
Perjuangan Timnas Indonesia di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia harus dimulai dengan sebuah pelajaran yang sangat pahit. Bertandang ke markas Irak di Basra International Stadium yang penuh tekanan, skuad Garuda harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor akhir 1-0.
Kekalahan di laga perdana ini memang terasa menyesakkan. Namun, di balik skor tersebut, ada sebuah pertarungan sengit, momen-momen krusial yang tak berpihak pada kita, dan tentunya, evaluasi besar yang harus segera dilakukan oleh pelatih Patrick Kluivert dan seluruh punggawa timnas. Mimpi untuk terbang ke Amerika Utara pada tahun 2026 memang belum tertutup, namun jalan di depan kini terasa semakin terjal dan menantang.
Bagi kita, para pendukung setia Merah Putih, hasil ini adalah pengingat bahwa level persaingan di putaran akhir kualifikasi ini adalah dunia yang sama sekali berbeda. Tidak ada ruang sedikit pun untuk kesalahan. Mari kita bedah bersama momen-momen kunci dari malam yang berat di Baghdad.
Timnas Indonesia sebenarnya berhasil mengimbangi permainan agresif Irak di menit-menit awal. Barisan pertahanan yang dikomandoi oleh Elkan Baggott dan Jay Idzes beberapa kali sukses mementahkan serangan Singa Mesopotamia. Namun, petaka itu datang dari sebuah kesalahan yang tidak perlu.
Sebuah blunder di lini belakang saat mencoba membangun serangan dari bawah (build-up) berhasil direbut oleh pemain Irak. Dalam sekejap, situasi berubah menjadi serangan balik mematikan yang diakhiri dengan gol pembuka oleh striker andalan mereka, Aymen Hussein, pada menit ke-27. Gol ini seolah menjadi pukulan telak yang sedikit meruntuhkan konsentrasi para pemain kita.
Gol kedua Irak yang lahir di babak kedua juga tak lepas dari kurangnya antisipasi dalam situasi bola mati. Keunggulan postur tubuh para pemain Irak berhasil dimanfaatkan dengan maksimal, meninggalkan pekerjaan rumah besar bagi Kluivert untuk segera memperbaiki organisasi pertahanan timnya.
Selain masalah di lini pertahanan, tumpulnya penyelesaian akhir menjadi persoalan klasik yang kembali terlihat. Beberapa kali, Marselino Ferdinan dan Rafael Struick berhasil menciptakan peluang melalui skema serangan yang apik, namun ketenangan di depan gawang menjadi pembeda utama antara kedua tim.
Serangan-serangan yang dibangun seringkali kandas di sepertiga akhir lapangan, entah karena salah umpan atau penyelesaian akhir yang terburu-buru. Di sisi lain, kita juga harus memberikan apresiasi pada lini pertahanan Irak yang tampil sangat solid dan disiplin, membuat para penyerang kita frustrasi sepanjang laga.
Kekalahan dari Irak, yang notabene adalah tim terkuat di grup ini, memang menyakitkan tetapi tidak perlu diratapi secara berlebihan. Pelatih Patrick Kluivert dalam konferensi pers pasca-laga pun mengakui keunggulan lawan, namun ia tetap optimistis.
“Kami membuat dua kesalahan dan mereka menghukum kami dengan dua gol. Di level seperti ini, hal itu tidak bisa ditoleransi. Tapi para pemain telah berjuang keras. Ini adalah laga pertama, kami akan belajar dari kekalahan ini dan bangkit di pertandingan selanjutnya,” ujar Kluivert.
Sobat Beranjak, inilah kenyataannya. Perjalanan di babak keempat kualifikasi ini adalah sebuah maraton, bukan sprint. Masih ada sembilan pertandingan lagi yang harus kita perjuangkan, termasuk laga-laga kandang di Gelora Bung Karno yang magis.
Kekalahan ini harus menjadi bahan bakar. Bahan bakar bagi para pemain untuk berlatih lebih keras, bagi tim pelatih untuk meracik strategi yang lebih jitu, dan bagi kita semua sebagai suporter untuk tidak pernah lelah memberikan dukungan. Justru di saat timnas sedang terjatuh seperti inilah, suara kita dari tribun dan dari rumah harus terdengar paling lantang.
Mimpi itu belum usai, hanya tertunda. Mari kita kepalkan tangan, tegakkan kembali kepala, dan bersiap untuk laga selanjutnya. Perjuangan belum berakhir! Ayo, Garuda!









