
Siap-siap, Sobat Beranjak! Lanskap bahan bakar di Indonesia akan segera berubah. Pemerintah, melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, baru saja mengumumkan rencana untuk mewajibkan penggunaan bensin dengan campuran 10% etanol (E10). Kebijakan yang sudah mendapat restu dari Presiden ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mendorong penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
Sontak, pertanyaan terbesar di benak para pemilik kendaraan pun muncul: “Apakah mobil saya aman pakai bensin jenis baru ini?” Rasa khawatir ini sangat wajar. Jangan-jangan, niat baik untuk lebih ramah lingkungan malah berujung pada mesin yang ‘batuk-batuk’ atau bahkan rusak.
Tenang, kamu tidak sendirian. Untuk menjawab keresahan ini, Beranjak langsung mencari informasi ke sumber paling terpercaya: para Agen Pemegang Merek (APM) atau pabrikan mobil di Indonesia. Jawaban mereka ternyata cukup melegakan dan bisa menjadi panduan penting bagi kita semua dalam menyambut era baru bahan bakar nabati ini.
Kabar baik datang dari dua raksasa otomotif Jepang yang mendominasi pasar Indonesia, yaitu Toyota dan Mitsubishi. Keduanya dengan kompak menyatakan bahwa mobil-mobil bensin yang mereka pasarkan di tanah air pada dasarnya sudah siap dan kompatibel untuk menenggak bahan bakar E10.
Philardi Sobari dari PT Toyota-Astra Motor (TAM) mengonfirmasi bahwa produk-produk mereka dirancang untuk bisa menggunakan bensin dengan campuran etanol hingga 10%. Begitu pula dengan pernyataan dari Masaaki Fujiwara dari PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), yang menyebutkan bahwa informasi kesiapan ini bahkan sudah tercantum di dalam buku manual pemilik kendaraan.
Ini adalah sebuah pernyataan penting yang meredakan banyak kekhawatiran. Artinya, para insinyur di pabrikan-pabrikan tersebut sudah mengantisipasi tren penggunaan bioetanol sejak lama. Komponen-komponen mesin seperti selang bahan bakar, injektor, hingga tangki sudah dirancang dengan material yang tahan terhadap sifat korosif ringan dari etanol.
Meskipun sudah dinyatakan aman, ada satu catatan penting yang digarisbawahi oleh para pabrikan: tetap patuhi rekomendasi nilai oktan (RON) minimum yang tertera di buku manual kendaraanmu. Ini adalah kunci untuk menjaga performa dan keawetan mesin dalam jangka panjang.
Misalnya, jika mobilmu direkomendasikan untuk menggunakan bensin dengan oktan 92 (seperti Pertamax), maka saat beralih ke E10 nanti, pastikan kamu memilih varian E10 yang juga memiliki nilai oktan 92 atau lebih. Mencampur etanol memang bisa meningkatkan nilai oktan, namun jangan sampai kamu tergoda menggunakan bensin E10 dengan oktan dasar yang lebih rendah dari anjuran pabrikan.
Mengapa ini krusial? Penggunaan oktan yang tidak sesuai dapat menyebabkan fenomena knocking atau ngelitik pada mesin. Dalam jangka panjang, hal ini bisa merusak komponen internal seperti piston dan katup, yang biaya perbaikannya tentu tidak murah. Jadi, anggaplah buku manual itu sebagai ‘kitab suci’ bagi kendaraanmu.
Bagi Sobat Beranjak yang mungkin masih awam, E10 adalah bensin yang dicampur dengan 10% etanol. Etanol sendiri adalah sejenis alkohol yang bisa diproduksi dari sumber daya terbarukan seperti tebu, jagung, atau singkong. Penggunaan bioetanol seperti ini adalah tren global yang memiliki banyak manfaat.
Pertama, ia mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga lebih ramah lingkungan. Kedua, ia membantu mengurangi impor minyak mentah yang membebani neraca perdagangan negara. Dan ketiga, ia berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di sektor agrikultur dan industri bioenergi.
Langkah pemerintah untuk menerapkan mandatori E10 adalah sebuah ‘Beranjak’ maju menuju ketahanan dan kedaulatan energi. Sebagai Generasi Nusantara yang peduli lingkungan dan masa depan bangsa, sudah saatnya kita menyambut dan mendukung transisi ini dengan pengetahuan yang cukup.
Jadi, kesimpulannya? Untuk sebagian besar pemilik mobil modern, khususnya dari merek Toyota dan Mitsubishi, tidak perlu ada kekhawatiran berlebih. Cukup pastikan kamu tetap setia pada rekomendasi oktan dari pabrikan. Selamat datang di era bahan bakar yang lebih hijau!









