‘Suara Ledakan Tiga Kali, Lalu Semua Gelap’: Kesaksian Pilu ABK Selamat dari Neraka di Kapal Ikan FV TAI CHUN

Di tengah duka yang masih menyelimuti keluarga para korban tragedi meledaknya kapal ikan Taiwan FV TAI CHUN, sebuah kesaksian pilu dari salah seorang Anak Buah Kapal (ABK) yang selamat akhirnya terungkap. Kisah ini memberikan kita gambaran yang lebih jelas tentang detik-detik mengerikan saat surga tropis di Samudera Hindia dalam sekejap berubah menjadi neraka api bagi para pahlawan devisa asal Indonesia.

Adalah Sarinah (30), seorang ABK asal Desa Karanganyar, Kecamatan Patikraja, Banyumas, yang berhasil selamat dari maut meski harus menderita luka bakar serius di sekujur tubuhnya. Dari ranjang perawatan intensif di sebuah rumah sakit di Sri Lanka, kisahnya menjadi jendela bagi kita untuk memahami betapa dahsyatnya ledakan yang merenggut nyawa rekannya, Wagiman (28) asal Batang, dan membuat tujuh ABK WNI lainnya terkapar tak berdaya.

Ini bukan sekadar kronologi peristiwa. Ini adalah cerita tentang perjuangan antara hidup dan mati, tentang kepanikan, dan tentang ikatan persaudaraan para pelaut di tengah lautan lepas.

Melalui komunikasi yang berhasil dijalin oleh Serikat Pekerja Migran Indonesia (SPMI) dengan korban, terungkap bahwa insiden pada Jumat (10/10/2025) itu terjadi begitu cepat dan tak terduga. Saat itu, sebagian besar ABK, termasuk Sarinah, sedang beristirahat di kamar mereka yang terletak tidak jauh dari ruang mesin.

“Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras sekali, sampai tiga kali. Lalu semuanya langsung gelap, penuh asap hitam pekat,” tutur Sarinah dengan suara terbata-bata. Kepanikan langsung melanda. Dalam kondisi gelap gulita dan udara yang menyesakkan, para ABK berjuang mencari jalan keluar, meraba-raba dinding kapal yang sudah terasa panas.

Api dengan cepat menjalar dari kamar mesin, melahap apa saja yang ada di dekatnya. Menurut Sarinah, ia dan beberapa rekannya yang berhasil keluar dari kamar melihat pemandangan yang mengerikan. Beberapa bagian kapal sudah hancur dan api berkobar hebat. Di tengah kekacauan itulah mereka harus membuat keputusan sepersekian detik untuk melompat ke laut demi menyelamatkan diri dari kobaran api yang semakin membesar.

Terombang-ambing di lautan lepas dengan luka bakar di tubuh adalah perjuangan hidup-mati selanjutnya bagi para korban selamat. Beruntung, takdir baik masih berpihak pada mereka. Sebuah kapal ikan Taiwan lainnya, FV TAI HSIANG, yang berada di sekitar lokasi, dengan cepat merespons panggilan darurat dan datang memberikan pertolongan.

Mereka dievakuasi dari laut satu per satu, dalam kondisi yang sangat mengenaskan. “Kami hanya bisa pasrah saat itu. Beruntung ada kapal lain yang menolong. Kalau tidak, mungkin kami semua sudah tidak selamat,” lanjut Sarinah.

Kesaksian ini menggarisbawahi betapa pentingnya solidaritas di antara para pelaut, sebuah hukum tak tertulis di lautan yang telah menyelamatkan banyak nyawa dalam tragedi ini.

Di tanah air, tepatnya di Banyumas dan Batang, kesaksian ini semakin menambah duka mendalam bagi keluarga korban. Mereka kini tidak hanya meratapi nasib anggota keluarga mereka, tetapi juga mulai menuntut kejelasan dan keadilan.

Pihak keluarga dan SPMI mendesak pemerintah untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab ledakan. Apakah kapal tersebut layak laut? Apakah ada prosedur keselamatan yang dilanggar oleh perusahaan? Apakah para ABK sudah dibekali dengan pelatihan keselamatan yang memadai? Pertanyaan-pertanyaan ini harus dijawab tuntas.

“Kami menuntut pertanggungjawaban penuh dari pihak perusahaan dan agen perekrutan di Indonesia. Hak-hak korban, termasuk asuransi, biaya pengobatan hingga tuntas, dan santunan bagi keluarga yang ditinggalkan, harus dipenuhi tanpa terkecuali,” tegas salah seorang perwakilan SPMI.

Sobat Beranjak, kisah kesaksian dari Sarinah adalah suara jeritan para pekerja migran kita. Sebuah suara yang menuntut kita semua untuk tidak hanya berempati, tetapi juga bertindak. Tragedi FV TAI CHUN tidak boleh berlalu begitu saja menjadi angka statistik. Ia harus menjadi cambuk bagi negara untuk hadir lebih kuat, memberikan perlindungan hukum yang nyata, dan memastikan bahwa tidak ada lagi pahlawan devisa kita yang harus meregang nyawa akibat kelalaian di tempat kerja. Mari kita terus kawal kasus ini bersama-sama.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait