
Sebuah peristiwa memilukan dan ironis datang dari Cirebon, Jawa Barat. Di tengah kekhusyukan suasana Masjid Raya At-Taqwa, salah satu ikon kebanggaan kota, terjadi sebuah insiden kriminal yang tak terduga. Pelakunya bukanlah preman jalanan, melainkan seorang pria berinisial ER (47), yang identitasnya kemudian membuat banyak pihak terhenyak: ia adalah putra dari seorang mantan Wali Kota Cirebon.
ER ditangkap oleh petugas keamanan masjid pada Selasa (7/10/2025) pagi, setelah gerak-geriknya yang mencurigakan terekam oleh kamera pengawas (CCTV). Dalam rekaman tersebut, ER terlihat mendekati rak penitipan sepatu, mengamati situasi, lalu dengan cepat mengambil sepasang sepatu milik salah seorang jamaah yang sedang menunaikan ibadah salat. Ia kemudian berusaha pergi, namun kesigapan petugas berhasil menghentikan aksinya.
Peristiwa ini sontak menjadi buah bibir, bukan karena nilai barang yang dicuri, melainkan karena latar belakang pelaku yang berasal dari keluarga terpandang. Ini adalah sebuah kisah tragis yang membuka tabir tentang kompleksitas masalah sosial yang bisa menimpa siapa saja, tanpa memandang status atau garis keturunan.
Menurut keterangan dari pihak Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) At-Taqwa, kasus pencurian di area masjid memang beberapa kali terjadi. Hal inilah yang mendorong mereka untuk meningkatkan sistem keamanan, termasuk memasang CCTV di berbagai titik strategis. Pemasangan kamera pengawas ini terbukti efektif. Petugas yang berjaga di ruang monitor melihat aksi ER secara langsung dan segera berkoordinasi untuk melakukan penangkapan di pintu keluar.
Saat diinterogasi, ER tidak bisa mengelak. Barang bukti berupa sepasang sepatu jamaah ada padanya. Yang lebih menyedihkan adalah motif di balik perbuatannya. Dari pengakuan awal, diduga kuat ER nekat mencuri karena terdesak masalah ekonomi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar di benak publik: bagaimana bisa seorang anak dari keluarga yang pernah memegang tampuk kekuasaan di kota tersebut jatuh ke dalam situasi yang begitu sulit?
Kasus ini kini telah diserahkan kepada pihak kepolisian setempat untuk diproses lebih lanjut. Polisi akan mendalami motif pelaku serta menyelidiki apakah ada faktor lain yang melatarbelakangi perbuatannya, seperti kemungkinan adanya masalah pribadi atau ketergantungan pada zat terlarang.
Kisah ER adalah sebuah cermin sosial yang pahit bagi kita semua. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kehidupan bisa berputar 180 derajat. Nama besar dan kemewahan masa lalu bukanlah jaminan untuk masa depan yang cerah. Setiap individu pada akhirnya bertanggung jawab atas jalan hidupnya sendiri.
Bagi kita, Generasi Nusantara, ada beberapa refleksi penting yang bisa dipetik:
- Tekanan dan Ekspektasi: Menjadi anak dari seorang tokoh publik seringkali datang dengan beban ekspektasi yang sangat berat. Tekanan untuk menyamai atau bahkan melebihi prestasi orang tua bisa menjadi bumerang yang menghancurkan jika tidak dikelola dengan baik.
- Pentingnya Kemandirian: Kisah ini menggarisbawahi betapa krusialnya membangun kemandirian finansial dan mental, terlepas dari latar belakang keluarga. Mengandalkan nama besar orang tua tanpa membangun kompetensi diri adalah fondasi yang sangat rapuh.
- Empati di Atas Hujatan: Di era media sosial, sangat mudah bagi kita untuk ikut menghakimi dan mencemooh. Namun, di balik sebuah tindakan kriminal, seringkali ada kisah keputusasaan, masalah kesehatan mental, atau kesulitan hidup yang tidak terlihat. Alih-alih menghujat, mari kita jadikan ini momen untuk meningkatkan kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar kita.
Peristiwa di Masjid Raya At-Taqwa ini adalah tragedi kemanusiaan dalam skala mikro. Ia bukan hanya cerita tentang seorang pencuri sepatu, tetapi tentang jatuhnya seorang manusia yang mungkin pernah memiliki segalanya. Semoga kasus ini bisa ditangani dengan adil dan menjadi pelajaran berharga bagi kita semua untuk tidak pernah lengah dan selalu berjuang membangun nilai diri yang otentik.









