai persaingan para raksasa ini.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait