
Di tengah kepungan berita tentang darurat narkoba yang semakin meresahkan di Sumatera Selatan, sebuah kabar penting datang dari Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sumsel. Ini adalah sebuah pesan harapan, sebuah uluran tangan bagi mereka yang terjerat, dan sebuah penegasan bahwa menjadi pecandu bukanlah akhir dari segalanya. Selalu ada jalan untuk kembali.
Dalam sebuah audiensi dengan Pj Gubernur Sumsel, Kepala BNNP Sumsel, Brigjen Pol. Hisar Siallagan, secara terbuka dan tegas menyatakan bahwa pihaknya menyediakan layanan rehabilitasi bagi para pecandu narkoba yang sepenuhnya gratis, profesional, dan kerahasiaan identitasnya dijamin oleh negara.
Tawaran ini adalah sebuah game-changer. Ini adalah upaya untuk meruntuhkan stigma dan ketakutan yang selama ini menghalangi para pecandu atau keluarga mereka untuk mencari pertolongan. BNN Sumsel ingin mengubah paradigma: memandang pecandu bukan sebagai kriminal semata, tetapi sebagai orang sakit yang butuh pertolongan dan pemulihan.
Pesan ini disampaikan dalam pertemuan strategis antara BNNP Sumsel dan jajaran Pemerintah Provinsi Sumsel. Audiensi ini bertujuan untuk memperkuat sinergi dan kolaborasi dalam program Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) di Bumi Sriwijaya.
Salah satu hambatan terbesar dalam upaya rehabilitasi adalah rasa takut. Takut ditangkap, takut diproses hukum, takut dikucilkan oleh masyarakat. Brigjen Hisar Siallagan mencoba meruntuhkan tembok ketakutan ini dengan jaminan yang sangat kuat.
“Bagi para pecandu yang dengan kesadaran sendiri datang dan melapor ke BNN untuk direhabilitasi, kami pastikan tidak akan diproses hukum. Identitas mereka akan kami rahasiakan,” tegas Brigjen Hisar. Ini adalah sebuah “garansi” dari negara bahwa niat baik untuk sembuh akan dihargai dan dilindungi.
Layanan rehabilitasi ini tidak dipungut biaya sepeser pun. Jika fasilitas rehabilitasi milik BNNP Sumsel penuh, mereka bahkan akan memfasilitasi pecandu untuk dibawa ke pusat rehabilitasi nasional di Lido, Sukabumi, dan semua biayanya ditanggung negara.
Langkah BNNP Sumsel ini bukan sekadar program sosial, tetapi bagian dari strategi besar untuk memutus mata rantai peredaran narkoba dari sisi demand atau permintaan. Logikanya sederhana: jika para pecandu berhasil dipulihkan dan berhenti mengonsumsi narkoba, maka permintaan di pasar gelap akan menurun secara signifikan.
“Dengan banyaknya pecandu yang kita rehab, orang yang tadinya beli, akhirnya tidak lagi mengonsumsi dan membeli narkoba. Demand itu akan turun,” jelas Brigjen Hisar.
Strategi “memutus permintaan” ini akan berjalan beriringan dengan strategi “memutus pasokan” (supply) melalui penindakan tegas terhadap para bandar dan pengedar. Ini adalah perang melawan narkoba yang dilakukan di dua front sekaligus.
Sobat Beranjak, informasi ini terlalu penting untuk berhenti di kamu. Ini adalah panggilan bagi kita semua untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
- Sebarkan Informasi Ini: Banyak di luar sana yang mungkin terjerat narkoba dan merasa putus asa. Dengan menyebarkan informasi tentang rehabilitasi gratis dan rahasia terjamin ini, kamu mungkin bisa menyelamatkan satu nyawa.
- Hapus Stigma: Berhentilah memandang pecandu sebagai aib atau sampah masyarakat. Mereka adalah korban yang membutuhkan dukungan kita untuk pulih. Berikan empati, bukan caci maki.
- Jadi Mata dan Telinga: Jika kamu memiliki informasi tentang peredaran narkoba di lingkunganmu, jangan ragu untuk melapor ke pihak berwenang. Kamu bisa melakukannya secara anonim.
Sumatera Selatan sedang tidak baik-baik saja dalam hal peredaran narkoba. Namun, dengan adanya program rehabilitasi yang humanis dan sinergi yang kuat antara BNN, pemerintah daerah, dan masyarakat, harapan untuk menciptakan “Sumsel Bersinar” (Bersih dari Narkoba) masih terbuka lebar. Mari kita Beranjak untuk menjadi bagian dari solusi.









