
Ada yang berbeda dan begitu istimewa dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) kali ini. Saat rombongan Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, tiba di Gedung DPRD OKI pada Sabtu pagi, bukan alunan musik modern atau marching band yang menyambut. Telinga para tamu justru dimanjakan oleh irama unik dan khas dari Tanjidor, sebuah musik tradisional yang nyaris terlupakan.
Kehadiran musik yang berasal dari Kecamatan Pedamaran ini sontak menjadi pusat perhatian. Ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah pernyataan budaya yang kuat. Di tengah arus modernisasi, Pemerintah Kabupaten OKI seolah ingin menunjukkan kepada generasi muda bahwa tradisi lokal memiliki tempat terhormat dan masih sangat relevan untuk dirayakan.
Bagi kita, Generasi Nusantara, momen ini adalah sebuah pemandangan yang menginspirasi. Ini adalah bukti nyata bahwa sebuah perayaan hari jadi daerah bisa menjadi panggung yang megah untuk mengangkat kembali harta karun budaya yang hampir hilang. Ini adalah tentang merayakan kemajuan tanpa harus meninggalkan akar.
Sekitar pukul 10:15 WIB, suasana di halaman kantor DPRD OKI terasa begitu khidmat namun tetap semarak. Gubernur Herman Deru, yang didampingi oleh Pj. Bupati OKI, H. Muchendi Mahzareki, beserta jajaran Forkopimda, disambut dengan prosesi adat yang lengkap. Setelah tarian penyambutan tradisional, barulah ansambel musik Tanjidor mengambil alih panggung.
Suara terompet, trombon, dan perkusi yang berpadu dalam harmoni khas Tanjidor seolah membawa para tamu kembali ke masa lampau. Musik ini, yang merupakan akulturasi budaya dan telah hidup di Pedamaran selama ratusan tahun, terdengar begitu gagah dan agung. Memilih Tanjidor sebagai musik penyambut tamu kehormatan adalah sebuah langkah cerdas. Ini menunjukkan rasa hormat yang tinggi terhadap warisan leluhur sekaligus memperkenalkannya kembali kepada audiens yang lebih luas.
Ini adalah diplomasi budaya yang paling efektif. Para pejabat dan tamu yang hadir tidak hanya disuguhi tontonan, tetapi juga diajak untuk merasakan langsung denyut nadi kebudayaan asli OKI.
Perayaan HUT ke-80 Kabupaten OKI ini menjadi lebih dari sekadar rapat paripurna atau pidato seremonial. Dengan memberikan panggung utama bagi kesenian seperti Tanjidor, ada sebuah pesan kuat yang ingin disampaikan: pembangunan sebuah daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari seberapa kuat ia menjaga dan merawat identitas budayanya.
Bagi anak-anak muda OKI dan Sumatera Selatan pada umumnya, melihat kesenian tradisional mereka tampil di acara sepenting ini tentu menumbuhkan rasa bangga. Ini bisa menjadi pemicu semangat untuk ikut belajar, melestarikan, dan bahkan menginovasi kesenian daerah agar bisa terus eksis di masa depan.
Sobat Beranjak, apa yang terjadi di Kayuagung hari ini adalah contoh konkret dari misi kita bersama: mengangkat dan merayakan potensi lokal. Inisiatif seperti ini yang perlu terus kita dukung dan apresiasi.
Semoga gema Tanjidor di HUT OKI ke-80 ini tidak hanya berhenti di halaman kantor DPRD, tetapi terus bergema di hati dan pikiran kita semua. Sebuah pengingat bahwa di setiap sudut Nusantara, tersimpan kekayaan budaya luar biasa yang menunggu untuk ditemukan kembali, dirayakan, dan diwariskan ke generasi selanjutnya. Selamat ulang tahun, Kabupaten OKI! Teruslah ‘Beranjak’ maju bersama tradisi yang membanggakan.









