Bukan Sekadar Jeda, Hamas Tuntut Jaminan Nyata Perang di Gaza Benar-benar Berakhir

Proses perundingan untuk menghentikan pertumpahan darah di Gaza kembali menemui babak yang sangat krusial. Setelah sebelumnya memberikan sinyal positif, pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, kini menegaskan posisinya. Ia menyatakan bahwa kelompoknya menuntut adanya jaminan yang “nyata dan pasti” bahwa perang akan benar-benar berakhir secara permanen, bukan sekadar jeda sementara yang bisa dilanjutkan kembali.

Pernyataan ini disampaikan pada Rabu (8/10), sebagai respons resmi terhadap proposal perdamaian terbaru yang didukung oleh Amerika Serikat. Haniyeh menekankan bahwa meskipun Hamas mempelajari proposal tersebut dengan pikiran terbuka, tujuan akhir mereka tidak bisa ditawar: penghentian total agresi militer Israel dan penarikan penuh pasukan dari seluruh wilayah Jalur Gaza.

Sikap tegas Hamas ini menjadi titik alot dalam perundingan yang tengah dimediasi oleh Qatar dan Mesir. Ini adalah sebuah pertaruhan tingkat tinggi, di mana satu kata dalam naskah perjanjian bisa menentukan nasib jutaan nyawa dan masa depan seluruh kawasan.

Hamas dan kelompok Jihad Islam Palestina telah menyerahkan jawaban resmi mereka kepada para mediator. Alih-alih menerima proposal secara mentah-mentah, mereka mengajukan sejumlah “amendemen” atau perubahan. Meskipun detailnya tidak diungkap secara penuh, poin-poin utamanya meliputi:

  1. Gencatan Senjata Permanen: Ini adalah tuntutan utama. Hamas tidak mau terjebak dalam skenario di mana setelah semua sandera dibebaskan, Israel memiliki dalih untuk kembali melancarkan serangan. Mereka menginginkan sebuah akhir perang yang definitif.
  2. Penarikan Pasukan Israel Sepenuhnya: Tidak ada kompromi dalam hal ini. Hamas menuntut seluruh tentara Israel keluar dari setiap jengkal tanah di Gaza.
  3. Rekonstruksi dan Pencabutan Blokade: Proses pembangunan kembali Gaza yang hancur lebur harus segera dimulai, dan blokade yang selama ini mencekik kehidupan warga sipil harus dicabut sepenuhnya.

Tuntutan ini, menurut Haniyeh, adalah cerminan dari keinginan rakyat Palestina yang telah menderita terlalu lama. “Kami berkomitmen pada aspirasi rakyat kami untuk mengakhiri perang ini,” tegasnya.

Dunia internasional kini menahan napas, menunggu bagaimana Israel dan Amerika Serikat akan merespons tuntutan balik dari Hamas ini. Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, menyatakan bahwa pihaknya tengah mempelajari jawaban dari Hamas. Beberapa laporan menyebutkan ada perubahan yang “bisa diterima” dan ada pula yang “tidak bisa diterima”.

Situasinya menjadi sangat delikat. Para mediator, terutama Qatar, kini bekerja ekstra keras untuk menjembatani perbedaan pandangan antara kedua belah pihak. Mereka berusaha mencari jalan tengah agar proposal yang sudah susah payah dirancang tidak berakhir sia-sia.

Bagi kita, Generasi Nusantara, drama diplomatik ini adalah sebuah pengingat betapa rumitnya jalan menuju perdamaian. Ini bukan sekadar pertarungan di medan perang, tetapi juga pertarungan narasi, interpretasi, dan jaminan di atas meja perundingan.

Setiap hari yang dihabiskan untuk bernegosiasi adalah hari di mana warga sipil di Gaza terus hidup dalam ketidakpastian dan penderitaan. Namun, di sisi lain, sebuah kesepakatan yang terburu-buru tanpa jaminan yang kuat juga berisiko menciptakan konflik yang lebih besar di masa depan.

Mari kita terus pantau perkembangannya dan berharap para pemimpin dunia bisa mengesampingkan ego politik mereka demi satu tujuan mulia: menghentikan tragedi kemanusiaan di Gaza untuk selamanya.

Bagikan Artikel Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

| Artikel Terkait