
Ada malam-malam di mana semua rencana indah seolah hancur berantakan. Itulah yang dialami oleh Barcelona pada Minggu (5/10/2025) malam. Bertandang ke markas angker Sevilla, Ramon Sanchez-Pizjuan, skuad asuhan Hansi Flick yang sedang dalam tren positif justru harus pulang dengan kepala tertunduk lesu setelah menelan kekalahan perdana mereka di Liga Spanyol musim ini dengan skor yang sangat telak: 4-1.
Ini bukan sekadar kekalahan. Ini adalah sebuah anomali, sebuah penampilan ambyar di mana segalanya terasa serba salah. Dari penalti kontroversial, lini pertahanan yang rapuh, hingga sang mesin gol andalan, Robert Lewandowski, yang justru menjadi pesakitan setelah gagal mengeksekusi penalti di momen krusial. Satu-satunya secercah harapan di malam yang kelam itu datang dari gol indah sang pemain pinjaman, Marcus Rashford.
Bagi para Cules dan penikmat La Liga, hasil ini adalah sebuah kejutan besar. Sebuah pengingat brutal bahwa konsistensi adalah kunci termahal dalam perburuan gelar. Mari kita bedah lebih dalam bagaimana malam horor bagi Raksasa Catalan ini bisa terjadi.
Sejak awal, Sevilla di bawah arahan pelatih Matias Almeyda memang menunjukkan agresi tingkat tinggi. Mereka menekan setiap jengkal lapangan, tak membiarkan para gelandang Barca bernapas. Petaka bagi tim tamu datang lebih cepat dari yang dibayangkan. Pada menit ke-13, Ronald Araujo dianggap melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Wasit, setelah meninjau VAR, menunjuk titik putih. Alexis Sanchez, mantan pemain Barca, maju sebagai eksekutor dan dengan dingin sukses menaklukkan Wojciech Szczesny.
Gol cepat ini seolah meruntuhkan mental para pemain Blaugrana. Lini belakang mereka menjadi panik dan mudah ditembus. Hasilnya, pada menit ke-36, Isaac Romero berhasil menggandakan keunggulan Sevilla, membuat seisi stadion bergemuruh.
Di tengah babak pertama yang mengerikan itu, secercah harapan sempat muncul di penghujung waktu. Tepat di masa injury time (45+7′), Marcus Rashford menunjukkan kelasnya. Menerima umpan matang dari Pedri, pemain pinjaman dari Manchester United ini melepaskan sebuah tendangan voli keras dan indah yang menghujam gawang Sevilla. Gol tersebut memperkecil ketertinggalan menjadi 2-1 dan seolah akan menjadi momentum kebangkitan di babak kedua. Penampilan Rashford yang penuh semangat juang menjadi satu-satunya hal positif, memberikannya rating tertinggi (8/10) di antara rekan-rekannya yang tampil di bawah standar.
Babak kedua, Barcelona mencoba bangkit. Hansi Flick melakukan beberapa perubahan dan timnya berhasil mendominasi penguasaan bola. Kesempatan emas yang ditunggu-tunggu pun tiba pada menit ke-76. Wasit kembali menunjuk titik putih, kali ini untuk Barcelona. Ini adalah momennya. Momen di mana sang predator, Robert Lewandowski, bisa menyamakan kedudukan dan mengubah total arah pertandingan.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah antiklimaks yang menyakitkan. Eksekusi penalti Lewandowski, yang biasanya sangat akurat, justru melebar dari gawang. Kegagalan ini seolah menjadi paku terakhir bagi peti mati Barcelona malam itu. Momentum yang sudah dibangun susah payah langsung runtuh seketika. Lewandowski, yang tampil frustrasi sepanjang laga, harus rela menjadi pemain dengan rating terburuk (4/10).
Setelah kegagalan penalti itu, permainan Barca menjadi kacau. Sevilla dengan cerdik memanfaatkan situasi dan berhasil menambah dua gol lagi di menit-menit akhir melalui Jose Angel Carmona (90′) dan Akor Adams (90+6′), mengunci kemenangan telak 4-1.
Kekalahan perdana yang sangat telak ini adalah sebuah tamparan keras bagi Hansi Flick. Meskipun ia mencoba membela sistem permainannya, rapuhnya lini pertahanan dan tumpulnya penyelesaian akhir menjadi pekerjaan rumah yang sangat besar. Absennya pemain kunci seperti Lamine Yamal karena cedera memang berpengaruh, namun itu tak bisa menjadi satu-satunya alasan atas pembantaian ini.
Sobat Beranjak, musim masih panjang. Setiap tim besar pasti pernah mengalami malam yang buruk. Kini, ujian sesungguhnya bagi Hansi Flick dan pasukannya adalah bagaimana mereka bisa bangkit dari keterpurukan ini. Apakah mereka akan terpuruk lebih dalam, atau justru menjadikan kekalahan menyakitkan ini sebagai bahan bakar untuk kembali lebih kuat? Satu hal yang pasti, perburuan gelar La Liga musim ini akan menjadi semakin panas dan tak terduga!









