
Di saat awan keraguan mungkin mulai menggelayut di benak sebagian pendukung, sang benteng pertahanan Timnas Indonesia, Jay Idzes, maju ke depan dengan sebuah pesan yang tegas dan penuh semangat: perjuangan Skuad Garuda untuk meraih tiket ke Piala Dunia 2026 masih jauh dari kata usai.
Pemain yang baru saja membawa klubnya, Venezia, promosi ke Serie A Italia itu memancarkan aura mentalitas Eropa yang sangat dibutuhkan tim saat ini. Baginya, satu atau dua hasil yang kurang memuaskan bukanlah akhir dari segalanya. Ia menolak untuk menyerah pada pesimisme dan mengajak seluruh elemen tim serta para suporter untuk terus menjaga api harapan tetap menyala.
Sikap yang ditunjukkan oleh Jay Idzes ini lebih dari sekadar pernyataan seorang pemain. Ini adalah cerminan dari mentalitas seorang pejuang sejati. Sebuah pesan inspiratif bagi kita, Generasi Nusantara, bahwa dalam setiap kompetisi, entah itu di lapangan hijau atau dalam kehidupan, menyerah sebelum peluit akhir dibunyikan bukanlah sebuah pilihan.
Datang dengan pengalaman berkompetisi di liga seketat Italia, Jay Idzes terbiasa dengan tekanan tingkat tinggi. Ia paham betul bahwa dalam sebuah perjalanan panjang seperti kualifikasi Piala Dunia, akan selalu ada tanjakan terjal dan tikungan tajam. Kuncinya bukanlah menghindari kesulitan, melainkan bagaimana cara meresponsnya.
“Tentu saja, kami masih memiliki peluang. Perjuangan ini belum berakhir,” tegas Idzes. “Kami tahu apa yang harus kami lakukan. Kami harus terus berjuang sebagai sebuah tim, bekerja keras, dan kami akan melihat apa yang akan terjadi nanti.”
Kalimat “perjuangan ini belum berakhir” menjadi mantra yang ia hembuskan kepada rekan-rekannya dan seluruh bangsa. Ini menunjukkan level kedewasaan dan kepemimpinan yang ia bawa ke dalam skuad. Ia tidak hanya berkontribusi lewat tekel-tekel bersih atau sundulan-sundulan krusialnya, tetapi juga lewat kekuatan karakternya di luar lapangan. Ia adalah contoh nyata dari seorang profesional yang fokus pada proses dan percaya pada kekuatan kolektif.
Optimisme Jay Idzes bukanlah tanpa dasar. Secara matematis, pintu bagi Timnas Indonesia untuk melaju ke babak selanjutnya memang masih terbuka. Kemenangan di laga-laga sisa, terutama dalam pertandingan krusial melawan Irak dan Filipina, akan menjadi penentu nasib Skuad Garuda.
Namun, Jay tahu bahwa hitung-hitungan di atas kertas tidak akan ada artinya tanpa kerja keras di atas rumput. Itulah mengapa ia terus menekankan pentingnya persatuan dan perjuangan sebagai sebuah tim. Di level ini, tidak ada lagi ruang untuk pahlawan tunggal. Kemenangan hanya bisa diraih jika setiap pemain, dari kiper hingga penyerang, bergerak dalam satu ritme dan berjuang untuk satu tujuan yang sama.
“Kami harus melakukannya bersama-sama. Kami punya tim yang bagus, kami punya pemain yang berkualitas. Jadi, kami harus percaya diri,” tambahnya. Kepercayaan diri inilah yang harus terus dipupuk. Kepercayaan pada rekan setim, kepercayaan pada strategi pelatih, dan yang terpenting, kepercayaan pada kemampuan diri sendiri.
Sobat Beranjak, seruan Jay Idzes ini sejatinya juga ditujukan kepada kita, para pemain ke-12. Di saat tim sedang butuh suntikan moral terbesar, inilah waktunya bagi kita untuk menunjukkan dukungan yang paling solid. Tinggalkan sejenak kritik yang menjatuhkan, dan gantilah dengan energi positif yang membangun.
Mari penuhi stadion, baik secara fisik maupun virtual di media sosial, dengan semangat yang membara. Tunjukkan kepada para pemain bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Bahwa di belakang mereka, ada jutaan doa dan harapan dari Sabang sampai Merauke.
Perjuangan ini memang belum berakhir. Mari kita pastikan bahwa saat para pahlawan kita bertarung habis-habisan di lapangan, mereka bisa mendengar gemuruh dukungan kita yang tak pernah padam. Ayo, Indonesia! Mari kita selesaikan perjuangan ini bersama-sama.









