
Di tengah hiruk pikuk berita kriminal yang seringkali diisi dengan kisah kejar-kejaran antara polisi dan pelaku kejahatan, sebuah peristiwa yang sangat tidak biasa terjadi di Mapolres Lubuklinggau. Seorang pria bernama Heriyanto (34) datang seorang diri bukan untuk melapor, melainkan untuk menyerahkan diri. Pengakuannya sontak membuat para petugas yang berjaga terkejut: ia mengaku pernah mencuri sepeda motor enam tahun yang lalu.
Kisah ini viral dan menjadi perbincangan hangat, bukan karena aksi kejahatannya, tetapi karena keberaniannya untuk menghadapi masa lalu. Peristiwa yang terjadi pada Minggu, 5 Oktober 2025 ini adalah sebuah drama pertobatan yang jarang terjadi. Ini adalah cerita tentang bagaimana rasa bersalah bisa menjadi ‘hantu’ yang terus mengejar, dan bagaimana menyerahkan diri kepada hukum menjadi satu-satunya jalan untuk menemukan ketenangan.
Bagi kita, Generasi Nusantara, yang hidup di zaman yang serba cepat, kisah Heriyanto adalah sebuah jeda. Sebuah momen refleksi tentang konsep dosa, penebusan, dan keberanian untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatan kita, sepahit apa pun konsekuensinya.
Bayangkan betapa terkejutnya petugas SPKT Polres Lubuklinggau saat Heriyanto, warga Kelurahan Taba Jemekeh, dengan tenang masuk dan mengakui perbuatannya. Ia menceritakan dengan detail bagaimana pada tahun 2019 silam, ia bersama seorang rekannya (yang kini telah meninggal dunia) mencuri sebuah sepeda motor Honda Beat di kawasan Jalan Nangka Lintas, Kelurahan Ponorogo.
Saat itu, ia berperan sebagai pengawas situasi, sementara rekannya menjadi eksekutor yang merusak kunci kontak motor. Motor hasil curian itu kemudian mereka jual seharga Rp 2,5 juta, dan Heriyanto mendapatkan bagian Rp 1 juta. Uang yang mungkin habis dalam sekejap, namun meninggalkan jejak dosa yang membayangi hidupnya selama enam tahun.
Kapolres Lubuklinggau, AKBP Indra Arya Yudha, melalui Kasat Reskrim AKP Hendrawan, membenarkan peristiwa langka ini. “Benar, pelaku datang sendiri ke SPKT dan mengakui perbuatannya. Saat ini pelaku sudah kami amankan untuk proses lebih lanjut,” ujar Hendrawan.
Apa yang mendorong Heriyanto untuk akhirnya menyerah setelah bertahun-tahun hidup bebas? Dari pengakuannya, terungkap bahwa ia tidak pernah bisa hidup tenang. Bayang-bayang perbuatannya terus menghantui, membuatnya merasa gelisah dan tidak nyaman. Rasa bersalah ini menjadi beban psikologis yang jauh lebih berat daripada hukuman penjara itu sendiri.
“Selama ini saya tidak tenang, Pak. Selalu kepikiran terus,” begitulah kira-kira pengakuan tulusnya kepada penyidik. Kisahnya menjadi bukti nyata bahwa kejahatan mungkin bisa lolos dari jerat hukum untuk sementara waktu, tetapi tidak akan pernah bisa lari dari pengadilan hati nurani. Pilihan Heriyanto untuk menyerahkan diri adalah upayanya untuk ‘membayar utang’ masa lalunya, sebuah langkah pertama untuk memulai lembaran hidup yang baru dengan hati yang lebih ringan, meskipun harus dilalui dari balik jeruji besi.
Sobat Beranjak, kisah Heriyanto dari Lubuklinggau ini bisa kita lihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi hukum, ini menunjukkan bahwa kejahatan tidak memiliki masa kedaluwarsa dan akan selalu ada pertanggungjawaban yang harus ditunaikan.
Namun, dari sisi kemanusiaan, ini adalah pelajaran yang jauh lebih dalam. Ini tentang keberanian untuk mengakui kesalahan, sebuah hal yang seringkali lebih sulit daripada melakukan kejahatan itu sendiri. Di era di mana banyak orang memilih untuk mencari pembenaran atau menyalahkan orang lain, sikap ksatria Heriyanto, meskipun ia seorang pelaku kriminal, patut menjadi bahan renungan.
Kisah ini juga menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya berpikir panjang sebelum bertindak. Uang Rp 1 juta yang didapat Heriyanto dari hasil kejahatan mungkin telah memberinya kesenangan sesaat, namun ia harus membayarnya dengan kegelisahan selama enam tahun dan kini, ancaman hukuman penjara.
Semoga langkah yang diambil Heriyanto ini benar-benar menjadi awal dari sebuah pertobatan yang tulus. Dan bagi kita semua, semoga kisahnya menjadi benteng yang akan selalu mengingatkan kita untuk tetap berjalan di jalan yang lurus. Karena ketenangan batin adalah harta yang jauh lebih berharga dari apa pun yang bisa didapat dari jalan pintas yang salah. Mari kita Beranjak untuk selalu memilih jalan kejujuran.









