
Para pencinta sepak bola Italia di seluruh dunia menantikan laga akbar antara Juventus dan AC Milan pada Minggu (5/10/2025) malam dengan ekspektasi tinggi. Sebuah grande partita, sebuah duel klasik yang menjanjikan pertarungan sengit, gol-gol indah, dan drama. Namun, setelah 90 menit plus injury time di Allianz Stadium, yang tersisa hanyalah rasa frustrasi dan skor kacamata 0-0.
Laga yang seharusnya menjadi panggung bagi para bintang ini justru menjadi teater bagi peluang-peluang yang terbuang sia-sia. Puncaknya, momen yang seharusnya menjadi penentu kemenangan bagi AC Milan berubah menjadi petaka saat Christian Pulisic, sang bintang Amerika yang sedang on-fire, gagal mengeksekusi tendangan penalti.
Bagi kedua tim, hasil imbang ini terasa seperti kekalahan. Milan kehilangan kesempatan emas untuk mencuri tiga poin di kandang lawan, sementara Juventus melanjutkan tren kurang meyakinkan mereka. Mari kita bedah momen-momen krusial dari malam yang penuh antiklimaks di Turin.
Momen paling dramatis dan yang akan paling diingat dari laga ini terjadi pada menit ke-53. AC Milan, yang tampil lebih berbahaya di babak kedua, mendapatkan hadiah penalti setelah Santiago Gimenez dijatuhkan secara ceroboh oleh bek Juventus, Lloyd Kelly. Ini adalah kesempatan emas. Seluruh beban kini berada di pundak Christian Pulisic, pemain yang sedang dalam performa terbaiknya dan menjadi tumpuan utama Rossoneri musim ini.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah pemandangan yang jarang terlihat. Pulisic, yang maju sebagai eksekutor, melepaskan tendangan yang terlalu kencang dan melambung jauh di atas mistar gawang yang dijaga Michele Di Gregorio. Seisi stadion bergemuruh, para pemain Juventus bernapas lega, sementara Pulisic hanya bisa menunduk lesu, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Kegagalan ini, yang baru merupakan kegagalan penalti kedua sepanjang karier profesionalnya, menjadi titik balik yang meruntuhkan momentum Milan.
Di luar drama penalti, pertandingan secara keseluruhan berjalan sangat ketat dan cenderung alot. Kedua tim sama-sama menunjukkan pertahanan yang solid dan disiplin, namun hal itu justru mengorbankan kreativitas di lini depan.
Juventus, di bawah asuhan Igor Tudor, sedikit lebih unggul dalam penguasaan bola (51% berbanding 49%), namun mereka kesulitan menciptakan peluang bersih. Trio penyerang mereka, Kenan Yildiz, Francisco Conceicao, dan Jonathan David, seolah tak berdaya menghadapi rapatnya barisan pertahanan Milan yang dikomandoi Matteo Gabbia.
Di sisi lain, AC Milan di bawah arahan Massimiliano Allegri—yang notabene adalah mantan pelatih Juventus—terlihat lebih berbahaya saat melakukan serangan balik. Namun, penyelesaian akhir yang buruk menjadi masalah utama mereka. Sebuah peluang emas dari Rafael Leao di babak kedua juga terbuang percuma. Statistik Expected Goals (xG) menunjukkan Milan (1.74 xG) seharusnya bisa mencetak gol dibandingkan Juventus (0.68 xG), yang semakin menegaskan betapa frustrasinya malam itu bagi tim tamu.
Sobat Beranjak, hasil 0-0 ini meninggalkan banyak pekerjaan rumah bagi kedua tim raksasa ini.
- Bagi AC Milan: Mereka harus segera memperbaiki efektivitas di depan gawang. Memiliki banyak peluang di laga sebesar ini namun gagal mencetak satu gol pun adalah sebuah dosa besar dalam perburuan gelar Scudetto. Kegagalan penalti Pulisic juga menjadi ujian mental bagi sang pemain.
- Bagi Juventus: Meskipun berhasil mencatatkan cleansheet kelima beruntun melawan Milan (sebuah rekor defensif yang luar biasa), mereka harus segera menemukan kembali ketajaman di lini serang. Tren lima hasil imbang beruntun di semua kompetisi adalah sebuah alarm bahaya.
Bagi kita para penonton, laga ini mungkin tidak memenuhi ekspektasi dari segi hiburan. Namun, ia memberikan pelajaran berharga tentang betapa krusialnya mental dan ketenangan dalam sepak bola level tertinggi. Satu momen kegagalan, seperti yang dialami Pulisic, bisa mengubah segalanya.
Kini, kedua tim akan memasuki jeda internasional dengan perasaan campur aduk. Mereka harus segera berbenah jika tidak ingin tertinggal lebih jauh dari para pesaingnya di papan atas klasemen Serie A.









