
Emirates Stadium pada Sabtu (4/10/2025) malam menjadi sebuah teater dengan dua babak cerita yang kontras: euforia kemenangan yang membawa Arsenal ke puncak klasemen Liga Inggris, namun diiringi dengan kecemasan mendalam akan cederanya sang jenderal lapangan tengah, Martin Odegaard. Kemenangan 2-0 atas rival sekota, West Ham United, terasa manis sekaligus pahit.
Manis, karena tiga poin ini diraih dengan penampilan dominan dan salah satu gol dicetak oleh Declan Rice, sang mantan kapten The Hammers yang kini menjadi idola baru The Gunners. Pahit, karena untuk ketiga kalinya secara beruntun, Martin Odegaard harus ditarik keluar lapangan sebelum babak pertama usai, mencatatkan sebuah rekor aneh yang tak diinginkan dalam sejarah Liga Premier.
Bagi para Gooners dan penikmat sepak bola, laga ini adalah sebuah rollercoaster emosi. Sebuah pertunjukan tentang bagaimana kebahagiaan dan kekhawatiran bisa datang silih berganti hanya dalam 90 menit. Mari kita bedah drama yang terjadi di London Utara ini.
Sejak awal laga, semua mata tertuju pada Declan Rice. Menghadapi klub yang membesarkan namanya untuk pertama kali di kandang sendiri sebagai lawan adalah sebuah ujian mental yang berat. Cemoohan dari para suporter tamu yang datang sudah terdengar bahkan sebelum ia menyentuh bola. Namun, Rice menjawabnya dengan cara yang paling elegan: penampilan berkelas di atas lapangan.
Ia menjadi jantung permainan Arsenal, mendikte tempo, memutus serangan lawan, dan menjadi motor transisi dari bertahan ke menyerang. Puncaknya terjadi pada menit ke-38. Berawal dari sepakan Eberechi Eze yang berhasil ditepis kiper West Ham, Alphonse Areola, bola muntah jatuh tepat di kaki Rice. Tanpa ampun, ia menyambarnya ke gawang yang kosong.
Stadion Emirates meledak dalam euforia. Namun, di tengah kegembiraan rekan-rekannya, Rice hanya berdiri, mengangkat kedua tangannya, dan menolak untuk merayakan gol tersebut. Sebuah gestur hormat yang mendalam untuk klub dan para suporter yang pernah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Sebuah momen yang menunjukkan kelas dan kedewasaan seorang profesional sejati. Rating 8/10 untuk penampilannya yang dominan dan penuh wibawa.
Di tengah dominasi Arsenal, sebuah insiden pada menit ke-30 membuat seluruh stadion terdiam. Martin Odegaard, sang kapten dan dirigen permainan Arsenal, terkapar setelah berbenturan lutut dengan pemain West Ham. Setelah mencoba untuk melanjutkan, ia akhirnya menyerah dan harus digantikan oleh Martin Zubimendi.
Ini adalah sebuah pukulan telak bagi Arsenal. Namun, yang lebih mencengangkan adalah statistik yang menyertainya. Ini adalah kali ketiga secara beruntun dalam tiga laga starternya, Odegaard harus diganti sebelum babak pertama berakhir. Sebuah “rekor” yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Liga Premier, menandakan betapa nasib sial sedang akrab dengan sang kapten. Pelatih Mikel Arteta pun tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pasca laga.
Untungnya, kehilangan sang kapten tidak membuat Arsenal goyah. Mereka terus menekan di babak kedua dan hasilnya, pada menit ke-58, mereka mendapatkan hadiah penalti. Bukayo Saka yang maju sebagai eksekutor, dengan dingin sukses menaklukkan Areola, mengubah skor menjadi 2-0 dan menyegel kemenangan The Gunners.
Gol ini juga menjadi catatan spesial bagi Saka. Dalam penampilannya yang ke-200 di Liga Premier, gol tersebut menandai keterlibatan ke-100-nya dalam gol (gabungan gol dan assist) untuk Arsenal di kompetisi ini, sebuah pencapaian luar biasa bagi pemain yang baru berusia 24 tahun.
Kemenangan ini membawa Arsenal untuk sementara merebut puncak klasemen dari tangan Liverpool. Namun, pesta mereka sedikit terganggu dengan bayang-bayang cedera sang kapten. Bagi Generasi Nusantara yang mengidolakan Arsenal, ini adalah momen untuk merayakan kemenangan, sekaligus memanjatkan doa. Semoga cedera Odegaard tidak parah, karena tanpa sang maestro di lini tengah, perjalanan Arsenal untuk memburu gelar juara musim ini akan terasa jauh lebih terjal.









