
Sebuah keputusan mengejutkan datang dari manajer timnas Inggris, Thomas Tuchel, yang tidak menyertakan nama Jude Bellingham dalam skuad terbarunya untuk jeda internasional. Keputusan ini sontak menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta sepak bola, mengingat status Bellingham sebagai salah satu pemain terbaik dunia saat ini dan pilar tak tergantikan di lini tengah The Three Lions.
Banyak yang bertanya-tanya, ada apa di balik pencoretan ini? Apakah ini pertanda bahwa posisi sang bintang Real Madrid mulai tidak aman? Menjawab semua spekulasi liar tersebut, Thomas Tuchel akhirnya angkat bicara. Dengan tegas, ia menepis semua rumor dan menegaskan bahwa keputusan ini murni didasari oleh pertimbangan teknis dan kondisi fisik sang pemain, bukan karena adanya masalah personal.
Secara langsung ke poin, Tuchel menjelaskan bahwa saat daftar skuad diumumkan, kondisi Bellingham belum 100% prima pasca-operasi bahu yang ia jalani. Sang gelandang dinilai belum mampu bermain penuh selama 90 menit, sebuah syarat yang tampaknya menjadi standar mutlak bagi Tuchel.
“Tentu saja dia pemain penting. Pemain besar,” ujar Tuchel. “Tidak ada yang salah. Ini bukan hukuman atau keputusan emosional. Saya akan berbicara dengan Jude dan juga beberapa pemain lain yang tidak masuk skuad. Semua pemain yang absen tahu mereka masih punya peluang kembali,” tegasnya.
Pernyataan ini secara cerdas dan berwawasan menunjukkan gaya manajemen Tuchel yang sangat metodis dan transparan. Baginya, kebugaran pemain adalah segalanya. Ia tidak mau mengambil risiko dengan memanggil pemain yang belum siap tempur secara fisik, tak peduli sebesar apa pun nama pemain tersebut. Ini adalah pesan kuat kepada seluruh anggota skuad bahwa tidak ada satu pemain pun yang diistimewakan.
Tuchel juga menyoroti betapa kompetitifnya skuad Inggris saat ini, terutama di sektor gelandang. Ia menyebutkan nama-nama seperti Conor Gallagher, Cole Palmer, dan Trevoh Chalobah yang juga harus absen karena cedera. Belum lagi pemain seperti Phil Foden, Trent Alexander-Arnold, dan Jack Grealish yang juga pernah merasakan dicoret dari skuad.
“Kami punya banyak pemain yang layak masuk… Jadi persaingan memang sangat tinggi,” kata Tuchel. “Jika kami memanggil pemain, kami ingin mereka 100 persen berkomitmen. Itu tidak bisa ditawar.”
Ini adalah sebuah “masalah mewah” bagi timnas Inggris. Kedalaman skuad yang mereka miliki saat ini mungkin adalah salah satu yang terbaik di dunia. Hal ini memaksa setiap pemain untuk terus menunjukkan performa terbaik di level klub jika ingin mengenakan seragam kebanggaan The Three Lions. Bagi kita sebagai penonton, ini adalah pemandangan yang optimistis, menandakan cerahnya masa depan sepak bola Inggris.
Meskipun dicoret kali ini, Tuchel memastikan bahwa pintu timnas tidak pernah tertutup untuk Bellingham. Ia yakin sang pemain akan memahami keputusannya dan akan kembali dengan komitmen penuh jika dipanggil di kesempatan berikutnya.
“Saya yakin Jude akan memahami metode saya. Jika nanti dia dipanggil kembali, saya tidak ragu dia akan berkomitmen penuh,” lanjutnya.
Dengan performa Bellingham yang terus menanjak bersama Real Madrid dan kondisi fisiknya yang semakin membaik, rasanya hanya masalah waktu hingga kita melihatnya kembali menjadi motor serangan Inggris. Kisah ini menjadi pelajaran menarik tentang dinamika dalam sebuah tim besar. Di bawah asuhan manajer sekaliber Thomas Tuchel, nama besar bukan lagi jaminan. Hanya kerja keras, komitmen, dan kondisi prima yang akan membawa seorang pemain ke puncak. Mari kita Beranjak dan nantikan kembalinya sang maestro lini tengah ini ke panggung internasional!









