
Alam kembali menunjukkan kekuatannya di tanah air kita. Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami erupsi pada Selasa (7/10/2025) pagi. Peristiwa ini bukan sekadar fenomena alam yang menakjubkan, tetapi juga berdampak serius pada konektivitas dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Akibat semburan abu vulkanik yang membubung tinggi, dua bandara penting di wilayah tersebut terpaksa ditutup total.
Dampak langsung dari erupsi ini adalah kelumpuhan pada sektor transportasi udara. Otoritas penerbangan dengan sigap mengeluarkan Notice to Airmen (NOTAM), sebuah pengumuman resmi bagi para pilot dan maskapai di seluruh dunia. Isinya jelas: Bandara Wunopito di Lewoleba dan Bandara Gewayantana di Larantuka, Flores Timur, dinyatakan tidak aman untuk aktivitas penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan.
Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Abu vulkanik merupakan musuh utama bagi mesin pesawat jet. Partikel-partikel kecilnya yang tajam bisa masuk ke dalam mesin, meleleh karena suhu tinggi, lalu membeku menjadi lapisan kaca yang bisa menyebabkan mesin mati total. Keselamatan penumpang dan kru pesawat adalah prioritas tertinggi yang tidak bisa ditawar.
Menurut laporan dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, kolom abu teramati mencapai ketinggian sekitar 700 meter di atas puncak. Angin yang bertiup ke arah barat daya membawa sebaran abu vulkanik ini tepat ke jalur penerbangan dan area di sekitar kedua bandara tersebut. Inilah yang menjadi dasar utama penutupan operasional bandara.
Bagi masyarakat di Lembata dan Flores Timur, bandara bukan hanya gerbang untuk bepergian, tetapi juga urat nadi perekonomian dan akses darurat. Penutupan ini berarti terhambatnya arus logistik, penundaan perjalanan bisnis, dan yang paling krusial, ketidakpastian bagi para pelancong dan warga lokal yang sudah memiliki jadwal penerbangan. Ratusan penumpang kini dilaporkan terdampak, menunggu kabar kapan langit akan kembali aman untuk dilalui.
Pihak maskapai dan otoritas bandara kini tengah berkoordinasi untuk menangani situasi ini. Opsi yang biasanya tersedia bagi penumpang adalah reschedule (penjadwalan ulang) tanpa biaya tambahan atau refund (pengembalian dana tiket). Namun, bagi mereka yang memiliki urusan mendesak, ini tetap menjadi sebuah tantangan besar.
Kejadian ini adalah pengingat nyata bahwa kita hidup di wilayah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire). Indonesia adalah rumah bagi 127 gunung api aktif, sebuah fakta geografis yang memberi kita kesuburan tanah luar biasa, namun juga menuntut kita untuk selalu siaga menghadapi potensi bencana.
Bagi kita, Generasi Nusantara, terutama yang gemar traveling atau sering bepergian menggunakan pesawat, peristiwa seperti ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, pentingnya memiliki asuransi perjalanan. Di saat-saat tak terduga seperti ini, asuransi bisa membantu menutupi kerugian akibat pembatalan penerbangan atau akomodasi.
Kedua, fleksibilitas dalam merancang itinerary perjalanan. Saat bepergian ke daerah yang memiliki gunung api aktif, selalu siapkan rencana cadangan. Cari tahu alternatif transportasi darat atau laut jika sewaktu-waktu penerbangan dibatalkan.
Ketiga, pentingnya memantau informasi dari sumber yang kredibel. Di era digital ini, informasi hoaks bisa menyebar dengan cepat. Selalu rujuk informasi dari lembaga resmi seperti BMKG, PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), dan pengumuman resmi dari maskapai atau pihak bandara.
Saat ini, status Gunung Ile Lewotolok berada pada Level III atau ‘Siaga’. Masyarakat dan pengunjung diimbau untuk tidak memasuki dan tidak melakukan aktivitas di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas kawah. Mari kita doakan saudara-saudara kita di Lembata dan sekitarnya agar selalu dalam kondisi aman dan semoga aktivitas vulkanik segera mereda, sehingga denyut kehidupan dan konektivitas di sana dapat kembali normal.









