
Sebuah pemandangan yang terasa janggal bagi banyak penikmat sepak bola saat timnas Belanda melakoni laga pembukanya di Euro 2024. Di saat timnas lain pusing karena kekurangan pemain bertahan berkualitas, pelatih Belanda, Ronald Koeman, justru dihadapkan pada “masalah kemewahan”. Stok bek tengah top dunia di skuadnya begitu melimpah, hingga ia terpaksa membuat keputusan sulit yang memakan korban: mencadangkan Matthijs de Ligt.
Ya, kamu tidak salah baca. De Ligt, bek andalan salah satu klub terbesar dunia, Bayern Munich, harus rela menghangatkan bangku cadangan dan menonton rekan-rekannya berjuang dari pinggir lapangan. Ini bukan karena ia cedera atau tampil buruk. Sebaliknya, ia merasa sedang berada di puncak performa. De Ligt, dalam kasus ini, adalah “korban” dari betapa mengerikannya kualitas lini pertahanan yang dimiliki De Oranje saat ini.
Pelatih Ronald Koeman pun secara terbuka mengakui dilema yang dihadapinya. Baginya, memilih siapa yang akan mendampingi sang kapten Virgil van Dijk di jantung pertahanan adalah pusing kepala yang paling manis sekaligus paling menyakitkan.
Dalam konferensi pers, Koeman tanpa basa-basi mengakui bahwa mencadangkan pemain sekaliber De Ligt adalah aspek yang paling tidak menyenangkan dari pekerjaannya sebagai pelatih. “Jika ada satu hal yang membuat saya pusing, itu adalah bek tengah. Sayangnya, terkadang saya harus mencadangkan mereka,” ungkap Koeman.
Pada laga melawan Polandia, Koeman akhirnya memilih Stefan de Vrij, bek senior yang tampil gemilang dan baru saja meraih Scudetto bersama Inter Milan, untuk berduet dengan Van Dijk. Pilihan ini, menurutnya, murni berdasarkan pertimbangan taktik dan performa terkini De Vrij yang dianggap lebih sesuai dengan skema yang ingin ia terapkan.
“Saya telah berkomunikasi dengan Matthijs. Saya sering berhubungan dekat dengannya, karena dia orang yang meminta banyak masukan, apa yang perlu dia lakukan agar bisa dipanggil,” jelas Koeman, menekankan bahwa keputusannya adalah pilihan profesional, bukan karena masalah personal.
Bagaimana reaksi De Ligt? Tentu saja, sebagai seorang kompetitor sejati, ia merasa terkejut dan kecewa. Ia merasa telah memberikan segalanya dan menunjukkan performa yang solid bersama Bayern Munich sepanjang musim. Namun, di sinilah mentalitas seorang pemain top diuji.
Alih-alih merajuk, De Ligt menunjukkan profesionalisme tingkat tinggi. Ia menerima keputusan sang pelatih, meskipun itu berat. Sikapnya ini justru menuai pujian. Ia sadar bahwa di tim nasional yang dihuni oleh para pemain bintang, persaingan adalah hal yang tak terhindarkan. Terkadang, menjadi pemain yang “sangat bagus” saja tidak cukup jika ada pemain lain yang dianggap “lebih cocok” untuk strategi tertentu.
Kisah De Ligt ini lebih dari sekadar berita sepak bola. Ini adalah sebuah cerminan sempurna tentang realitas persaingan di level tertinggi, sebuah pelajaran yang sangat relevan bagi kita, Generasi Nusantara, yang sedang meniti karier di berbagai bidang.
- Kualitas Saja Tidak Cukup: Di dunia kerja yang kompetitif, memiliki skill yang hebat adalah sebuah keharusan, tetapi terkadang itu belum cukup. Ada faktor lain seperti kecocokan dengan budaya tim, kesesuaian dengan kebutuhan proyek, atau bahkan “kimia” dengan rekan kerja yang menjadi pertimbangan.
- Sikap Menerima Keputusan: Akan ada masanya kita merasa sudah memberikan yang terbaik, namun kesempatan justru jatuh ke tangan orang lain. Reaksi kita pada momen itulah yang akan mendefinisikan karakter kita. Sikap profesional De Ligt adalah contoh bagaimana mengelola kekecewaan dengan elegan.
- Terus Asah Diri: Dicadangkan bukan berarti akhir dari segalanya. Bagi De Ligt, ini adalah pelecut untuk berlatih lebih keras lagi dan membuktikan bahwa ia layak mendapatkan kembali posisinya. Begitu pula dalam karier kita, setiap penolakan atau kegagalan adalah kesempatan untuk introspeksi dan menjadi lebih baik.
Kini, semua mata akan tertuju pada laga Belanda selanjutnya. Apakah De Ligt akan mendapatkan kesempatannya? “Masalah kemewahan” yang dihadapi Ronald Koeman ini menjadi sebuah drama tersendiri yang menarik untuk diikuti, sekaligus menjadi bukti betapa kuatnya skuad Belanda dalam perburuan gelar juara Eropa tahun ini.









