
Ada pemandangan yang berbeda dan menyegarkan di GOR Dempo, Jakabaring Sport City (JSC) Palembang pada Sabtu (11/10/2025) kemarin. Jauh dari suasana rapat yang formal dan tegang, dua tokoh penting dalam dunia pemerintahan, Penjabat (Pj) Walikota Palembang Ratu Dewa dan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Prof. Zudan Arif Fakrulloh, justru ‘bertarung’ sengit di atas lapangan badminton.
Ini bukan sekadar pertandingan persahabatan biasa. Momen keakraban yang diwarnai dengan smash-smash tajam dan tawa lepas ini menjadi simbol dari sebuah hubungan sinergis yang kuat antara pemerintah daerah dan pusat. Di balik setiap shuttlecock yang melayang, ada pesan tentang pentingnya kolaborasi dan komunikasi yang cair dalam membangun negeri.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang mungkin seringkali melihat pejabat hanya dari sisi formalitasnya, momen seperti ini adalah sebuah angin segar. Ini menunjukkan sisi humanis para pemimpin kita dan membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi jembatan diplomasi yang paling efektif.
Di atas lapangan, baik Ratu Dewa maupun Prof. Zudan menunjukkan bahwa mereka tidak hanya andal dalam urusan birokrasi, tetapi juga memiliki skill badminton yang patut diacungi jempol. Ratu Dewa, yang memang dikenal memiliki hobi berolahraga, tampil lincah dengan pukulan-pukulan andalannya.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah komentar Prof. Zudan setelah pertandingan. Meskipun bertindak sebagai ‘lawan’, ia justru melontarkan pujian setinggi langit untuk Pj Walikota Palembang tersebut, tidak hanya soal permainan di lapangan, tetapi juga soal kepemimpinan di luar lapangan.
“Luar biasa, ini salah satu pejabat yang punya talenta di bidang olahraga. Badannya sehat, gesit, pukulannya keras. Ini menunjukkan beliau pemimpin yang sehat jasmani dan rohani,” puji Prof. Zudan dengan senyum lebar.
Menurutnya, laga ini adalah cerminan dari kepribadian Ratu Dewa. “Di lapangan tadi beliau bisa mengimbangi permainan kita semua. Ini menunjukkan beliau bisa membangun chemistry, membangun kekompakan. Di pemerintahan pun beliau kita lihat seperti itu, bisa membangun sinergi dengan Forkopimda dan seluruh elemen masyarakat,” tambahnya.
Kehadiran Kepala BKN di Palembang tentu bukan hanya untuk bermain badminton. Momen olahraga ini adalah bagian dari rangkaian kunjungannya untuk memperkuat koordinasi dan sinergi dengan Pemerintah Kota Palembang, khususnya dalam hal manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN).
Prof. Zudan mengapresiasi langkah-langkah yang telah diambil oleh Ratu Dewa dalam menata birokrasi di Palembang. Mulai dari penyederhanaan layanan kepegawaian hingga upaya peningkatan kesejahteraan para ASN. Pertandingan persahabatan ini menjadi semacam ‘pengetuk palu’ tak resmi dari sebuah komitmen bersama untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kota Palembang.
Ini adalah bentuk diplomasi ‘meja makan’ atau dalam kasus ini, ‘diplomasi lapangan badminton’, yang seringkali jauh lebih efektif dalam membangun hubungan personal dan profesional yang kuat antar lembaga.
Sobat Beranjak, apa yang dipertontonkan oleh Ratu Dewa dan Prof. Zudan kemarin adalah sebuah contoh kepemimpinan modern. Mereka menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak harus selalu tampil kaku dan menjaga jarak. Justru, dengan membaur dan menunjukkan sisi humanis mereka, pesan dan kebijakan bisa tersampaikan dengan lebih hangat dan mudah diterima
Momen ini juga menjadi inspirasi bagi kita semua tentang pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan gaya hidup sehat (work-life balance). Di tengah kesibukan yang padat, meluangkan waktu untuk berolahraga bukan hanya menyehatkan fisik, tetapi juga bisa menjadi sarana untuk membangun jaringan dan mempererat hubungan.
Salut untuk kedua pemimpin yang telah memberikan kita contoh nyata tentang sinergi dan sportivitas. Semoga keakraban di lapangan badminton ini terus berlanjut menjadi kolaborasi-kolaborasi konkret yang akan membawa kemajuan bagi Kota Palembang dan pelayanan publik di seluruh Indonesia. Mari kita Beranjak untuk terus aktif dan sehat!









