
Pepatah “sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya jatuh juga” tampaknya sangat pas untuk menggambarkan nasib Jupri (28), seorang residivis kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Niatnya untuk kembali beraksi dan menggasak motor milik warga harus berakhir tragis—di tangan massa yang geram.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa kejahatan tidak akan pernah punya tempat, terutama ketika warga sudah muak dan berani bertindak. Kejadian yang berlangsung cepat pada Rabu petang ini menunjukkan betapa pentingnya kepedulian dan kekompakan antar tetangga dalam menjaga keamanan lingkungan.
Semuanya berawal dari kelalaian kecil. Rahmat Nur Sulistiyo, sang pemilik motor, memarkirkan Honda Beat putih miliknya di halaman rumah di Desa Sukapulih. Kunci kontak yang lupa dicabut menjadi undangan terbuka bagi pelaku. Jupri, yang sepertinya sudah mengintai, tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Dengan cepat, ia menyalakan mesin motor dan bersiap kabur. Namun, aksinya tidak berjalan mulus. Rahmat, yang baru saja masuk ke dalam rumah, mendengar suara mesin motornya dan langsung menyadari apa yang terjadi. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar sambil berteriak, “Maling!”
Teriakan inilah yang menjadi pembeda. Teriakan ini bukan sekadar tanda panik, melainkan sebuah panggilan darurat yang langsung direspons oleh warga sekitar. Secara langsung ke poin, warga yang mendengar teriakan itu sigap keluar rumah dan tanpa komando langsung melakukan penghadangan. Aksi kejar-kejaran singkat pun tak terhindarkan. Jupri, yang kalah jumlah dan tak bisa mengelak, akhirnya berhasil diringkus.
Aparat Polsek Pedamaran yang tiba di lokasi setelah dihubungi oleh sekretaris desa, mendapati pelaku sudah dalam kondisi babak belur. Ini adalah gambaran nyata dari kemarahan warga yang mungkin sudah lama terpendam akibat seringnya terjadi aksi serupa.
Kapolsek Pedamaran, Iptu M. Indra Gunawan, membenarkan bahwa pelaku adalah seorang residivis yang seolah tidak pernah kapok. Kasus ini menjadi bukti bahwa beberapa pelaku kejahatan akan terus mengulangi perbuatannya jika ada kesempatan.
Dari peristiwa ini, ada beberapa pelajaran penting yang bisa kita petik sebagai Generasi Nusantara. Pertama, jangan pernah sepelekan keamanan. Kelalaian kecil seperti lupa mencabut kunci kontak bisa berakibat fatal. Selalu pastikan kendaraan kita terkunci dengan aman, bahkan saat diparkir di halaman rumah sendiri.
Kedua, dan yang terpenting, adalah kekuatan dari kepedulian komunal. Aksi warga Pedamaran patut diapresiasi. Tanpa keberanian dan kekompakan mereka, motor Rahmat mungkin sudah raib. Ini adalah contoh nyata bahwa keamanan bukan hanya tugas polisi, tetapi tanggung jawab kita bersama. Mari kita Beranjak untuk lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Saling sapa dengan tetangga dan aktif dalam kegiatan keamanan lingkungan bisa menjadi benteng pertahanan yang sangat efektif.
Kini, Jupri harus kembali mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum. Semoga hukuman kali ini benar-benar memberikan efek jera, dan semoga kekompakan warga Pedamaran bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih waspada dan bersatu melawan kejahatan.









