
Pasar logam mulia pagi ini, Jumat (10/10/2025), memberikan kita pelajaran berharga tentang volatilitas. Setelah kemarin kita dibuat euforia dengan harga emas yang meroket hingga mencetak rekor termahal sepanjang sejarah, hari ini situasinya berbalik 180 derajat. Harga emas dunia terpantau anjlok cukup dalam.
Berdasarkan data pasar spot global, harga emas turun signifikan sebesar 1,1 persen ke level USD 3.993 per ons. Pelemahan ini menjadi sebuah antiklimaks setelah reli gila-gilaan yang terjadi selama beberapa pekan terakhir, yang bahkan sempat membawa harga emas menyentuh level di atas USD 4.000 per ons.
Fenomena “terbang tinggi lalu terjun bebas” ini tentu membuat banyak investor bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah pesta kenaikan harga emas sudah benar-benar berakhir? Dan yang terpenting, apa langkah yang harus kita ambil sekarang?
Koreksi tajam yang terjadi setelah harga mencapai puncak tertinggi adalah hal yang cukup wajar di dunia investasi. Para analis menunjuk setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadi pemicu anjloknya harga emas kali ini.
- Aksi Ambil Untung (Profit Taking) Massal: Ini adalah penyebab yang paling logis. Ketika harga sebuah aset meroket begitu cepat dalam waktu singkat, para investor yang sudah membeli di harga bawah tentu akan tergiur untuk “mencairkan” keuntungan mereka. Aksi jual dalam volume besar yang dilakukan serentak oleh para trader dan investor institusional inilah yang memberikan tekanan jual masif dan membuat harga langsung terkoreksi. “Reli ini terjadi begitu cepat sehingga tidak ada dukungan nyata yang masuk hingga (level) USD 3.850,” ujar seorang analis, mengindikasikan bahwa kenaikan sebelumnya sudah terlalu “panas”.
- Kabar Gencatan Senjata di Gaza: Salah satu bahan bakar utama kenaikan harga emas selama ini adalah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Kabar terbaru mengenai adanya kesepakatan gencatan senjata di Gaza, meskipun masih dalam tahap negosiasi, sudah cukup untuk sedikit mendinginkan suhu politik global. Ketika risiko geopolitik mereda, permintaan terhadap aset safe haven seperti emas akan sedikit berkurang, karena investor mulai berani kembali ke aset yang lebih berisiko seperti saham.
- Komentar Pejabat The Fed: Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) selalu menjadi “sutradara” di pasar keuangan global. Komentar-komentar dari para pejabatnya yang mengisyaratkan bahwa suku bunga mungkin tidak akan dipangkas dalam waktu dekat bisa membuat nilai tukar Dolar AS menguat. Dolar yang menguat secara otomatis akan menekan harga emas, karena keduanya memiliki hubungan yang berbanding terbalik.
Melihat harga yang anjlok, kepanikan adalah reaksi yang wajar, terutama bagi investor pemula. Namun, inilah saatnya untuk berpikir jernih dan kembali ke strategi investasimu.
- Jika Kamu Investor Jangka Panjang (HODLer): Anggap saja ini “badai” kecil yang akan berlalu. Koreksi adalah bagian sehat dari sebuah siklus pasar. Tujuan utamamu adalah untuk proteksi nilai kekayaan dalam 5-10 tahun ke depan. Penurunan harga justru bisa menjadi kesempatan emas untuk kembali “menyerok di bawah” atau menambah porsi investasimu dengan metode Dollar Cost Averaging (DCA).
- Jika Kamu Baru Mau Jual: Jika kamu memang berencana menjual untuk merealisasikan keuntungan, mungkin saat ini bukan waktu yang ideal karena harga sedang turun. Namun, jika kamu sangat membutuhkan dana tunai, keputusan tetap di tanganmu.
- Jika Kamu Baru Mau Beli: Momen koreksi seringkali menjadi “diskon” yang ditunggu-tunggu. Penurunan harga ini bisa menjadi titik masuk (entry point) yang menarik bagi investor baru. Namun, tetaplah waspada. Jangan langsung all in. Lakukan pembelian secara bertahap sambil terus memantau perkembangan pasar.
Pasar emas, seperti pasar investasi lainnya, selalu penuh dengan ketidakpastian. Kunci utamanya adalah jangan pernah berinvestasi karena ikut-ikutan (Fear of Missing Out/FOMO). Miliki rencana yang jelas, lakukan riset, dan yang terpenting, investasikan uang yang benar-benar siap kamu sisihkan untuk jangka panjang. Selamat berinvestasi dengan cerdas!









